[Novel Romantis] Saira Ch. 16 (5/5)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Bell pulang akhirnya berbunyi. Seperti dikomando anak-anak keluar kelas di dampingi oleh guru mereka. Dari pengamatanku sekilas, tampaknya sekolah ini begitu disiplin dan ketat. Aku memperhatikan Anna dan Retha mengantar anak-anak yang supirnya telah datang menjemput. Mereka sempat berbicara dengan supir-supir itu dan sepertinya mereka sudah saling kenal; mungkin itulah yang disebut dengan terverifikasi.
Anak-anak itu kelihatan gembira saat menaiki mobil jemputan. Mereka sempat melambaikan tangan pada guru mereka dengan riangnya dengan menyerukan ‘Sampai bertemu besok!’. Setelah itu para guru menemani anak-anak yang belum dijemput.
Sayangnya aku belum terbiasa menghadapi anak kecil. Itu kedengaran lucu. Aku belum mendapatkan selah untuk mendekati satu anak pun karena kebanyakan mereka kelihatannya lebih suka dengan guru perempuan. Lihat saja Anna dan Retha yang berbicara dengan lemah lembut kepada mereka. Anak-anak itu kelihatan betah bersama kedua perempuan itu.
Tapi, ada hal lain yang menarik perhatianku. Sunny.
Anak itu terlihat berdiri tidak jauh dari seorang guru pria yang menunggui jemputan anak-anak didiknya. Dia berdiri di sana sendirian dengan menyandang ransel; juga boneka kelinci lusuh di tangannya. Aku mengawasi dia karena sepertinya guru yang berada dekat dengannya sibuk berbicara dengan anak-anak lain. Anak itu memperhatikan sekitarnya seperti mengintai sesuatu di antara keramaian. Lalu dia mulai bergerak dengan pelan sambil mengawasi sekitar.
Mencurigakan. Aku heran, ke mana tujuan anak itu?
Aku menyaksikan kemudian Sunny berlari menyusuri koridor setelah memastikan tidak ada yang melihatnya; atau lupa padanya. Dan aku pun mengikuti dia secara perlahan. Ke mana dia di saat semua anak begitu bersemangat saat pulang sekolah?
Pertanyaan itu terjawab setelah kami sampai di halaman belakang. Sunny terlihat berdiri di depan dinding pagar sekolah. Dia menengadahkan kepalanya dan tampak menunggu sesuatu akan turun dari atas sana. Tapi, apa?
“Sunny?” aku memberanikan diri untuk menghampiri.
Anak itu membalikan badannya dengan ekspresi terkejut yang menurutku lucu dan menggemaskan. Matanya membelalak dan bibirnya membentuk huruf o yang bulat sekali. Dia mulai ketakutan saat aku mendekat sambil sesekali menengok ke atas; apa pun itu dia seolah tengah menunggunya datang.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” aku menanyainya dengan pelan.
Dia tidak menjawabku; namun ekspresinya tidak sedingin saat tadi dia memukul teman sekelasnya yang nakal. Dia hanya kelihatan khawatir; khawatir tentang rahasia kecilnya di halaman  belakang. Ternyata dia hanyalah seorang anak kecil yang pemurung dan polos saat dia menggeleng dengan ketakutan; seakan aku akan memukulnya.
Aku ikut menoleh ke atas; untuk melihat apa yang dia tunggu sebenarnya. Tapi, tak ada apa-apa. Hanya langit siang hari yang begitu terik dan panas.
Sunny mengawasiku seperti pencuri kecil yang tengah dihukum. Wajahnya kecut dan takut.
“Apa kamu menunggu seseorang?” tanyaku.
Dia hanya menatapku takut-takut sambil menyembunyikan boneka kelincinya di belakang.
“Itu nggak mungkin. Pagarnya tinggi sekali. Orang nggak bisa memanjatnya,” ujarku. “Sebentar lagi jemputannya datang.”
Anak itu menggeleng sambil mundur beberapa langkah. Dia tidak ingin pergi seolah harus memastikan sesuatu dulu. Sehingga aku kembali menoleh ke atas; pagar setinggi itu siapa yang bisa memanjatnya?
Ah, aku jadi ingat kejadian saat Saira yang hendak bolos sekolah. Dia melemparkan tasnya ke balik pagar lalu memanjat. Kalau saja aku tidak memergokinya, dia tidak akan jatuh. Ya aku ingat dia mendarat dengan menyakitkan di tanah dan di tambah celana dalam yang kelihatan.
Tapi, kenapa aku malah teringat padanya?
Aku dan Sunny malah sama-sama menatapi pagar itu, seolah kami memang menunggu seseorang akan melompat dari sana. Entahlah, pikiranku tiba-tiba kacau. Hanya orang gila yang mau memanjat pagar setinggi itu lalu melompat ke bawah. Membayangkannya saja, rasanya tulang-tulangku lah yang akan patah.
Sunny tampak sedih. Mungkin apa yang dia tunggu tidak juga kelihatan.
“Ayo pergi,” ajakku setelah cukup bernostalgia dengan dinding pagar sekolah dan Sunny dengan patuh mengikuti.
Kami bergerak untuk kembali ke halaman depan di mana mungkin supir yang menjemputnya sudah datang. Sunny terlihat begitu kecewa saat ia membalikan badannya; kembali menatapi dinding pagar itu dengan sedih sembari mengetatkan genggamannya pada boneka kelinci lusuhnya. Aku cukup terenyuh memperhatikan sikapnya itu.
Mengapa dia begitu kecewa pada sesuatu yang tak dimengerti?
Namun, perhatianku teralihkan oleh suara benda jatuh yang lumayan keras. Sunny yang sudah lebih dulu menoleh ke asal suara itu, seketika berlari dengan kencang. “Mama!!” serunya.
Lalu kutemukan seseorang baru saja mendarat di halaman belakang; orang gila yang begitu nekatnya melompat dari pagar setinggi itu dan Sunny memanggilnya ‘Mama’. Sesosok perempuan kurus berpakaian serba hitam; jeans ketat hitam, jaket hoodie hitam; dan aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Apalagi saat Sunny menghampirinya dia memeluk anak itu dan wajahnya yang ditutup hoodie juga tersembunyi di bahu Sunny.
Itu pertama kalinya aku menyaksikan pertemuan mengharukan antara seorang anak pemurung dan ibunya yang kelihatan seperti preman. Hal macam apa yang menghalangi mereka untuk bertemu sampai sang ibu yang nekat itu harus menaklukan rintangan seperti ini? Entah.
Aku mendekat seakan tubuhku paku kecil yang berada di sekitar magnet; dan mereka yang tengah berpelukan itu adalah magnetnya. Hal ini mungkin juga mengingatkanku pada kejadian-kejadian di masa lalu yang masih tertinggal di benakku. Di mana takdir terkadang begitu aneh dengan kebetulan-kebetulan yang tak pernah diharapkan.
Perempuan itu melepaskan putranya dan dia menemukanku. Walaupun hoodie itu masih menutupi kepalanya, aku bisa melihat wajahnya dan wajahnya itu sangat kukenali. Dia berdiri tepat di hadapanku seperti waktu itu.
Saira. Seraut wajah tirus, rambut pendek yang hitam legam dan tindik di hidung yang kini telah identik dengan dirinya yang sekarang.
Aku menatapi Sunny yang memanggilnya ‘Mama’ dan yang belum dapat kupercayai saat itu adalah dia sudah memiliki seorang anak berusia enam tahun. Kebetulan yang aneh kembali membawanya ke hadapanku tapi dengan misteri yang baru.




Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments