๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Apa lagi?” Gigi masih kedengaran menggerutu di tempat tidur. Dia menatapku dengan wajah pucat dan mata merah. “Aku udah menerima semuanya ‘kan?”
Aku belum berkomentar apa-apa sejak tadi karena kupikir dengan mengatakan semuanya akan baik-baik saja, tidak berarti apa-apa. Gigi sudah merasakan goncangan yang luar biasa dan logikanya dia merasa bahwa sampai kapan pun dia akan selalu dibuntuti masalah yang sama.
“Apa lagi sekarang?” dia masih bertanya sambil menatapku dengan kedua jemari yang mengepal menahan kesal. “Udah terlalu banyak, Sid…”
Aku duduk di sampingnya sambil membelai rambutnya. Hatiku pun ikut gelisah memandanginya. Perempuan yang biasanya selalu tegar terlihat begitu lemah. Aku tahu bahwa semua kejadian buruk yang telah dilupakannya kembali hadir dalam pikirannya. Sampai tidak bisa tidur, sampai ia terus menangis hingga kedua matanya membengkak.
“Kamu bisa bayangin setelah Ananda bunuh diri aku dikejar rasa bersalah? Aku nggak pernah tahu bakal ada seseorang yang menyebarkan foto-foto yang aku ambil untuk menunjukannya ke kamu. Mereka adalah orang yang benci sama Saira dan aku yang bikin mereka semua bersatu untuk membalas Saira…,” Gigi masih meracau dan air matanya kembali menetes. “Mereka sama sekali nggak menjenguk aku di rumah sakit dan… sampai saat aku mengaku di depan semua orang mereka nggak mendukungku, seolah aku membuat semua kebohongan itu sendirian….”
Aku memang tidak tahu persis kejadian yang dihadapi Gigi sebelum kami bertemu di Teluk Jakarta senja itu. Ya, waktu yang panjang bagi Gigi sebelum kelulusan. Dia tidak pernah menceritakannya secara persis karena tidak mau mengingatnya; karena kejadian itu buruk sekali.
Namun yang pasti perlakuan buruk orang-orang terhadapnya mulai dia rasakan setelah dia berdiri di hadapan para siswa, guru, wali murid, dan juga aku, untuk mengakui bahwa apa yang ditulis di klub mading itu tidaklah benar. Aku masih ingat dengan riuhnya sorakan anak-anak yang geram, orang tua dan guru yang saling berbisik satu sama-lain. Gigi terlihat sangat pucat dan berulang kali tertunduk sembari menyeka air matanya. Dia membuat sebuah pernyataan yang kemudian memancing emosi sampai-sampai ada yang melemparinya dengan botol minuman dan sampah-sampah lainnya.
Ya, Gigi sempat diamankan beberapa orang guru ke ruangan kepala sekolah dari amukan anak-anak perempuan yang kesal padanya. Aku memperhatikannya dari kejauhan bahkan saat ia menoleh dengan penuh rasa bersalah kepadaku, tapi saat itu aku memalingkan wajahku dan pergi; karena aku marah dan benci sekali padanya.
“Setiap aku lewat mereka selalu bersorak, menyebutku pembohong, penipu, apa pun yang bikin aku nangis. Kadang, ada yang mengurung aku di toilet…,” katanya lagi, kembali terisak. “Guru-guru nggak melakukan sesuatu di saat aku melapor ada yang mencuri bukuku dan aku menemukannya dalam keadaan hancur. Dalam pelajaran olahraga nggak ada yang mau satu tim dengan aku bahkan kelompoknya sudah ditentukan guru… mereka semua memperlakukan aku nggak adil… tapi aku berusaha… berusaha untuk nggak nangis, karena aku sadar yang aku lakukan salah….”
Aku juga termasuk orang yang memperlakukannya dengan buruk saat itu selain dari teman-teman yang terus meledek dan mencemoohnya di sekolah. Setelah hari pengakuan itu dia kembali mendatangiku untuk meminta maaf atas apa yang dia lakukan pada Saira, aku juga mengucapkan kata-kata yang kejam padanya, “Aku nggak mau melihat wajah kamu lagi!” lalu membanting pintu di depan wajahnya. Aku tidak pernah tahu suatu hari dia muncul di Sydney; hadir pada pemakaman ayahku.
“Aku sudah menerima hukumanku, apa lagi?!” Gigi tiba-tiba berteriak. “Nggak ada yang tahu gimana sulitnya bertahan di satu tempat di mana semua orang membenciku… di saat aku pikir aku nggak boleh kalah, aku bersikeras nggak mau pindah dari sana… aku masih ingin membuktikan bahwa aku bisa jadi lebih baik. Aku belajar mati-matian untuk menghibur diri sendiri dari perlakuan orang-orang… apa itu nggak cukup sebagai balasan setelah sekarang aku divonis nggak pernah bisa jadi seorang ibu?! Ini udah nggak sebanding lagi! Sekarang semua perusahaan property bakal menolak aku! Ini semakin nggak adil, Sidney!”
“Ssst…” desisku sambil merangkulnya. “Sudah….”
“Ini nggak adil…,” jeritnya lagi dengan suara tertahan, sampai-sampai suaranya parau.
Aku belum pernah melihat Gigi seperti ini dan sedikit menyesal kenapa aku tidak ada di saat ia membutuhkanku waktu itu. Jika seandainya aku tidak meninggalkannya, mungkin Gigi tidak akan se-depresi ini. Aku pun mempererat pelukanku.
“Aku di sini ‘kan?” ujarku. “Kamu nggak kekurangan apa-apa….”
Gigi masih terisak-isak seperti anak kecil di dadaku.
“Kamu nggak butuh pekerjaan untuk mengisi waktu karena merasa bosan…” ujarku lagi. “Karena aku di sini. Kamu nggak perlu harus nungguin aku pulang kerja lagi….”
Gigi melepaskan dirinya dan kemudian menatapku heran. “Maksud kamu?”
“Aku udah melepaskan perusahaan, artinya aku akan lebih banyak di sini bersama kamu….”
“Kenapa?” Gigi masih tampak heran.
“Karena kita hanya berdua… kita nggak butuh perusahaan, kita nggak butuh apa-apa selain bisa bersama….” Jawabku.
Seulas senyum terbentuk di bibirnya yang pucat sebelum aku menciumnya dengan lembut. Kuharap dapat mengusir semua kegelisahannya dan kegelisahanku sendiri karena beberapa hari yang lalu aku mencium wanita lain dan….


Komentar
0 comments