[Novel Romantis] Saira Ch. 14 (4/4)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Kedua orang tua Gigi kelihatan bahagia saat melihatnya, walaupun Mama-nya sempat hampir meneteskan air mata saat memeluknya. Beberapa hari yang lalu sebelum pulang, aku sudah menceritakan keadaan Gigi dan penyebabnya. Mereka sangat khawatir dan memintaku agar cepat-cepat membawanya pulang. Karena tinggal di apartemen pasti hanya membuatnya tetap kesepian.
Gigi memiliki seorang kakak perempuan, Alma dan adik lelakinya, Robby. Alma sudah menikah dan memiliki tiga orang anak yang lucu, Sherin, Lucky dan Raisa. Suami Alma adalah seorang anak buah kapal yang saat ini berlayar ke luar negeri sehingga selama suaminya pergi Alma dan anak-anaknya tinggal di rumah orang tuanya. Sedangkan Robby adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di jurusan mesin yang saat ini sedang menyelesaikan skripsi. Orang tua Gigi adalah pensiunan. Mama-nya adalah seorang guru sedangkan ayahnya dulu seorang polisi. Seperti yang aku tahu selama ini mereka adalah keluarga yang harmonis. Kupikir kembali berada di tengah tengah mereka akan mengembalikan semua sifat cerewet dan suka mengatur Gigi.
Namun, sejak kami tiba sampai detik ini, Gigi tetap saja murung. Dia bahkan tidak terlalu banyak bicara denganku.
“Maaf ya, Sid, Mama belum sempat belanja jadi nggak ada roti,” ucap Ibu mertuaku saat menghidangkan sayur tumis dana yam goreng di atas meja. “Semua pada sibuk beresin rumah dan kamarnya Gigi supaya kalian bisa tinggal di sana.”
“Kenapa nggak suruh Kak Alma aja?” celetuk Robby. “Sekali-kali suruh Kak Alma, ke pasar dong, Ma. Biar olahraga dan jadi langsing, nggak kayak sapi glonggongan!”
Alma di sampingnya langsung mengernyit kesal. “Lha nih anak! Nyentil gue!” balasnya sewot sementara Robby cekikikan. Alma memang berbadan bongsor dan cenderung malas bergerak. Hobinya adalah mengemil di sofa sambil menonton TV. Sedangkan anak-anaknya lebih sering diasuh nenek dan kakeknya. Aku dengar kadang Robby menjulukinya Kungfu Panda dan itu selalu membuatnya menjerit karena marah. “Gue gendut-gendut gini seksi tau!”
“Iya, iya,” balas Robby masih cekikikan. Sedangkan Robby adalah anak yang jahil dan konyol. Seringkali ia dan Alma tedengar saling ejek lalu berdamai dengan segelas sirup berwarna merah di atas meja. Karena mereka sama-sama menyukai minuman manis dan dingin.
“IIh reseh deh, Robby!” Alma masih tidak terima.
“Aduh kalian ini, malu sama ipar dong…” kata Ibu mereka sambil melirikku dan aku tersenyum.
“Nggak apa-apa, Ma,” ujarku. Aku juga sudah lama tidak mendengar kedua adikku bercanda belakangan ini. Karena Reggina menjadi semakin serius dan garang, sedangkan Beatriz menjadi pendiam. Percakapan kami saat di meja makan tidak pernah jauh dari pekerjaan bisnis.
Aku lupa kapan terakhir kali mereka menjerit dan merengek sambil memanggil-manggil namaku. Sudah lama sekali namun satu-satunya yang paling berkesan adalah saat aku harus berangkat ke Indonesia untuk meneliti dan mereka merengek di bandara memintaku agar jangan pergi. Ibuku juga tidak berbeda dengan mereka, dia menangis, memelukku berkali-kali dan masih berusaha meyakinkanku agar aku mengambil sampel penelitianku di Sydney saja. Ya, keluargaku memang sangat over protektif dan terkadang bisa saja melangkahi batas privasiku. Melihat keluarga istriku, aku mulai merasa betapa membosankannya keluargaku
“Mereka memang berisik,” kata ayah mertuaku lagi yang duduk di depanku. Ia tampak sudah memilih makanan mana yang akan ia santap lebih dulu selagi Mama menyiapkan piring untuknya.
“Gigi, kok kamu malah ngelamun?” tegur Ibu mertuaku sambil menoleh ke Gigi yang masih menopang dagu.
Tersadar Gigi melihat sekelilingnya tapi tak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya. Lalu dia kembali melirik piringnya yang masih kosong. Dia belum memindahkan apa-apa ke sana. Aku membantu mengambilkan mangkuk nasi yang isinya tinggal separuh agar Gigi bisa mengambilnya.
“Aku nggak lapar,” jawab dia sambil berdiri dan dengan wajah yang murung itu, ia pun berlalu dari ruang makan.
Semua mata tertuju padanya, tapi tak ada yang berani berkomentar. Hanya saja, kedua orang tuanya dan juga saudara-saudaranya jelas kelihatan sedih. Aku hampir saja ikut berdiri dari kursiku untuk menyusul tapi ketika Alma melarangku dan demikian juga ibu mertuaku yang ingin aku makan terlebih dahulu, aku pun membiarkannya. Aku pun juga tidak tahu harus bagaimana lagi.
***





Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments