๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Dari ruang tengah, aku bisa mendengar suara Gigi dan Alma mengobrol -walaupun suara Alma lebih mendominasi di antara suara-suara ketiga anak Alma yang asyik bermain bersamaku di ruang TV. Gigi bisa dibilang hampir tidak berkomentar atas apa pun yang Alma katakan dan sesekali aku mendengar namaku disebut.
Aku bukannya tidak tahu bahwa keluarganya selalu berusaha untuk meyakinkannya bahwa semuanya hanya masa lalu. Gigi hanya kebetulan saja bertemu dengan Ibu Saira tapi dia masih belum bisa menerimanya. Kesan yang aku dapatkan ketika dia bercerita padaku tentang Saira adalah sepertinya sekarang Gigi kembali menyalahkannya. Tapi, aku tidak bisa menceritakan padanya bahwa Saira pun juga tidak hidup dengan semestinya setelah semua yang terjadi. Bahkan mendengar nama Saira keluar dari mulutku saja dia tidak sudi -Gigi tidak suka bila aku yang menyebut namanya. Gigi masih saja cemburu.
Tapi, yang terlihat sekarang bukan lagi rasa cemburu Gigi yang berlebihan seperti biasanya. Aku bisa mencium keinginannya untuk bertemu Saira dan membalas dendam. Aku merasa bersalah karena tak bisa dipungkiri bahwa semua keinginan itu sangat beralasan. Gigi hanya tidak tahu saja tentang pertemuan kembaliku dengan Saira. Dia punya firasat yang kuat sehingga aku sering bermimpi apa yang kusembunyikan diketahui Gigi begitu saja. Bahwa aku telah mencium dan tidur dengan perempuan lain selain dirinya. Aku benar-benar merasa sangat bersalah.
Aku tidak pernah membagi hatiku dengan siapa pun tapi tetap saja ada satu bagian yang merindukannya. Saira menghilang begitu saja dari hidupku dan aku mencarinya seperti orang gila tanpa pernah kutahu akhirnya dia mencariku ke Australia lalu terjadilah semua hal yang buruk kepadanya; nyaris diperkosa dan harus masuk penjara selama lima tahun karena membunuh orang yang mencoba memperkosanya. Ya, itulah yang terjadi padanya dan hari ketika aku bertemu dengan Saira di Walmart adalah hari pertamanya bebas dari penjara. Aku masih ingat baju lusuh yang dia kenakan hari itu serta tubuh kurusnya yang tidak terawat. Dia tidak pernah tahu Sydney Opera House berada di mana. Orang-orang di penjara memperlakukannya sangat buruk dan ia mempunyai komunikasi yang buruk dengan mereka karena tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik.
Aku memang menendang keluar semua pikiran untuk melindungi Saira yang tak ingin berurusan denganku karena tahu aku sudah menikah. Aku juga tahu dia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya ketika dia tahu yang kunikahi adalah Magisa. Barangkali jika aku tidak menikah dia bersedia kembali padaku. Ah, apa yang aku pikirkan?
“Om Sid, yang ini di mana?” tanya Sherin, putri sulung Alma berusia 7 tahun yang menyodoriku sekeping jigsaw puzzle.
Aku meraih potongan puzzle di tangannya dan mulai ikut mencari di mana seharusnya potongan itu berada di antara susunan yang hampir utuh. Tapi, menemukannya tidak sesulit jigsaw puzzle untuk dewasa. “Di sini,” kataku sambil menaruh bagian itu hingga gambar barbie berukuran sebesar kertas A4 itu hampir utuh.
Sherin mulai mencari potongan yang lain. Selagi Lucky yang berusia empat tahun asyik menjejalkan mobil-mobilannya di atas karpet. Lucky punya banyak sekali mobil-mobilan kecil yang bertebaran di lantai. Aku pun berdiri dari tempatku dan pergi ke dapur untuk mengambil minuman dingin di kulkas.
Saat itu, Alma sedang memasak sedangkan Gigi? Gigi hanya duduk di meja makan; melamun. Dia tidak peduli apa-apa. Bahkan saat melihatku saja dia begitu acuh. Alma sempat memperhatikanku dengan tatapan canggung.
“Aduh, Gi, lo ngebiarin suami lo ngambil minum sendiri?” tegurnya namun Gigi hanya menoleh padanya untuk kemudian acuh.
Aku hanya bisa tersenyum pada kakak iparku.
“Beruntung lo punya suami kayak gitu. Coba deh kayak laki gue, sekali pulang gue nggak bikinin minum pagi-pagi, bisa disindir melulu gue!” kata Alma.
Gigi juga melirikku dengan tatapan yang sama -acuh. Lalu dia berdiri; seperti biasanya dia selalu menghindar.
Alma yang memperhatikan langkahnya hanya bisa menghela nafas sambil menggelengkan kepala. Dia sedikit kesal dan merasa tidak nyaman oleh tingkah adiknya yang seolah ingin mengusir semua orang.
Aku baru saja ingin membalikan badanku untuk kembali ke ruang tengah menemani Sherin dan jigsaw puzzle-nya.
Tapi, tiba-tiba kudengar Gigi menjerit kesakitan.“Aduh!” Gigi melompat-lompat dengan sebelah kakinya. Dia baru saja menginjak sesuatu yang menyakiti telapak kakinya.
Sebuah mobil-mobilan kecil berada tidak jauh darinya dan sepertinya itu kepunyaan Lucky yang ikut terkejut. Gigi meraih mobil kecil itu dan tiba-tiba melemparkannya ke lantai. “Lucky!” pekiknya sampai Alma berlarian dari dapur untuk melihat apa yang membuat Gigi terdengar begitu marah.
Aku segera menghampiri Gigi untuk menenangkannya tapi dia keburu berteriak pada anak tak bersalah itu.
“Kamu nggak bisa mainnya nggak di situ?!” ia memarahi Lucky hingga Alma langsung terlihat emosi.
Lucky langsung menangis sementara Gigi masih menatapnya dengan emosi.
Alma juga hampir melabrak adiknya tapi saat aku berisyarat padanya untuk tenang, Alma pun kemudian menghampiri putranya untuk menggendongnya. Aku mengikuti Gigi yang langsung masuk kamar dengan membanting pintu. Aku rasa sikap Gigi sangat keterlaluan memarahi anak kecil sampai seperti itu.
“Itu hanya anak kecil, Gi! Kenapa kamu sejahat itu?!” kataku, entah mengapa aku tidak suka melihat sikapnya itu; sikapnya terhadap anak kecil yang tidak tahu apa-apa.
“Ya, aku memang jahat!” teriak Gigi padaku. “Dari dulu aku memang jahat, terus kenapa?!”
Aku segera sadar memarahi Gigi hanya akan membuatnya semakin labil. Aku menarik nafas panjang, berusaha mengendalikan amarahku.
Gigi masih menatapku tajam, persis ketika ia berteriak pada Lucky yang masih menangis di luar sana. “Kenapa kalau anak kecil?” dia terdengar menantangku. “Kenapa aku harus baik sama anak kecil sementara aku sendiri juga nggak akan punya anak?”
“Sadar, Gigi...,” kataku, sambil menjauh darinya karena emosiku belum dapat reda terlebih mendengar pertanyaannya yang kelewat egois. Aku berada di ambang batasku karena Gigi sudah memperlakukan seorang anak kecil -yang juga darah dagingnya sendiri, sangat tidak pantas. “Mungkin karena inilah kita nggak diberi kesempatan menjadi orang tua karena kamu nggak suka dengan anak kecil.”
Gigi terbungkam. Matanya membelalak menatapku. Sepertinya aku telah mengusik bagian paling tidak membahagiakan dalam hidup kami.
“Kamu nggak betul-betul menginginkan seorang anak...,” kataku lagi. Aku tak tahu seberapa pedih itu baginya. “Kamu menginginkan seorang anak hanya supaya aku terikat dengan kamu dan itu nggak benar....”
Sedikitnya aku merasa sedikit terpengaruh dengan ucapan adikku di telepon. Aku benci mengakui apa yang Reggina katakan benar -meski tidak semuanya. Gigi mencemburuiku karena terlalu obsesif terhadapku sampai-sampai dia pernah mengakui bahwa dia selalu menciumi baju yang kukenakan untuk mengetahui apakah ada bau perempuan lain di sana. Entah, menelisik ke belakang, membuatku semakin tidak tahan.
Gigi seakan menghukumku.


Komentar
0 comments