[Novel Romantis] Saira Ch. 17 (1/4)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar


Rush Hours


“Kamu berada di mana-mana, Azid,” Saira lah yang pertama kali menyapaku saat aku malah terpaku berusaha memahami kenapa ini bisa terjadi lagi; pertemuan ini.
“Harusnya aku yang bilang begitu,” aku membalasnya. Kusadari bahwa ini memang bukan mimpi. Namun pikiranku kembali kacau sampai aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padanya. “Kamu muncul seperti itu, seperti jatuh dari langit ....”

Saira tertawa renyah. Dia kembali menatapi putranya. “Hari ini kamu nggak nakal ‘kan?” tanya dia pada putranya lalu mengabaikanku.
“Ada yang mengambil bonekaku...,” kata Sunny.
“terus?”
“Aku pukul aja...,”
“Bagus,” kata Saira. “Kamu nggak boleh biarin ada orang yang mengganggu kamu.”
“Ajaran apa sih itu?” aku menyela dan Saira mendongak dengan kesal padaku.
Dia bangkit sambil menggendong Sunny agar bisa tetap memeluknya. Sungguh, di mataku pemandangan itu terasa ajaib. “Kamu magang?” tanya dia, skeptis.
“Aku gurunya,” jawabku setengah protes dengan kata-kata ‘magang’. Dia menyadarkanku bahwa sifatnya yang dulu tidak semuanya berubah.
Saira tampak kaget. Lalu tertawa melecehkan, “Sidney Adams sekarang jadi guru SD?”
Aku menghela nafas. “Sekarang bilang kenapa kamu harus melompat pagar kalau cuma mau ketemu sama anak kamu?” tanyaku menjadi tidak sabaran karena ada banyak pertanyaan lain di kepalaku dan pertanyaan terbesarku adalah darimana asalnya anak itu? Maksudku siapa ayahnya? Seingatku Anna pernah mengatakan bahwa di data siswa hanya ada nama ibunya. “Aku tahu kamu dari dulu hobi memanjat pagar, tapi kalau itu berlanjut sampai sekarang itu membingungkan. Kamu nggak sedang mendramatisir keadaan supaya kelihatan keren ‘kan?”
“Azid bodoh!” timpalnya. “Gimana aku bisa jawab pertanyaan kamu kalau kamu ngomongnya kepanjangan?!”
“Kamu bilang aku bodoh?” aku sedikit tak terima sementara Saira menatapku kesal seakan dia ingin mengajakku bertengkar. “Aku benar-benar bingung. Kamu ... kamu nggak pernah bilang kalau kamu punya anak! Dan... dan kapan kamu....”
“Sunny?!” suara Anna mengagetkanku. “Sunny? Kamu di mana, Sayang?!”
“Sial!” gerutu Saira yang segera menurunkan Sunny. Ia mulai menggeledah sekitar dengan matanya; tampak mencari tempat sembunyi. “Kalau ketahuan bisa gawat!”
Sunny juga ikut panik.
Aku paham, sepertinya walaupun Saira ibunya Sunny, dia bukan pengunjung yang terverifikasi. Dia berlari kalang kabut ke sudut di mana ada tempat tersembunyi; gudang belakang.
Anna pun muncul. Dia lega saat melihat Sunny bersamaku. “Di sana rupanya. Kamu benar-benar bikin khawatir,” katanya sambil menghampiri. “Supirnya udah datang. Ayo!”
Sunny dengan patuh mengikuti. Dia berjalan lebih dulu di depan Anna.
Anna tampak menghela nafas, “Ada-ada aja. Dia selalu menghilang setiap jam pulang sekolah dan pergi ke sini. Sepertinya nggak mau pulang...,” jelasnya.
“Ah ya, sepertinya dia nggak suka pulang,” balasku seadanya.
Kemudian Anna melangkah pergi. Saat aku masih berdiri saja, dia pun menoleh sambil mengernyit. “Kamu masih ada keperluan di sana?” tanya dia heran; mungkin seharusnya aku ikut ke depan bersamanya mengawasi anak-anak.
“Ah ya, aku... aku akan ke sana sebentar lagi,” kataku, melirik gudang di mana Saira terlihat mengintip; barangkali memastikan bahwa aku tidak mengadukan seorang penyusup.
“Oke,” sahut Anna namun masih menatapku curiga.
Saira keluar dari persembunyian setelah Anna benar-benar sudah jauh. Dan yang aku herankan adalah pertemuan dengan anaknya hanya seperti itu saja. Singkat dan tergesa-gesa? Kenapa bisa begitu?
“Sepertinya aku harus pergi,” kata dia, tampak bersiap-siap; bukan dengan melewati koridor dan aku juga tidak yakin dia akan melompati pagar lagi. Dan yang juga masih menjadi misteri adalah bagaimana cara dia melakukannya?
Tapi belum sempat aku menyelesaikan pertanyaanku, Saira sudah mengambil ancang-ancang. Dia mengambil jarak yang jauh dari pagar sebelum melesat cepat; seperti angin. Aku termangu dengan gerakannya yang cepat; seperti kera yang memanjat. Dia sempat melangkahkan kakinya di dinding sebelum kedua tangannya meraih ujung pagar dan dia memanjat hingga akhirnya berada di atas. Hanya dalam hitungan lima detik. Apa dia seorang atlet Parkour?
“Hei!” panggilku. Aku tidak siap jika pertemuan yang walaupun tak pernah diharapkan ini selalu saja berakhir singkat. “Kamu selalu seperti itu? Menghilang?”
“Terus apa yang kamu harapkan, Azid?” tanya dia, terdengar mengejek.
“Apa kamu akan terus menyisakan banyak pertanyaan yang nggak bisa terjawab?” balasku.
Dia memutar matanya, kembali terlihat gerah. “Oke, aku tunggu di sini,” katanya sebelum melompat turun. Lalu hening. Sepertinya dia sudah menyentuh tanah di balik dinding ini.
***




Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments