[Novel Romantis] Saira Ch.12 (4/4)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Aku memandangi ponselku yang sudah tidak bernyawa dan merasa bersalah. Gigi meneleponku berulang kali. Dia pasti ingin memberitahuku bagaimana presentasi maket gedung yang ia kerjakan susah payah dengan kliennya. Aku mengabaikan momen penting dalam hidupnya dengan pergi bersama perempuan yang selalu membuatnya ketakutan. Tapi, aku tidak mampu menarik diriku dari sisi Saira saat ini.

Hampir sepuluh menit aku menunggu Saira di mobil. Saat kulihat ia membuka pintu mobil, raut wajahnya sudah lebih tenang. Aku masih tidak bicara sampai saat kami sudah berada di jalan menuju hotel yang dekat dengan bandara. Besok pagi aku akan membelikannya tiket, lalu mengucapkan selamat tinggal. Ya, kuharap besok semuanya menjadi lebih mudah.
“Enam tahun lalu….” Saira berbicara, dan aku tidak terlalu antusias lagi. Aku mulai terbawa rasa bersalah pada istriku yang pasti mencemaskanku saat ini. “Aku datang ke Sydney untuk bertemu kamu.”
“Apa?”
Kata-katanya berhasil membuatku menoleh dan mengabaikan jalan di depan; hingga aku menepi.
“Ada sesuatu yang harus aku katakan tapi… semuanya nggak sesuai dengan rencana,” kata dia, tertunduk. Suaranya mulai terdengar gemetar seperti ingin menangis.
“Apa yang terjadi?” tanyaku, mulai mengamati perubahan sikapnya dan kudapati Saira menangis; gadis itu akhirnya menangis.
“Aku mohon jangan bertanya, karena itu sesuatu yang nggak ingin aku bicarakan untuk saat ini…,” pintanya, menatapku dengan mata yang dibanjiri tetesan kesedihan.
“Oke, aku nggak akan bertanya soal itu lagi, tapi… kenapa kamu lari sejauh itu dari aku?” tanyaku, sedikit putus asa; kembali ke masa-masa sulit yang kulalui karena kehilangan dirinya. “Aku keliling dunia, hanya untuk mencari kamu dan aku… nggak pernah tahu kalau selama ini kita berada di kota yang sama…”
“Kamu mengkhianati aku, cuma itu yang aku tahu…” jawab dia, “Aku lari karena aku nggak tahu harus gimana… aku… bingung dan merasa ditipu….”
“Aku nggak menipu kamu!” kataku. “Aku memang menjain hubungan dengan orang lain tapi apa yang aku rasakan itu bukan tipuan. Itu benar, Saira. Aku meninggalkan semuanya demi kamu tapi pada akhirnya aku kecewa dan merasa bersalah karena nggak pernah bisa menemukan kamu. Saat aku putus asa, Gigi datang dan sekarang semuanya jadi seperti ini….”
Saira menangis terisak-isak; betapa aku ingin memeluknya. “Baru sekarang aku tahu kalau kita memang nggak ditakdirkan untuk bersama…,” kata dia.
“Aku mohon jangan bilang begitu…,” ujarku, mendekat hendak meraih tubuhnya tapi Saira lagi-lagi menarik diri.
“Jangan…,” katanya, sambil memeluk dirinya; berisyarat agar aku menjauh. “Jangan mendekat…”
“Aku nggak akan menyakiti kamu, kamu tahu itu?” ujarku, tetap berusaha meraih dirinya. Dan entah mengapa Saira terlihat amat ketakutan.
Tubuhnya tampak menggigil. Dia melipat dirinya menjadi serapat mungkin. “Jangan sentuh aku….”
“Kamu jijik karena aku adalah suami dari orang yang kamu benci?” tanyaku lagi.
Saira menggeleng-geleng. Suaranya masih gemetaran, “bukan itu…”
Aku benci memaksa tapi lebih benci lagi saat harus melakukannya. Aku meraih tubuh kurus Saira yang menggigil karena ketakutan dan entah mengapa dia menangis semakin keras. Ingin meronta tapi saat dia berada di dalam dekapanku dia hanya meratap. “Kamu tahu aku nggak akan meyakiti kamu…,” ujarku. “Aku nggak akan melakukannya lagi….ssst… tenang….”
Aku mendekapnya dengan hati-hati; tubuh yang kurus dan lemah. Jika aku memeluknya dengan erat sdikit lagi saja, mungkin tulang-tulangnya akan patah. Saat memeluknya, aku bisa merasakan begitu rapuhnya dia saat ini. Untung aku menemukannya sebelum dia terlantar sangat jauh.
Aku mulai menendang keluar semua prasangka dan pikiran yang mengangguku sejak tadi, karena itu selalu membuatku bingung dan merasa bersalah –terhadap Gigi. Sekali pun aku memang bersalah untuk kali ini. Dan harus aku akui, bahwa mimpi itu sekarang menjadi kenyataan.



Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments