[Novel Romantis] Saira Ch.13 (3/5)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
“nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan…” suara operator masih menjawab telpon Gigi sejak pagi. Aku mulai gelisah, apakah terjadi sesuatu padanya? Harusnya saat dia senang karena kemungkinan klien akan suka dengan design gedung yang dia buat. Tapi, aku juga tidak tahu apakah presentasinya berjalan lancar.

Aku semakin gelisah karena tidak ada orang lain yang bisa kuhubungi lagi selain ibu dan kakak-kakaknya yang mengatakan bahwa Gigi belum mengunjungi mereka lagi sejak aku kembali ke Sydney. Perasaanku tidak enak dan itu masih berlanjut sampai aku akhirnya bertolak ke Jakarta. Gigi tidak bisa dihubungi.
Ide memberi kejutan itu sepertinya kacau. Ya tidak akan ada mawar merah di tempat tidur, lilin aromaterapi dalam gelap. Wine dan candle light. Semua itu lenyap dari pikiranku. Aku pulang ke rumah kami yang baru dengan perasaan takut; barangkali Gigi merasakan getaran bahwa aku telah melakukan sebuah kesalahan besar. Aku melupakan bahwa dia ada, dia menungguku kembali untuk mendengarkan cerita tentang presentasi pertamanya. Mungkin dia marah karena aku tidak bisa dihubungi; bisa jadi. Gigi kesal padaku. Selama ini dia selalu curiga padaku, dan kecurigaan itu akhirnya terjadi juga.
Namun, aku harus melupakan dua hari yang mengejutkan itu dan melanjutkan kehidupanku. Aku dan Saira sepakat bahwa kami akan menjalani kehidupan masing-masing tanpa saling mencari lagi. Ya, itulah akhir yang kuinginkan. Aku akan kembali pada istriku, memulai kehidupan baru setelah aku melepaskan perusahaan ayahku. Mungkin aku akan menjadi psikolog, guru, atau apapun yang bisa kulakukan asal aku berada di tetap samping Gigi.
Menelan semua rasa bersalahku, aku memencet bel pintu satu kali. Aku melirik jam tanganku; jam sembilan malam. Mudah-mudahan dia sudah berada di rumah. Aku masih tetap merindukannya dan berharap ia tidak marah; justru karena dia tidak pernah marahlah yang membuatku sangat khawatir. Tapi, satu menit berlalu tanpa jawaban dari dalam.
Apa dia tidak di rumah?
Aku memencet bel sekali lagi. Tapi, masih hening. Aku meraih gagang pintu dan baru tahu kalau ternyata pintunya tidak dikunci. Firasatku semakin tidak enak terlebih saat masuk, aku tidak melihat sedikitpun cahaya. Semua lampu dimatikan.
“Gigi?!” aku mulai melangkah masuk dengan mengendap sambil mencari-cari saklar lampu. “Magisa?!”
Tak ada jawaban, sampai aku berhasil menghidupkan lampunya.
Ya Tuhan, jantungku seakan melompat keluar dari rongga dadaku saat kutemukan ruang depan berantakan; sofa dengan posisi tidak beraturan. Di satu sisi dinding ruang tengah aku melihat maket gedung yang dibuat Gigi hancur seperti telah dibanting dengan begitu kerasnya. Tidak hanya itu, aku menemukan banyak pecahan kaca vas dengan bunga krisan yang telah mengering di lantai.
“Gigi?!” aku berlari ke kamar karena tidak melihatnya di ruang depan dan di ruang tengah.
Rupanya Gigi tergeletak lemas di sudut kamar. Aku menghambur meraih tubuhnya untuk memastikan dia tidak dilukai perampok atau pencuri yang mengobrak-abrik rumah kami.
“Gigi?!” aku mengguncang-guncang tubuhnya karena matanya terpejam.
Warna kulitnya seakan memudar pucat. Tubuhnya dingin dan berkerigat. Bibirnya pun berwarna keabuan. Aku tidak melihat darah atau luka di sekujur tubuhnya.
“Sayang, kamu kenapa?!” seruku sambil menepuk-nepuk pipinya. “Magisa?!”
***










Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments