[Novel Romantis] Saira Ch.12 (2/4)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
“Apa kita nggak bisa berhenti membicarakan masa lalu?” dia bertanya. Seakan keadaan terbalik; akulah yang menjadi anak kecil di sini dan Saira menghadapiku dengan cara yang dewasa.
Dia benar. Dia sangat benar. Apa gunanya? Tapi…

“Aku ingin ke gedung keong itu, kamu bisa ngantar aku ke sana?”
“Ya,” jawabku cepat, “tapi ada syaratnya? Kamu harus menjawab semua pertanyaanku.”
Saira tetegun, sebelum membalikan badan dan tampaknya dia akan pergi. “Ya udah, aku pergi sendiri.”
“Hei!” panggilku sambil menyusulnya. “Kamu mau pergi jalan kaki?”
Saira tdak menjawabku dan terus berjalan.
“Tempat itu jauh dari sini!” seruku. “Jangan keras kepala!”
Dia menoleh sebentar, “Aku sudah biasa jalan kaki ke mana-mana,” balasnya.
“Ini bukan Jakarta!”
“Aku tahu!”
“Saira!”
Gadis keras kepala itu tidak lagi menoleh. Aku pikir dia hanya sedang mengancamku dengan terus berjalan bahkan ke arah yang salah. Opera House Sydney berada di arah berlawanan, tapi dia tidak peduli bahkan juga tidak mau tahu. Dan terpaksa aku mengejarnya seperti orang bodoh untuk membujuknya supaya naik ke mobilku.
Untuk hal ini, aku sedikit benci pada diriku…
***
Sepanjang jalan dia diam. Aku sesekali melirik ke samping di mana dia mengamati setap ruas jalan yang kami lewati. Ya, dia terpana seakan memang pertama kali berjalan-jalan di kota seperti ini. Selagi aku berusaha menyimpulkan apa yang terjadi padanya selama enam tahun ini bila memang dia tidak berbohong, Saira lagi-lagi tidak mempedulikanku.
Namun, ada semacam perasaan berdebar sejak dia naik mobilku dan tiba-tiba aku berhenti menjadi orang yang nyinyir terhadapnya. Melihat kulit kecoklatan pembalut tulang-tulangnya, aku ragu, enam tahun ini Saira hidup dengan layak. Satu hal yang terbesit saat memperhatikan tindik di hidungnya adalah mungkin Saira telah terjerumus ke dalam pergaulan yang salah; bisa saja dia seorang pemakai atau pengedar obat terlarang, terlibat dengan gembong narkotik, disandera, dan benar-benar menderita. Tapi, setahuku, tidak ada yang bisa selamat dari gembong narkotik, apalagi seorang gadis muda. Semakin memikirkannya, aku merinding, dia masih hidup, bernafas walaupun kurus kering.
Harbour Bridge sudah terlihat.  Saira langsung mendongak keluar jendela. Dia tampak takjub melihat gedung keong berada di antara lampu-lampu. Sayangnya, karena sudah malam kami tidak bisa masuk ke sana. Jika saja dia mau menunggu sampai besok mungkin kami akan bisa menikmati pertunjukan teater yang biasa digelar di sana. Namun, di samping Saira tampaknya ingin melihat landmark itu, ia juga ingin cepat-cepat meninggalkan Australia. Ini sebuah pertanyaan besar lagi; kenapa?
Aku berhenti di Hickson Road karena Saira memintanya. Keseluruhan gedung keong terlihat indah di tambah cahaya lampu yang mengitari Teluk Sydney. Entah kebetulan atau apalah namanya, ini adalah titik yang sama aku dan Gigi bertemu setelah pemakaman ayahku. Di sinilah aku memutuskan untuk melupakan Saira dan menerima perempuan lain dalam hidupku. Aku tidak pernah tahu aku akan kembali lagi ke sini; bersama gadis yang telah kulupakan itu. Seakan Opera House Sydney kesal padaku, dia mengembalikan Saira di saat… hatiku sudah menjadi milik orang lain.
Apa yang bisa kukatakan tentang ini, selain bahwa semuanya sudah sangat terlambat?
“Kamu nggak mau nunggu sampai besok untuk pertunjukannya?”  tanyaku, ikut memandang Opera House Sydney.
“Aku nggak ingin tinggal lebih lama. Udara di sini kadang bikin aku sesak,” jelasnya. “Aku sudah ada di Sydney, lalu apa?”
“Apa setelah kamu kembali kita nggak akan bertemu lagi?”
“Azid, kalaupun kita bertemu lagi, apa yang akan kita lakukan?” balas dia. ”Aku nggak mau mengganggu rumah tangga orang, lagipula aku sudah melupakan semuanya....”
Kata ‘melupakan’ yang terlontar dari bibirnya sedikit membuatku syok. Entah mengapa.
Tujuh tahun waktu yang cukup lama mengubah banyak hal…,” dia mengingatkanku.
“Ya, kamu benar,” kataku. “Apa gunanya kita bertemu lagi?”
Saira pun diam.
Meski pun sudah larut, aku masih menemukan beberapa orang pelancong yang asyik befoto di ujung. Saira memandang mereka sebentar, sebelum gedung keong benar-benar menyita perhatiannya. Ia terdiam sangat lama; tepatnya termenung. Dan aku hanya bersadar dengan lelah, menunggu Saira puas dengan pemandangan, lalu pergi.
“Jadi kalian menetap di sini sekarang?” Saira bertanya tiba-tiba dan aku menggeleng dengan lesu.
“Di Jakarta. Sebenarnya dalam waktu dekat aku juga akan kembali ke Jakarta. Gigi di sana,” jelasku.
“Oh ya?” hanya itu yang Saira katakan. Ekspresinya datar. “Pasti menyenangkan….”
“Ya…,”
Lalu hening lagi. Angin laut bertiup dengan dinginnya sampai Saira harus memeluk dirinya di dalam jaket lusuh yang membalut tubuh kurusnya.
“Kamu sama sekali nggak punya barang bawaan?” tanyaku.






Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments