๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Alma sudah pulang bersama anak-anaknya dengan taksi walaupun aku ingin mengantar tapi kakak iparku itu menolak. Aku merasa semakin tidak enak setelah dia memasak agar aku punya sesuatu untuk dimakan -karena selama ini aku selalu makan di luar dan menurutnya juga mertuaku, itu tidak sehat. Namun, karena keadaan Gigi, mereka terpaksa membiarkanku hidup dengan ‘tidak layak’.
Sejak pertengkaran kecil siang tadi, aku belum bicara dengan istriku yang masih merajuk. Aku sempat mengintip ke kamar dan dia sedang tertidur di atas ranjang. Saat aku masuk dan mendekat, dia mengusirku. Itu cukup menyakitkan karena semarah apa pun dia padaku dia tidak pernah sampai mengusirku. Dia tidak membolehkanku memeluknya; hal yang biasa kulakukan saat kami berselisih. Dia seolah muak padaku karena selalu mengalah.
Lalu beberapa saat setelah aku keluar, Gigi mengunci pintunya dari dalam. Dia tidak menginginkanku masuk.
Perlakuan itu membuatku ingin menelepon Reggina. Ya, aku belum pernah menelepon adikku dengan alasan ini -tak bisa menghadapi istriku. Tapi, pembicaraan kemarin belumlah selesai. Aku masih ingin mendengar apa yang dia coba katakan padaku.
“Memangnya aku mau bilang apa?” Reggina malah berpura-pura bodoh saat aku mendesaknya. “Sepertinya itu nggak terlalu penting.”
“Kamu mau main-main?” balasku sedikit kesal.
Reggina tertawa. “Sudah kubilang itu nggak penting sekarang. Yang paling penting adalah rencana selanjutnya, Sidney.”
Aku bisa mendengar suara keramaian di sekitarnya dan dia sepertinya sedang berada di luar ruangan. Lalu aku mnghela nafas lelah. Aku kira apa?
“Apa kamu sudah mendapatkan pekerjaan yang kamu inginkan?” tanya dia padaku, kali ini serius dan tenang.
“Itu bukan sesuatu yang sulit,” jawabku.
“Harusnya,” balas Reggina. “Oh ya, ngomong-ngomong soal sekolah, aku pikir kamu tertarik untuk kerja di salah satu Sekolah Dasar milik yayasan yang dikelola sama perusahaan yang ada di sana.”
“Aku malah berpikir untuk mengajar di sekolah orang yang tidak mampu,” kataku.
“Itu bisa saja. Jadi kegiatan sampingan atau jadi donatur sekalian. Tapi, menurutku, kamu harus punya pekerjaan tetap... yah butuh atau nggak, kamu harus menghasilkan uang karena itu yang namanya ‘bekerja’, Sidney.”
“Aku tercatat sebagai warga negara asing di sini. Kamu pikir aku bisa mengajar di sekolah negeri dan jadi Pegawai Negeri Sipil?”
Reggina tertawa. “Glad to hear that,” katanya. “Karena itu aku menyarankan kamu untuk mengajar di sekolah yayasan itu. Memang sih, kedengarannya nggak semulia mengajar anak-anak miskin. Karena sekolah itu sekolah internasional dan kebanyakan yang sekolah di sana anak-anak kaya. But, for sure, kamu belum punya pengalaman mengajar dan untuk itu, kita perlu koneksi.”
“Koneksi macam apa?” dia membuatku tertawa.
“Trust me. Kamu pasti akan suka di sekolah itu, Sid. Di samping itu, kamu bisa mengumpulkan kenalan untuk membuat program membantu anak-anak yang nggak mampu. Gimana? Idenya brilian ‘kan?” Reggina mulai membuatku yakin bahwa yang brilian itu bukanlah idenya, melainkan dia sendiri.


Komentar
0 comments