[Novel Romantis] Saira Ch. 17 (3/4)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Aku diam. Aku tidak suka dia membicarakan Gigi walau itu kenyataan; kenyataan yang amat pahit baginya.
“Aku nggak asal menuduh, lho. Menurut kamu siapa yang lebih lama kenal si kawat gigi?” kata dia. “Aku tahu sifatnya. Dia perfeksionis, higienis, dan klimis!”
“Dia udah nggak pakai behel lagi,” kataku, menyela.
“Apa dengan begitu dia sudah kelihatan cantik? Seperti yang dia mau?”
“Aku nggak mau ngomongin itu,” tukasku, mulai kesal. Gigi adalah istriku sekalipun Saira yang mengejeknya, aku tetap tidak bisa terima.
“Kenapa? Apa kita ini sedang pergi selingkuh?” balas Saira, dia juga terlihat sebal.
“Jaga ucapan kamu, Saira!” celetukku.
Saira menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan lelah. Dia menatapku seperti mulai bosan bicara denganku; dan anehnya aku sedikit khawatir setelah ini dia akan pergi dan menghilang. “Kamu bertanya tentang kehidupanku terlalu banyak, apa aku nggak boleh bertanya tentang kehidupan kamu juga?” dia bertanya, nada suaranya melunak. “Ya, sekali pun yang kamu bicarakan itu adalah tentang orang yang membuat hidupku benar-benar kacau. Tapi, sudahlah, aku sudah nggak mempermasalahkannya lagi.”
“Apa yang ingin kamu tanyakan?” aku pun berusaha untuk tenang kembali.
“Aku nggak mau bertanya sama orang yang kelihatannya nggak suka ditanyai,” jawab dia sambil melirik jam dinding. Sepertinya dia juga mencemaskan hari yang mulai sore. “Lagipula kamu harus pulang. Aku tahu kamu juga gelisah sejak tadi.”
Aku ikut menarik nafas panjang. “Kamu tahu apa yang terjadi padanya belakangan ini?”
“Apa? Kupikir kalian hidup bahagia selamanya. Apa lagi? Menikah, punya anak, hidup bergelimang harta, apa yang kurang?” jawab Saira terdengar sarkastis.
“Kami nggak bisa mempunyai anak, itu kenyataannya,” jelasku menatapnya dan menemukan dia terkejut lalu tampak prihatin. “Punya harta sebanyak apa pun, tanpa seorang anak semuanya jadi nggak berarti.”
Saira berhenti berbicara. Dia hanya memandangiku dan tampak merasa bersalah.
“Kamu lebih beruntung, bisa punya seorang anak walaupun menurut kamu kehidupan kamu sepenuhnya kacau. Dia menjadi alasan bagi kamu untuk bangkit...,” kataku dengan hampa.
“Itu bukan kesalahan kamu.,” ujar Saira tiba-tiba dan dia menatapku lekat-lekat. “Dia yang nggak bisa punya anak...,”
“Ya, tapi apa aku berhak untuk punya anak dari wanita lain?” balasku dan Saira tertegun.
Beberapa saat dia terdiam menatapku seakan ingin mengatakan sesuatu namun ragu-ragu.
“Apa kamu tahu hal berat apa yang terjadi padanya beberapa waktu lalu dan itu ada hubungannya dengan ibu kamu?”
“Apa?” Saira sepertinya memang tidak tahu karena dia kelihatan terkejut.
“Ibu kamu membuat dia tidak bisa diterima di perusahaan property mana pun dan itu adalah impian terbesarnya. Mereka ketemu secara kebetulan. Gigi mempresentasikan design apartmen yang dia buat tapi dia sama sekali nggak tahu bahwa kliennya adalah ibu kamu,” aku menjelaskan. “Dia membalaskan dendam atas apa yang sudah terjadi sama kamu, Saira.”
“Kenapa Mama-ku melakukan hal yang kekanakan begitu?” dia malah menatapku heran lalu mendecak kesal. “Itu benar-benar nggak lucu, Azid!”
“Itulah yang terjadi sampai Gigi terguncang,” kataku.
Saira mengangguk-angguk. “Oke, pantas dari tadi kamu gelisah... sepertinya kamu butuh pulang,” kata dia.
Ya, aku ingin tapi aku juga tidak ingin mengakhiri pertemuan. Aku selalu takut; Ya Tuhan, aku takut dia menghilang lagi.
Saira berdiri dari kursinya. Dia sudah siap untuk pergi dan anehnya dia tersenyum, “Kamu harus membuatnya merasa lebih baik,” kata dia. “Beli bunga mungkin. Tapi, jangan bunga matahari,” candanya.
Aku ikut tertawa. Saira tidak tahu secemburu apa Gigi pada bunga matahari yang ada di kantorku. “Apa kita akan bertemu lagi di sebuah kebetulan lain?” aku bertanya saat dia membalikan badannya.
“Nggak akan ada kebetulan lagi, Azid....” dia berkata, seperti menjanjikan sesuatu. “Aku sih ngak ingin, tapi kebetulan yang terakhir tadi benar-benar bikin aku bakal banyak berurusan sama kamu. Bukannya kamu gurunya Sunny?”
Oh iya?! Kenapa paranoid ini membuatku sangat bodoh?
“Tapi, aku senang ternyata itu kamu,” sambung dia. “Selama ini aku selalu lompat pagar hanya untuk ketemu sama anakku.”
“Aku mau bantu kamu tapi ada syaratnya,”
“Mulai deh...,” Saira kembali terdengar meledek. “Yang jelas kalau jadi istri kedua aku nggak mau.”
Aku tidak senaif itu. Namun harus kukatakan padanya bahwa aku mempunyai ketakutan ini. “Pertama, nggak ada rahasia lagi dan kedua jangan menghilang.”

Saira mengangguk. “Aku juga nggak suka punya rahasia dan ini Jakarta, mana mungkin aku menghilang,” jawab dia, terdengar seperti sebuah janji. “Lagipula satu-satunya hal yang bikin aku melarikan diri adalah pengkhianatan kamu, tapi itu sudah lama. Nggak ada gunanya diungkit-ungkit.”
“Maaf, aku ...,”
“Semua ini hanya demi aku bisa ketemu sama Sunny...,” dia menegaskan, “dan aku nggak punya pilihan lain....”
Aku membiarkannya pergi dengan perasaan lega. Aku tidak menyangka dua puluh empat jam dalam sehari ini begitu penuh dengan kejutan. Aku tidak bisa berhenti tersenyum sepanjang perjalanan pulang. Tidak lupa, aku singgah di kios bunga untuk membelikan satu buket mawar putih untuk Gigi. Aku juga ingin mengajaknya makan malam di tempat yang romantis.
Tak peduli bagaimana pun reaksinya bertemu denganku, aku ingin menunjukan bahwa kehadiran Saira kembali pun tak akan mengubah apa-apa.









Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments