๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Gigi tidak berubah sejak dari rumah hingga kami tiba di sebuah restoran Italia untuk makan malam. Pelayan sudah menyiapkan tempat khusus dengan lilin yang menyala dan diringi suara biola yang mendayu-dayu. Dia makan hidangannya dengan sangat pelan namun tampak tidak menikmatinya. Padahal makanan Italia adalah salah satu favoritnya.
“Kamu nggak suka makanannya?” tanyaku.
Gigi tidak menjawab; malah cenderung mengabaikanku dengan tidak mau menatap wajahku. Dia mulai memainkan spageti nya dengan garpu dan sepertinya tidak lagi tertarik untuk makan. Seolah mendengar suaraku membuatnya kehilangan nafsu makan.
“Gi?” tegurku, sambil menggenggam tangannya di atas meja. Tapi dia menariknya. “Sampai kapan kamu mau seperti ini?”
Lagi-lagi, dia bungkam. Menghindari wajahku adalah bentuk pertahanannya. Aku tidak tahu apa betul yang membuatnya sedemikian marah.
“Kamu harus melepaskannya...,” ujarku.
Akhirnya Gigi menatapku juga, namun tajam. “Kenapa aku harus melepaskannya?” tanya dia ketus. “Kenapa kamu minta aku melepaskannya? Kamu bisa mengejar keinginan kamu lalu kenapa aku harus berhenti?”
“Terus apa yang akan kamu lakukan?” tanyaku.
“Aku akan mencari dia. Kalau perlu aku akan buat dia merasakan apa yang aku rasakan saat ini!” katanya.
Dia? Aku yakin yang dia maksud adalah Saira.
“Gigi, lupakan semuanya! Kita bisa hidup tenang kalau saja kamu bisa menerima kenyataan...,”
“Kenyataan ini terlalu pahit, Sidney!” teriaknya; sampai-sampai ia berdiri dari kursi sambil melotot padaku.
Pemain biola pun sampai ikut terkejut dan sempat berhenti bermain sejenak. Namun dia melanjutkannya.
“Ini hanya cobaan, Magisa!” kataku. “Seberat apa pun itu kita selalu menghadapinya bersama. Kamu pernah melalui yang lebih buruk dari ini tapi kenapa kamu sekarang merasa bahwa semuanya berakhir?! Kamu masih punya aku ‘kan?! Untuk apa pekerjaan itu?!”
“Itu mimpiku, Sidney! Mimpiku!” dia berteriak. “Kamu yang dari lahir sudah memiliki segalanya nggak akan mengerti apa itu impian!”
Aku ikut berdiri. “Aku sama sekali nggak ngerti dengan jalan pikiran kamu!” teriakku; aku sendiri tidak menyangka bahwa aku akan terpancing emosi. “Hal buruk terjadi karena suatu alasan! Harusnya kamu mengerti itu!”
“Begitu? Apa kamu mencoba mengatakan bahwa apa yang terjadi dalah salahku?! Karena aku jahat sama dia?! Atau karena aku mengambil kamu darinya?!”
“Cukup, Gigi! Aku berusaha untuk menenagkan kamu! Tapi, kamu nggak pernah mau ngerti!”
Malam yang harusnya menjadi malam yang indah bagiku berakhir dengan sangat menyedihkan. Kami pulang dalam kebisuan; bahkan bertemu mata pun tidak. Aku benar-benar sudah kehilangan akal. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Lagipula apapun yang akan kulakukan dia tidak peduli; dia tidak menghargainya.
Aku benar-benar sangat lelah terlebih ketika menemukan mawar pemberianku sudah berpindah dari tempat tidur ke tong sampah. Entah kekecewaan apa lagi yang harus kudapatkan setelah ini.
***


Komentar
0 comments