๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Tadi masih ada. Seseorang mencurinya karena dia pikir aku membawa barang berharga,” jelasnya. “Ternyata ada kota yang lebih kejam dari Jakarta. Entah karena di sini aku kelihatan kayak sasaran empuk penjahat… aneh....”
“Kamu nggak lapor polisi?”
“Di dalamnya juga nggak ada barang berharga. Cuma baju-baju yang sama jeleknya dengan yang aku pakai sekarang,” jelas dia. “Lagian, aku nggak bisa Bahasa Inggris. Terakhir kali aku ngomong sama seseorang pakai Bahasa tubuh, aku benar-benar kelihatan kayak imigran gelap. Aku nggak mau masuk kantor polisi lagi…”
“Kamu nggak pernah belajar?”
Dia menatapku. “Kamu nggak tahu apa yang aku lalui,” dia meyakinkanku bahwa dia tidak ingin menjelaskan apa-apa soal itu. “Di sekolah aku juga nggak suka pelajaran Bahasa Inggris. Nggak ada seorang pun yang bicara sama aku…” lalu mulai termenung lagi.
“Apa yang terjadi sama kamu, Saira?” aku bertanya lagi, sambil mendekat dan kuraih lengannya.
Tapi, Saira langsung menepiskannya. Dia menarik tangannya, menatapku tegang; reaksi yang sangat berlebihan seolah dia merasa jijik denganku. “Jangan sentuh!” dia berteriak; suaranya keras sampai aku terkejut.
Tidak satu pun kata yang terucap dariku karena sikapnya itu. Aku masih heran, apalagi di saat Saira menjauh beberapa langkah sambil menatapku dengan wajah ketakutan. Akhirnya, aku hanya membiarkannya berada dalam jarak satu meter dariku. Aku sedang tidak ingin bertanya, karena dia memang aneh. Dia benar-benar tidak bisa dimengerti.
“Aku… hanya nggak suka…,” kata dia, suaranya rendah dan pelan. Kusadari jarak kembali berkurang dari tempatku berdiri dan bertanya-tanya. “Aku….”
“Kamu jijik sama laki-laki karena sekarang kamu lesbian?” tanyaku, tanpa menatapnya sama sekali.
“Aku bukan lesbian!” bantah dia, lagi-lagi dengan teriakan, meskipun tidak sekeras yang tadi, dia masih saja membuatku bingung. “Aku….”
“Kamu nggak perlu menjelaskan apa-apa,” kataku akhirnya. “Kalau kamu mau pulang ke Indonesia besok, aku akan belikan tiket.”
“Azid….” Saira kembali mendekat.
“Jangan panggil aku sama nama itu lagi!” kataku, “kamu sendiri yang bilang semuanya berubah!”
Ya, giliran Saira yang terdiam.
Aku tidak tahu ada apa dengan diriku. Aku tahu sikapku sangat menggelikan, namun aku tidak bisa menghentikan diriku menunjukan padanya bahwa aku masih memikirkannya, terlebih beakangan ini karena sering memimpikannya. Akuhanya tidak sadar bahwa mimpi itu adalah pertanda bahwa hari ini kami bertemu lagi, sedikit membicarakan masa lalu dengan emosional, mencabik hati masing-masing, lalu saling diam.
“Ini sudah jam tiga pagi,” aku mengingatkannya. “Malam ini aku antar kamu ke hotel supaya kamu bisa istirahat sampai aku mengantarkan tiketnya.”
Ya, Saira tidak membantah semua yang kukatakan. Dia tidak mengangguk. Hanya menatapiku seperti merasa bersalah telah meledekku dengan sikapnya.
“Aku tunggu kamu di mobil sampai kamu puas di sini,” kataku sambil melangkah, meninggalkannya. Kurasa saat ini, menghindari konfrontasi dengan Saira adalah satu bentuk kedewasaaan. Berkali-kali sejak tadi, kami seperti sepasang remaja yang terus saja bertengkar; aku muak. “Jangan sampai kamu menghilang. Kalau benar kamu nggak bohong soal nggak punya apa-apa, berarti tanpa aku kamu nggak akan bisa pulang.”
***


Kenapa ngenes sekali nasib saira mbk?dan sampe akhir tiada kebahagiaan.