๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Pandanganku berkunang-kunang, selepas dari mimpi-mimpi tidak jelas tentang laut, perjalanan jauh entah ke mana, lalu hal pertama yang kulihat ketika membuka mata adalah sosok seorang perempuan yang membuatku terperanjat.
Dia duduk di ranjangku, memandangi foto pernikahanku di dinding.
Aku segera bangkit dan kusadari perempuan dengan rambut klimis yang dikucir ke belakang itu adalah….
“Reggina?!” teriakku, histeris. Jantungku berdebar keras. Apa yang dia lakukan di sini? Kenapa dia bisa masuk ke rumahku?
Adikku menoleh dengan tatapan menjurusnya, “Good morning,” sapa dia, tersenyum namun sedikit menakutkan.
“What are you doing here?!” teriakku, sambil berusaha mengatur nafasku.
Reggina masih tersenyum dengan tatapan dinginnya. “To make sure that you’re okay…” jawab dia tenang dan terdengar perhatian. “Kamu menghilang dua hari dan Mum histeris karena nggak kembali selain itu juga nggak bisa dihubungi. Kamu melewatkan dua kali makan malam keluarga. Menurut kamu siapa yang nggak khawatir?”
“Aku bukan anak kecil!” celetukku sambil turun dari tempat tidur dan mulai melangkah keluar dari kamar. Aku membutuhkan air.
“Yeah, we know….” Kata Reggina sambil mengikutiku ke dapur.
Aku membuka kulkas, berharap menemukan air mineral dingin di dalamnya. Untuk beberapa saat aku mengabaikan Reggina yang mengamatiku minum sampai kemudian aku duduk di salah satu kursi meja makan dan berhadapan dengan tatapan dinginnya yang mengisyaratkan sesuatu. Jika Reggina sampai datang ke sini, pasti ada sesuatu yang meresahkan.
Aku baru ingat, aku memang menghilang dua hari. Aku bersama Saira sampai mengantarnya ke bandara. Itu kemarin malam.
“Kamu sama sekali nggak bisa dihubungi sampai semua orang cemas,” sambung Reggina lagi. “Tapi, yang mengherankan kamu bisa menghubungi Vanessa untuk mengurus tiket penerbangan atas nama Saira Gayatri. Maksudnya apa?”
Aku terkejut. Tapi, dia benar. Aku tidak punya kata-kata untuk menjelaskan saat ini, karena adikku memang tidak tahu apa-apa soal urusan pribadiku.
“You did it again?” tanya dia, kembali dengan gaya mencurigai it.
“Did what?”
“Kamu tahu apa maksud ku,” kata dia. “Memang siapa yang bisa melupakan apa yang kamu lakukan sama Glenda? Dia kembali dari Indonesia dalam keadaan marah dan sedih karena kamu ketahuan menjalin hubungan sama anak SMA yang bernama Saira. Daddy dalam masalah karena keluarga Glenda memutus kerja sama dengan perusahaan. Itu adalah saat-saat yang sulit bagi kita and it was all your fault. Dan… sekarang kamu kembali berurusan dengan gadis itu di saat kamu udah menikah. That is too much, Brother….”
“Itu bukan urusan yang bisa kamu campuri!” kataku, ketus.
“Aku nggak mencampuri. Aku cuma memastikan kalau kamu nggak menyeret diri kamu sendiri ke dalam masalah,” kata dia, tetap tenang di saat aku berteriak. “Apalagi sama seorang gadis yang punya catatan kriminal…”
“Stop it!” teriakku lagi dan Reggina masih kelihatan stabil. “How do you know? Kamu menyuruh orang untuk menyelidiki semuanya?”
“I have to,” tegasnya, sambil berdiri seakan menantangku. Dia masih menatapku dengan mata itu; tajam dan hendak menguliti. “Karena kamu Sidney Adams dan kita memiliki banyak musuh bisnis. Aku harus memastikan kalau kamu menghilang bukan karena mereka. Ya, tapi nggak berarti kamu aman; khususnya dari rayuan perempuan.”
Aku mengernyit. Inilah yang tidak kusukai dar keluargaku. Paranoid mereka terkadang, melampaui batas privasiku. Mereka tidak bisa berhenti mencampuri urusanku bahkan di saat aku sudah menikah. “Jangan memulainya lagi…,” aku memperingatkan.
“Memulai apa?” balas Reggina, masih tenang-tenang saja dan melangkah menjauihiku. Tapi tampak belum berhenti meyerangku. “Untungnya dia udah pergi tapi kekacauan yang dia buat sepertinya masih ada sampai sekarang. Dia mengacaukan kamu ‘kan?”
“Aku udah bilang itu nggak ada urusannya dengan kamu!” kataku, semakin emosi.
Reginna menghela nafas. “Kamu tahu, Gigi mencoba menghubungi kamu dari kemarin. Tapi, nggak ada seorang pun dari kita yang tahu ke mana kamu pergi, terpaksa aku suruh orang untuk melacak keberadaan kamu,” dia kembali menjelaskan dan aku terbungkam. “Dan di sanalah kamu, Hyatt dengan seorang residivis, sementara istri kamu sepertinya sedang dalam masalah.”
“Apa?” aku menghampiri Reginna, saking tidak percayanya dengan yang aku dengar.
“Aku nggak bisa bilang apa-apa soal kamu,” katanya lagi, sambil melangkah menuju pintu. Sepertinya dia akan pergi. “Sampai jumpa.”
Pintu depan terdengar ditutup tidak lama setelah sosok Reggina dengan stelan kantornya menghilang dari pandanganku. Aku merasa sangat marah. Kulemparkan botol mineral dalam genggamanku. Suara pecahan botol kaca itu menghalau kesunyian dalam beberapa detik, sebelum kemudian hening lagi.
Aku kembali duduk di kursi. Tidak tahu apa yang kurasakan, rasanya ingin berteriak. Aku tak pernah merasa seburuk ini sebelumnya sampai-sampai berpikir bahwa kehidupan ini telah membodohiku. Segala hal yang kujalani adalah sebuah kebohongan. Atau… begitukah rasanya tahu kita telah hidup bahagia di atas penderitaan orang lain?


Komentar
0 comments