๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Hei,” Saira mengalihkan pandangannya dari taman kecil di seberang jalan raya ke arahku. “Kamu tahu gedung di Sydney yang bentuknya seperti keong itu?”
“Maksud kamu Sydney Opera House?” balasku.
Dia hanya mengangkat bahunya. “Aku bilang aku lupa namanya,” kata dia, sedikit gusar.
“Ya, itu tempatnya, yang bentuknya seperti keong dan berdiri di pinggir laut,” aku menjelaskan. “Jangan bilang kamu belum pernah ke sana.”
“Memang,” celetuk dia. “Aku hanya pernah lihat di gambar atau di TV.”
Aku tertawa lagi. “Apa saja yang kamu lakukan selama enam tahun?” aku kembali mengulangnya dan seketika ia berubah muram.
“Kita bisa pergi ke sana?” tanya dia, menatapku serius dan mengabaikan pertanyaanku. Dia selalu menghindar dari pertanyaan tentang enam tahun. “Aku nggak tahu setelah pulang akan kembali ke sini.”
“Kenapa kamu ingin sekali ke sana?”
Saira diam beberapa saat. “Hanya ingin tahu….” Jawabnya, tiba-tiba murung. “Mungkin karena tempat itu kelihatan sangat menyenangkan dan terkenal.”
“Harusnya kamu ke sana di hari pertama kamu datang ke Australia.”
Gadis itu menggeleng, masih belum membuang muram di wajahnya. Kemudian ia menatapku, cukup lama; itu adalah tatapan terlamanya padaku sejak pertemuan hari ini. “Aku harap juga begitu,” ia menjelaskan dan kembali memandang ke seberang jalan. Kali ini tatapannya kosong. “Terlalu banyak kejadian buruk di sini….”
“Kejadian apa?” aku mengunci mataku pada sosoknya yang sedang menyelipkan rahasia lagi. Saat Saira tidak mau menjawab dengan jujur dia pasti memalingkan wajahnya.
“Satu hal yang aku ingat dari gedung keong itu adalah nama kamu ada di dalamnya,” kata Saira tiba-tiba. Kemudian sepasang mata yang indahnya telah tersamarkan itu, menatapku. “Aku pikir… nama itu juga bersejarah seperti gedung keong.”
“Gimana kamu tahu?” balasku.
“Tebakan…,” jawab dia sambil menghembuskan nafas.
Dingin mulai menyusup pada udara malam. Angin sesekali bertiup. Aku menatap seksama ke arahnya dan dia juga. Aku tidak menyangka dia menunjukan bahwa dia masih memikirkanku. Ah ya, kami pernah saling jatuh cinta.
“Ibuku seorang pemain biola dan bergabung dengan grup orchestra yang bermarkas di Opera House. Di salah satu pertunjukan balet yang digelar di sana, tim orkestranya mengiringi music pertunjukan itu. Kebetulan ayahku menontonnya dan mereka bertemu. Itulah kenapa anak pertama mereka diberi nama Sydney. Karena kesalahan dari orang bodoh di pencatatan sipil dia mengganti huruf y dengan huruf i. Ya, itu sangat merusak momentum,” jelasku tanpa berpaling darinya sedikitpun. “Dan kamu juga merusaknya dengan mengganti namaku dengan nama yang aneh.”
Saira tertawa pelan. “Aku cuma nggak suka…,” kedengarannya akan sedikit mengklarifikasi. “Si kawat gigi memanggil kamu pakai nama itu dengan gaya yang sama sekali nggak aku suka….”
“Sejak kapan kamu mulai cemburu?”
“Kamu mengawasi aku, aku tahu. Tapi, aku nggak cukup berani,” jawabnya cepat. “Karena aku ini seperti virus menular berbahaya dan karena itu aku seolah nggak punya hak untuk bicara dengan siapapun yang aku suka.”
“Tapi, kamu tipe yang suka berbuat semaunya, seingatku….”
“Salah!”
Aku terdiam lagi.
“Semua orang selalu salah menilaiku sejak dia menghancurkan semuanya. Apa pun yang aku lakukan akan selalu salah di mata orang,”
“Kamu mem-bully dia dulu,”
“Oh, dia cerita?”
“Semuanya.”
Saira diam. “Ya, aku nggak akan membantahnya,” katanya, dan mulai berjalan lagi. “Aku nggak menyukainya karena dia anak cupu yang suka menguntit. Aku cuma nggak suka dibuntuti dan ditanyai banyak hal.”
“Terus kamu mengajak teman-teman kamu yang lain mem-bully?”
“Apa?” dia kedengaran emosi. “Aku nggak perlu orang lain kalau cuma untuk bikin dia kapok. Memang sudah nasibnya sial sejak kelas satu dan itu juga bukan salahku.”
Satu pertanyaan besar sudah terjawab; meski bukan jawaban yang penting untuk diketahui saat ini. Namun, setidaknya, Saira sudah mulai ingin berterus terang.
“Udahlah, itu nggak pantas lagi diingat,” kata Saira. “Cuma bikin sakit hati. Lagipula mungkin dia sudah jadi wartawan acara gossip sekarang.”
“Dia seorang arsitek,” celetukku, tanpa ragu-ragu.
“Oh ya?” Saira mengernyit, seakan tidak percaya. “Dari mana kamu tahu?”
“Aku tahu semua tentang dia…” jawabku tertunduk sejenak, sebelum menatapnya lagi dan kusaksikan air muka Saira berubah. Tapi, harus kukatakan padanya. “Dia istriku, Saira….”
Seperti dugaanku, Saira tercengang, sampai kedua matanya melotot, tanpa berkedip. Dan itu bukan ekspresi yang dibuat-buat. Ya, dia tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya dariku. Bibirnya tampak ingin mengatakan sesuatu tapi dia selalu kehilangannya. Mengambil beberapa langkah mundur dariku, dia langsung berbalik. Kulihat dia menyeka wajahnya dengan tangan. Entah, bagaimana ekspresi wajah yang dia sembunyikan.
Namun, tentu aku merasa sangat bersalah. Aku tidak pernah tahu bahwa kami akan bertemu lagi seperti ini.


Komentar
0 comments