[Novel Romantis] Saira Ch. 11 (4/5)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Dia berjalan lagi seolah kaki-kakinya yang kurus tidak pernah merasa lelah. Padahal dia juga tidak punya tujuan pasti. Katanya selain tidak punya uang juga tidak punya tempat tinggal. Siapa yang menelantarkannya? Saira tidak pernah menjawab dengan pasti. Dia hanya berkata ingin pulang. Namun, ada yang aneh saat aku memperhatikan langkahnya yang ringan.
Sesekali tampak Saira menghirup udara setiap angin bertiup. Entah. Aku melihatnya seperti seekor burung yang baru saja lepas dari sangkarnya dan terbang bebas. Sejak meninggalkan restoran dengan perut kenyang, dia sedikit lebih ceria walaupun masih menghindari banyak pertanyaan dariku. Selain itu juga dia masih enggan memulai percakapan.
Cahaya matahari semakin berkurang intensitasnya. Aku mungkin melewatkan makan malam di rumah sebagaimana aku mengabaikan telpon dari Mum dan Gigi. Aku mengikuti langkah Saira seakan takut ini akan menjadi terakhir kalinya lagi aku melihatnya. Dia seringkali menghilang seperti hantu lalu muncul secara mendadak.
“Malam ini kamu tidur di mana?” tanyaku akhirnya.
Saira tengah menatap dengan hampa pemandangan jalan di depannya. “Entahlah,” jawab dia. Ada sesuatu yang dia pikirkan saat ini. “Aku nggak pernah jalan-jalan di kota seperti ini….”
“Oh ya?”
“Pertama kali datang ke Sydney, aku seperti gadis kampung yang baru tahu seperti apa rupa kota besar,” sambung dia. “Maksudku kota yang lebih besar dan maju dari Jakarta.”
“Kapan kamu datang?”
“Aku bilang enam tahun yang lalu.”
“Dan nggak pernah pulang?”
Saira menggeleng.
“Jadi… di mana kamu selama enam tahun?”
“Kamu nggak bakal ingin dengar.”
“Siapa bilang? Kamu malu mengakui kalau kamu jadi TKW dan selama bertahun-tahun disiksa oleh majikan, terus baru berhasil kabur sekarang?”
Saira malah tertawa terbahak-bahak. “Kamu itu… selalu membuat drama sendiri tentang orang lain,” katanya seperti mengejek. Lalu mendahului langkahku. Tapi tiba-tiba dia kembali. “Oh ya Azid, kamu punya rokok?”
“Aku berhenti merokok,”
“Banci!” teriaknya.
Aku tidak bisa bilang bahwa aku berhenti merokok karena Gigi tidak menyukai bau asap rokok. Dia sering memarahiku kalau ketahuan merokok diam-diam. Aku pun kembali mengambil dompet untuk mengambil uang. “Kamu mau beli rokok?”
“Wah! Wah! Benar-benar konglomerat, apa-apa tinggal ‘sret’!” dia mengejekku lagi sambil tertawa.
“Ambil,” kataku, hampir putus asa karena Saira tidak mau menerima uangku.
Saira masih menolak dengan tetap berjalan. Keanehan sifatnya tidak pernah berubah.
“Daritadi kamu terlalu banyak tanya soal aku tapi aku belum tanya apa-apa soal kamu.” Dia mulai bicara lagi.
“Tanya apa?” balasku.
“Kamu sudah menikah?” akhirnya dia menanyakannya.
Aku tidak langsung menjawab.
“Kasihan sekali kamu, semakin tua tapi nggak menikah,” kata Saira, membuatku sedikit gusar.
“Ya, aku menikah,” jawabku dan dia malah cekikikan sementara aku merasa dia mungkin akan cemburu. “Dan aku memang sudah tua. Tiga puluh dua tahun.”
Dia mengangguk-angguk. “Semuanya memang sudah berubah ya?”
Kami mulai berjalan tanpa tujuan. Aku sudah hafal dengan gaya Saira yang lebih suka berjalan kaki; apalagi di tempat yang belum pernah ia datangi. Ya, dia layaknya magnet dan aku adalah paku kecil yang terus mengekor ke mana pun dia pergi.
Mungkin, cemburu adalah hal yang berlebihan baginya. Setelah semua yang terjadi, semua yang telah kulakukan dan bagaimana waktu menghapus luka. Aku bertemu Saira dalam sebuah kebetulan yang dicampuri oleh semesta. Meski masih berselubung misteri yang tak kunjung terpecahkan bahkan di saat dia sudah kembali hadir di hadapanku.
Tapi, benar katanya. Semua sudah berubah. Tidak ada lagi cinta gila yang membabi buta, yang memupus akal sehat; yang menguras air mata dan emosi. Misteri tentang Saira bukan hal penting lagi dan harus kupecahkan. Biar saja dia menjadi apa adanya dan tertinggal dalam ingatanku sebagai gadis misterius dengan teka-teki. Saira memang demikian adanya. Tapi, kerinduan terpendam selama ini padanya telah terjawab, meski pun tak pantas lagi disebut kerinduan. Aku sudah mencintai orang lain





Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments