๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Jangan berharap banyak, Azid, aku nggak akan naik mobil seorang laki-laki beristri,” kata Saira menegaskan saat aku berhenti di depannya dengan mobilku.
Dia membuatku sedikit gusar, karena itu terdengar seperti umpatan. Namun dia membuatku seperti orang bodoh yang akhirnya turun dari mobil dan setuju untuk ikut dengannya. Pertemuanku dengannya selalu seperti itu. Di mana aku selalu berjalan di belakangnya; pergi ke mana pun yanng ingin dia tuju. Tetap saja, walaupun kembali bertemu, sosoknya yang kurus dan dibalut warna gelap, selalu memunculkan banyak misteri.
Selama berjalan bersamanya, aku sudah memikirkannya; terutama tentang Sunny. Apakah Saira menjalin hubungan dengan seorang pria setelah aku?
“Mama nggak pernah ngizinin aku ketemu sama Sunny, kalau kamu mau tahu,” Saira memulai saat ia memilih duduk di sebuah halte bus yang kami lewati dalam perjalanan tanpa tujuan itu. Entah mengapa dia lebih suka duduk di pinggir jalan daripada di tempat makan. “Dia nggak mau Sunny seperti aku karena menurutnya hidupku sudah sangat kacau.”
“Kamu membiarkannya kacau,” aku menyela dan Saira menatapku kecut.
“Bagian terburuk dalam hidupku adalah... di penjara di negeri orang dan mendapatkan ketidakadilan setelah itu,” terangnya. “Aku terpaksa harus menitipkan Sunny pada seorang teman selama di penjara. Saat Mama-ku tahu kalau aku punya anak, dia pun mengambilnya dan menjauhkanku dari Sunny. Makanya aku nggak bisa ketemu dia dengan bebas.”
“Mama kamu sedingin itu? Kenapa kamu nggak bisa kembali dengan cara baik-baik?”
“Azid, aku ini anak-anak satu-satunya yang gagal. Bisa kamu bayangkan betapa kecewanya dia saat aku punya anak dari orang yang menurutnya nggak jelas?”
“Nah, itu juga yang ingin aku tanyakan. Siapa ayahnya Sunny?” aku bertanya dan seketika Saira tersentak. Apa aku terdengar cemburu baginya?
Dia menatapku tanpa jawaban. Sepertinya dia tidak ingin menjawab pertanyaan yang satu itu. Aku mulai berasumsi jangan-jangan Sunny adalah anak dari orang yang memperkosanya? Apa karena itu dia tidak ingin menjawabnya.
“Aku lapar. Kamu nggak niat traktir aku atau apa kek?” tanya dia tiba-tiba.
“Aku nggak mau Nasi Padang,” jawabku.
“Oke, karena kamu yang traktir jadi terserah kamu aja,” dia terdengar lebih ramah.
***
Pilihanku jatuh pada Restoran Chinese dan bayangkan untuk menuju ke sana saja, kami harus berjalan kaki sejauh tiga kilometer dan itu pun di bawah terik matahari pula. Semua itu hanya demi umpatannya padaku yaitu ‘tidak ingin semobil dengan orang yang sudah beristri’. Kedengarannya umpatan itu mengandung arti yang dalam: Saira tidak suka aku menikah terlebih yang kunikahi adalah Magisa. Bisa jadi dia cemburu.
Ini mulai membingungkan, kenapa aku senang dia cemburu? Perasaanku mulai membuatku khawatir. Jam di dinding sudah menunjukan pukul empat sore dan harusnya aku sudah dalam perjalanan pulang. Bagaimana pun keadaannya saat ini, aku mempunyai istri yang mungkin sedang menungguku pulang walaupun dia juga sedang kesal padaku.
Tapi, Saira selalu menjadi magnet yang mengundangku untuk mengikuti langkahnya hingga bahkan gerak-geriknya. Aku menatapinya seakan aku tidak akan melihatnya lagi; karena dia selalu menghilang; selalu seperti itu.
Dengan lahap dia memakan semua yang kupesan untuknya; seperti dugaanku dia selalu lapar dan ingatan saat kami bertemu di Australia juga menunjukan bahwa dia memang makan dengan cepat. Aku tertawa pelan saat akhirnya dia menyadarinya.
“Kamu kenyang hanya dengan mandangin orang?” tegurnya.
Aku kembali tertawa. “Kamu bisa makan banyak dengan lahap, tapi kenapa masih kurus?” tanyaku.
Saira tidak menjawab sampai dia menyelesaikan makannya dan menyisakan piring-piring yang hampir licin. Dia minum dengan nikmat sampai bersendawa. Ah, kesan angsa elegan yang angkuh dan melekat saat dia masih SMA sekarang seperti foto lama saja.
“Kamu punya rokok?” tanya dia kemudian.
“Aku nggak pernah merokok lagi,”
“Cih!” dia tersenyum sinis, “Pasti istri kamu.”


Komentar
0 comments