๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Sunny
Sydney International Elementary School, sebuah kebetulan kalau seandainya perawat rumah sakit tidak salah menulis namaku. Tapi, sekolah dasar bertaraf internasional itu memang dikelola di bawah yayasan yang didirikan oleh perusahaan ayahku. Tujuan Reggina memintaku mengajar di sini adalah agar aku bisa menemukan orang-orang yang tepat untuk membuat sebuah program bagi anak-anak miskin. Hanya itu yang terpikirkan oleh orang yang tidak akan bisa memiliki anak seperti diriku. Awalnya aku berharap aku bisa mengerjakan hal ini dengan Gigi, tapi melihat sikapnya aku yakin dia tidak bersedia merepotkan dirinya mengurus sesuatu yang tidak ada hubungan dengan dirinya. Melihat caranya memarahi Lucky beberapa hari lalu, membuatku sangat yakin bahwa kami tidak sejalan lagi untuk urusan kegiatan amal ini.
Gigi lebih mementingkan dirinya saat ini. Aku teringat ketika pagi-pagi sekali pintu kamar terbuka dan aku melihatnya duduk di sisi tempat tidur masih mengenakan gaun tidur; tampak merenungkan sesuatu. Ketika dia menyadari bahwa aku berdiri di depan pintu kamar dia langsung menutup pintu; dan itu pun dengan cara membantingnya. Biasanya dia selalu mengabaikanku dengan diam dan murung seorang diri, namun sekarang dia benar-benar menunjukan bahwa dia marah padaku lewat tatapannya.
Tapi, bagaimana pun, bukannya aku tidak mempedulikannya. Aku selalu berusaha untuk membuatnya bangkit, tapi kali ini barangkali aku harus menunggunya selesai dengan dirinya sendiri. Aku yakin saat Gigi merasa bahwa dia membutuhkanku; toh karena selama ini kami hanya berdua, dia pasti akan kembali seperti semula. Semoga saja.
“Sebuah kehormatan, Mr. Adams,” seorang pria berusia sekitar 50 tahunan menyambutku ketika pertama kali aku membuka pintu ruang kepala sekolah. Dari yang kuketahui dari adikku, pria yang kelihatannya juga setengah Indonesia itu bernama Mr. Ulrich. Dia berdiri dari kursinya untuk meghampiriku dan mengulurkan tangannya.
“Panggil saya Sidney saja, Mr. Ulrich,” kataku sambil memberikan senyum terbaikku walaupun sepenuhnya pikiranku masih berada di rumah. Aku sedikit khawatir, kesendirian Gigi saat ini bisa saja membuatnya berpikiran yang aneh-aneh; bunuh diri misalnya.
Tapi, memperhatikan kelakuannya akhir-akhir ini, justru yang dia inginkan untuk mati saat ini bukan dirinya sendiri, melainkan Saira.
“Saya cukup terkejut kamu memutuskan untuk bergabung di sekolah ini,...” kata dia, terlihat segan namun itu membuatku merasa tidak enak.
Aku tidak datang sebagai pemilik yayasan.
Yayasan itu masih milik ayahku walau dia telah tiada dan pengelolaannya pun diserahkan kepada teman-teman yang dia percaya. Bisa dibilang bahwa yayasan ini adalah sesuatu yang jauh berbeda dari perusahaan. Memang pendidikan di sini bertaraf internasional dan rata-rata muridnya adalah anak-anak diplomat dan pejabat.
“Seperti yang sudah anda ketahui yayasan selama mengumpulkan dana dari wali murid untuk CSR bagi penduduk miskin di sekitar sekolah. Itu sudah berjalan sejak sekolah ini berdiri,” kata Mr. Ulrich.
“Menurut saya itu kurang efektif,” kataku, dan seketika sadar; tugasku bukan untuk menggurui seorang kepala sekolah melainkan mencari pekerjaan. “Tapi, mungkin itu hanya rencana saya pribadi dan nggak ada hubungannya dengan sekolah.”
“Saya mengerti, Sidney. Tapi, tetap kami akan membantu untuk mewudujkan rencana-rencana itu,” kata dia, sambil meraih gagang telepon lalu berbicara dengan seseorang di sana. “Bisa panggilkan Ibu Matilda? ... ya, baik, saya tunggu.”
Mr. Ulrich kembali menatapku setelah dia berbicara di telepon. Aku menunggu pekerjaan seperti apa yang akan kujalani setelah ini. Terus terang, aku sedikit berdebar karena ini pertama kalinya aku keluar dari ‘kotak’ tempatku bernaung selama ini.
“Ibu Matilda akan mengantarkan kamu berkeliling dan mengenalkan kamu kepada guru-guru lain,” kata Mr. Ulrich lalu kami mulai mengobrol hal lain di luar urusan sekolah sampai wanita yang dia maksud datang.



Komentar
0 comments