๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Aku kembali terdiam sebelum tiba-tiba merasa Reggina pasti mengirim orang untuk selalu mengawasiku di sini. Ah, dia lebih paranoid dari ibuku.
“Lupakan semua yang kamu tahu dan sudah aku lakukan,” Reggina masih memaksa -memaksaku untuk bicara. “I’m your sister and I know you.”
“Know what?”
Reggina terdengar menghela nafas. “Aku tahu kamu nggak benar-benar mencintai istri kamu,” kata dia cepat dan tepat, seperti anak panah yang melesat cepat.
Aku sempat bingung sejenak sebelum memvonis bahwa adikku sudah benar-benar sangat keliru. “Reg,...” aku ingin membantahnya.
”No use defending the word that you are not going to say,” potong Reggina. “Aku ingin kamu yang memulainya tapi kamu bikin aku harus mengatakan itu.”
“Kenapa harus aku yang memulai? Dan ini tentang memulai apa?” aku mulai kesal.
“You know what I’m talking about...,” balas Reggina yang kembali memancing emosiku. “Sungguh, aku nggak mau membicarakannya, tapi kamu memaksaku harus melakukannya,” kata dia lagi, terdengar tak bertanggung jawab setelah berhasil membuat pikiranku bergemuruh.
Bagaimana mungkin aku tidak mencintai istriku?
“Kamu menikahi dia bukan karena kamu mencintai dia. Hanya karena dia selalu ada dan merasa nggak enak karena dia mendampingi kamu di saat yang paling kamu harapkan menghilang. Kamu merasa nggak enak atas perjuangan dia mendapatkan kamu.”
“Cukup, Reg!” kataku sambil memperhatikan sekelilingku. Aku harap Gigi tidak ada di sekitarku dan bertanya kenapa tiba-tiba aku berteriak.
Seketika teringat bahwa Gigi pergi bersama Alma belanja di supermarket dan sepertinya dia belum kembali.
“Itulah kenyataannya. Aku mengatakan ini bukan karena aku nggak menyukai Magisa. Maksud aku, dia adalah pilihan kamu pada akhirnya. Tapi, sungguh, kalau saja kamu nggak ketemu Saira Gayatri aku nggak akan setertarik ini untuk mau tahu tentang apa yang terjadi di masa lalu. Dan akhirnya, aku mengerti kenapa kamu keliling dunia untuk mencari seorang gadis dengan nekatnya seperti orang gila dulu.”
“Itu sudah berlalu...,” kataku.
“Sid, I love you...,” kata Reggina tiba-tiba membuatku terbungkam, “and I do care about you. Jadi tolong dengarkan aku kali ini bukan sebagai adik yang selalu mau tahu urusan pribadi kamu. Tapi, aku tahu di sana kamu nggak benar-benar bahagia.”
“Apa maksud kamu?”
“Harusnya kamu bahagia, tapi bukan dengan perempuan seperti Magisa yang obsesif. tapi, bagaimana pun aku tetap menghargai dia. Hanya saja... setelah aku tahu semuanya, aku merasa... aku merasa kalau aku harus mengatakannya. Saat ini dia seolah menghukum kamu atas apa yang terjadi di masa lalu yang sudah menghancurkan masa depannya. Everybody does mistake, Sid, tapi beberapa ada yang mencoba memperbaiki kesalahan itu dengan hidup lebih baik di masa depan. Sedangkan Gigi, dia tidak bisa memaafkan dirinya dan tidak mau berdamai dengan masa lalu sehingga sekarang dia mengabaikan kamu.”
“Dia depresi, Reg. Kenapa kamu tega bilang seperti itu?”
“Baik. Depresi itu bukan sesuatu yang bisa dipahami dari sudut pandangku. Dulunya dia benar-benar jahat dan dia baru mendapatkan ganjarannya sekarang. Tapi, aku tetap nggak ingin kamu juga terbawa depresi karena nggak bisa menyembuhkannya.”
“Aku nggak mengerti. Jadi selama ini kamu nggak menyukai Magisa?”
“Ini bukan masalah suka atau nggak suka. Aku tahu dia istri kamu dan kamu selalu memikirkan dia, berusaha membuat dia merasa aman. Hanya saja, ada hal lain yang kamu nggak tahu, Sid....”
“Apa yang aku nggak tahu?”
“Ok,” tegas Reggina tiba-tiba. Dia terdengar membersihkan tenggorokannya dan seolah ingin mengatakan sesuatu yang penting dengan benar setelah beberapa menit ini dia memang berhasil membuatku gusar. “Kamu punya istri dan kamu mencintai dia, aku tahu itu. Tapi, kamu pantas untuk sebuah kesempatan menjadi bahagia lebih dari ini. Sebenarnya aku ingin bilang, tapi... keadaannya nggak memungkinkan. Aku nggak ingin... menjadi seorang adik yang mengacaukan rumah tangga kakaknya entah itu disengaja atau tidak. Sid, yang ingin aku katakan adalah sebenarnya kamu...,”
“Apa?” aku menunggu. Kata-katanya membuatku menjadi begitu penasaran.
Tapi, Reggina malah diam.
Aku hanya mendengarnya bernafas di telepon selagi aku berharap dia akan mengatakannya segera.
“Kamu menelpon siapa?” suara Gigi membuatku cukup terkejut. Kulihat dia sudah berdiri tidak jauh di belakangku dengan wajah penuh tanda tanya.
Rupanya dia suda pulang. Aku juga menemukan Alma dan anak-anaknya dengan banyak sekali barang belanjaan. Aku pikir aku harus membawakannya karena Alma keihatan tergopoh membawa dua kantong besar sekaligus ke ruang tengah.
Aku menatapnya sambil tersenyum menghampiri. “Reggina?” aku menegur adikku yang masih terdiam dan menjadi tidak sabar selagi Gigi mendekat. Tapi, yang terdengar di telepon hanyalah bunyi ‘tut tut’ dengan nada cepat.
Reggina menutup telponnya begitu saja.
“Reggina?” Gigi bertanya dengan heran.
Aku menjauhkan handphone-ku dari telinga. “Ya, dia menelpon tapi tiba-tiba mati,” jelasku sambil memandangi layar telponku. Aku hanya tidak habis pikir, apa yang dia ingin katakan padaku?



Komentar
0 comments