๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Matilda, seorang wanita akhir 40-an, berdarah Maluku. Kulitnya sawo matang dengan rambut ikal hitam legam. Di hidungnya yang mancung bertengger kaca mata bingkai hitam berbentuk bulat. Dia mengenakan sweater biru tua dan rok lipat melewati lutut yang disambung dengan stocking hitam; yang mana menurut dugaanku dia pasti orang yang serius dan juga kutu buku. Dia melangkah dengan pasti saat menghampiriku.
“Halo, Mr. Adams, senang bertemu dengan anda,” dia menyapaku sambil mengulurkan tangannya.
Aku meraih tangannya, “Terima kasih. Tapi, panggil saya Sidney saja,” balasku.
“Baik, Sidney. Kita punya sedikit petualangan,” kata dia dengan tepat sambil tetap memeluk buku yang dia bawa. Sepertinya dia memang sangat tepat waktu.
Aku pun mengikutinya mengunjungi beberapa tempat yang harus kuingat dengan baik; kelas-kelas yang jumlahnya lumayan banyak dari kelas satu sampai kelas enam. Satu tingkatan bisa terdiri dari beberapa kelas tergantung dari banyak siswa. Untuk kelas satu sampai kelas tiga, satu kelas maksimal berisi 10 orang dan itu memungkinkan bagi guru untuk memantau anak-anak dengan lebih detil. Anak-anak usia 5-7 tahun biasanya sedikit sulit diatur dan entah mengapa aku mendapat tugas di kelas satu.
Setelah berkeliling ke seluruh bagian sekolah, Matilda menjadikan kelas tempatku mengajar sebagai kunjungan terakhir kami. Di dalamnya sudah ada guru lain yang tengah mengajar; seorang wanita usia sekitar 30 tahun. Begitu melihat kami, ia langsung menghampiri.
“Sidney, ini Ibu Anna,” Matilda mengenalkan perempuan berambut pendek dan berkaca mata itu padaku. “Ibu Anna, ini Mr. Adams.”
Wanita itu mengulurkan tangannya, “Halo,” sapanya. “Saya pikir saya harus mengenalkan anda pada semua murid kita.”
“Tentu,” jawabku mengambil beberapa langkah maju, mengiringi Anna yang langsung mencoba untuk mendapatkan perhatian bocah-bocah itu.
“Hey, class, I’d like to introduce your new teacher,” kata dia dan anak-anak yang sedari tadi sudah memperhatikan kami sekarang terlihat menyimak apa yang dikatakan Anna. “Mr. Sidney Adams. Let’s come and say ‘hello’”
“Hello, Mr. Adams!” sapa mereka berbarengan dengan alur yang kedengaran rapi.
Kuperhatikan kebanyakan dari mereka adalah anak-anak berdarah campuran. Ada yang berambut pirang, bermata biru hingga bahkan ada juga yang berkulit hitam. Tidak seberapa yang perawakannya seperti orang Indonesia. Aku sempat menghitung berapa jumlah mereka dan kudapati jumlahnya tidak sesuai dengan yang dijelaskan Ibu Matilda padaku dalam perjalanan ke sini; seharusnya ada sepuluh orang, tapi menurut pengamatanku hanya ada sembilan orang murid.
“Hello. I’m Sidney. You don’t have to call me Mr. Adams,” kataku menyapa mereka. Entah mengapa aku sedikit gemetaran. Kelihatannya mereka tidak terlalu antusias dengan perkenalanku. Aku tidak terlalu pandai memulai; maklum saja, selama ini aku hanya disibukan dengan menandatangani banyak berkas. Aku tidak pernah membujuk atau berbicara dengan persuasif kepada orang lain. Aku meyakini mereka pasti berpikir bahwa aku guru baru yang akan sangat membosankan.Tapi, bel istirahat memperpendek waktu perkenalan di mana seharusnya aku menyampaikan hal-hal yang membuat mereka begitu ‘excited’ dengan guru pria. Tapi, sebagian besar dari siswa di dalam kelas itu adalah laki-laki. Pantas mereka menyukai Anna yang kelihatannya begitu pandai mengambil hati mereka.
***


Komentar
0 comments