๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Sid…” suara lemah Gigi memanggilku saat aku berusaha memusatkan perhatianku padanya. “Aku mimpi aneh….”
“Mimpi apa?” tanyaku penuh perhatian, memandangi wajahnya seksama dalam belaian lembut tanganku pada pipinya yang masih memutih pucat.
“Saira kembali…,” kata dia dan seketika darahku berdesir. Kuharap dia tidak mendengar suara detak jantungku yang tiba-tiba berlari karena jarak yang begitu dekat di antara kami. “Aku lihat dia memeluk kamu sambil tersenyum….”
“Itu hanya mimpi…” ujarku, “Semuanya hanya mimpi, sekali pun dia kembali, tidak akan mengubah apa pun, Magisa….”
“Kamu janji?”
“Ya… aku janji….”
Aku memeluknya sekali lagi walaupun jantungku masih berdebar keras. Kupejamkan mataku saat mendekapnya di dada untuk merasakan bahwa hatiku milik perempuan ini, apa pun yang terjadi. Namun, kilasan itu seakan menari-nari lagi di ruang mataku.
Bagaimana Saira menolakku untuk tidak menyentuhnya seujung jari pun; dia gemetaran bahkan saat aku memeluknya untuk memberinya rasa nyaman. Dia menangis dan aku berusaha keras untuk membuatnya bicara. Saat akhirnya dia bicara, kami saling menangis. Ya, aku meneteskan air mataku saat mendengarkan ceritanya.
“Sid…,” suara Gigi kembali memanggil dengan lemah.
Kusadari, aku telah terbaring dengan tubuhnya di atas tubuhku. Aku membuka mataku dan melihat wajah pucat Gigi tepat berada di depan wajahku, dan bibirnya menyentuh bibirku dengan kasar. Aku membiarkannya karena keadaannya yang sedang tidak stabil. Aku berusaha mengikuti iramanya saat ia menindih tubuhku dan membuatku berhenti bernafas sejenak. Entah mengapa rasanya seperti tercekik.
“I smell someone else in your body…,” katanya, dengan suara parau namun tajam hingga aku membeku beberapa saat.
Tapi, tak ada suara yang keluar dari tenggorokanku. Kusadari jemari Gigi sudah menggenggam leherku; kedua tangannya mencekikku secara perlahan. Tubuhku tak bisa bergerak.
“How dare you…,” ia kembali mendesis, mengetatkan jemarinya di leherku.
Tenggorokanku rasanya sakit. Dalam pikiranku aku mencoba meronta dengan begitu kuatnya, tapi entah mengapa aku merasa tubuhku tidak bergerak. Cengkraman kedua tangan Gigi sangat erat!
Apakah dia sudah tahu apa yang kulakukan? Tapi bagaimana?
“You lied to me…,” katanya lagi dengan suaranya yang parau itu; ada amarah dalam desis yang membuatku sangat ketakutan.
Aku mencoba melawan, walau tubuhku tak bisa bergerak. Aku memaksa untuk bisa menggerakan kedua tanganku; aku memusatkan perhatianku pada wajahnya yang pucat dan mengamatinya baik-baik. Namun, aku tidak bisa melihat wajahnya; tertutup oleh rambut ikalnya yang berantakan. Aku harus menghentikannya dan ketika kudapatkan tenagaku aku langsung mendorongnya dariku. Aku tahu itu akan menyakitinya, aku tahu dia akan terlempar dari tempat tidur. Namun, aku tetap mengerahkan semua tenagaku untuk menyingkirkannya dariku.
Aku bangkit dari tempatku dan kurasakan nafasku yang memburu bersamaan dengan kembalinya seluruh jiwaku yang terberai ke dalam tubuhku; saat itulah aku menyadari bahwa itu hanya mimpi. Lagi-lagi hanya mimpi yang membuatku muak karena selalu berasal dari rasa bersalahku sendiri. Aku mengatur nafasku dan kemudian mendapati bahwa tempat di sisiku telah dikosongkan.
Aku melirik jam weker di sisi meja yang menunjukan pukul delapan pagi. Cahaya matahari sudah menyebar ke setiap sudut lewat jendela yang hordennya tidak menutup sempurna. Segera, aku turun dari tempat tidur dan mulai mencari.
Sosok Gigi yang masih mengenakan piyama tampak berdiri di depan jendela; memandang keluar. Melihat dia yang begitu tenang melamunkan sesuatu, kurasa dia sudah berdiri di sana sejak tadi.
Aku menghampirinya dengan langkah pelan; khawatir akan membuatnya terkejut. Aku mulai mencemaskannya karena dia begitu asyik melamun sampai-sampai tidak menyadari kehadiranku. Dengan hati-hati, aku menegurnya lewat sentuhan di pundaknya dan seketika ia menoleh; kembali memperlihatkan wajah sedihnya.
“Kenapa?” tanyaku lembut sambil meraihnya ke pelukanku dan Gigi terasa begitu pasrah menjatuhkan dirinya dalam dekapanku.
Ya, tubuhnya terasa lebih kurus; padahal baru seminggu. Namun, depresi memang membuat bobotnya berkurang. Gigi tidak mau menyentuh makanan walaupun dia lapar. Minum pun harus ia lakukan dengan sangat terpaksa. Aku tahu, pikirannya yang kalut justru bisa membuat rasa lapar dan haus tidak terasa dan yang menerima efek dari semua itu adalah tubuhnya. Dokter sudah memberinya obat-obatan; hanya untuk menghilangkan rasa perih dan sakit. Namun, tidak bisa menghilangkan penyebab depresi.
Aku rasa inilah tugas pertamaku. Lalu seketika terpikir olehku untuk membawanya pulang ke rumah keluarganya.


Komentar
0 comments