๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Saira kembali berdiri. “Aku harus pergi,” kata dia. “Makasih makan siangnya. Kebetulan aku juga nggak punya uang.”
“Bukan kebetulan. Sepertinya kamu memang nggak pernah punya uang,” balasku.
Saira menarik nafas. “Ya, kenapa kalau aku nggak punya uang?” celetuknya sambil beranjak dari kursi, tampak serius ingin pergi.
Aku mengambil dompet, dan mencabut semua uang tunai yang kusimpan di dalamnya dan menaruhnya di atas meja. “Ambillah,” kataku, “Kamu mungkin membutuhkannya.”
“Aku nggak butuh uang sebanyak itu. Sebentar lagi aku juga pulang,” dia masih berusaha menolak.
“Jakarta?” tanyaku.
“Padang,” jawabnya cepat. “Aku menunggu Papa menjemput…”
“Lalu ibu kamu?”
“Seperti biasa. Dia nggak terlalu peduli.”
Aku pun ikut berdiri. “Kamu sudah menelepon ayah kamu? Di mana dia sekarang?”
“Itulah masalahnya. Aku sama sekali nggak punya handphone untuk ngasih tahu Papa kalau aku sudah keluar…,” kata dia, masih terkekeh. “Aku juga nggak tahu dia di mana sekarang?”
“Keluar dari mana?” tanyaku heran dan seketika Saira tersentak.
Dia tidak langsung menjawab. Sekilas aku merasa dia terdiam karena sedang menyembunyikan sesuatu lagi.
“Aku nggak ngerti sama kamu. Keluar dengan penampilan seperti itu. Nggak punya uang dan handphone. Kamu maunya apa sih?” tanyaku semakin tidak habis pikir.
“Ya begitulah….” Jawab dia acuh.
Lalu aku mengeluarkan ponselku. “Sekarang telpon ayah kamu supaya dia nggak cemas,” kataku.
Saira sempat termangu. “Panggilan internasional? Mungkin Papaku masih di Indonesia.” Jawab dia.
“Apa?!” aku semakin tidak mengerti dengannya. Sebenarnya apa yang dia lakukan di sini? Kenapa ini mulai berbelit-belit?
“Telpon aja. Nggak apa-apa,” kataku akhirnya.
Dengan ragu-ragu Saira mengambil ponselku dan dia mulai memencet sebuah nomor telpon. Tapi, dia memilih menjauh dariku saat bicara dengan ayahnya. Entah apa yang mereka bicarakan cukup lama. Lalu Saira kembali padaku dengan wajah sedih.
“Makasih banyak…,” ucapnya.
Aku masih bertanya-tanya. Setelah tadi dia tampak lega bisa bicara dengan ayahnya, sekarang dia sedih. Aku pikir dia akan pergi lagi, menghindar saat dia tidak ingin bicara, tapi nyatanya ia kembali duduk di kursi yang sempat ia tinggalkan. Mungkin dia sudah tak tahan karena akhirnya dia menangis. Menangis sampai tersedu-sedu.
Ada apa lagi dengannya?
“Saira?” tegurku, karena sekarang ia tampak putus asa akan sesuatu. Apa ayahnya memberinya sebuah kabar buruk? Kurasa….
“Sial…,” gumam dia pelan, tapi menggerutu. Ia menghembuskan nafas lelah lalu menyeka air matanya.
“Hei…,” tegurku lagi. “Ada apa sih?”
Dia mengangkat kepalanya sambil menghapus air matanya, tapi gagal berhenti terisak. Sungguh, aku belum pernah melihatnya menangis sampai seperti itu sebelumnya. “Papa nggak bisa ke sini…,” katanya. “Dia nggak bisa jemput aku….”
“Kenapa?” tanyaku dan Saira menggeleng-geleng. “Saira?”
Aku diam sambil memperhatikannya menangis tersedu-sedu sampai beberapa orang lain di restoran sampai memandangiku.
“Apa karena nggak punya uang?” tanyaku dan Saira hanya menatapku. Aku menganggapnya sebagai jawaban iya.
Saira kembali tertunduk sedih.
“Oke, aku akan belikan tiket pulang,” kataku. “Sekarang bilang kamu tinggal di mana, aku antar pulang. Aku akan menyelesaikan masalah tiketnya, oke?”
Gadis itu kembali termangu. Dari tadi seringkali ia hanya terdiam menatapku bingung. “Aku nggak punya tempat tinggal.”
“Jangan bilang kamu menggelandang selama di sini!” emosiku terpancing karena dia membuatku semakin tidak mengerti.
Saira menggeleng. “Lebih buruk dari gelandangan….,” katanya. Tapi, tidak cukup meyakinkan.
“Kalau kamu nggak punya tempat tinggal terus kamu tinggal di mana selama ini?”
Lagi-lagi dia diam. Aku mulai membuat drama di pikiranku. Apa Saira tinggal dengan kekasihnya lalu setelah hubungan berakhir dia diusir? Lihat saja dia, dia tidak punya apa-apa selain dari yang dia kenakan di badan. Ya ampun, kenapa dia menjadi menyedihkan begini?
“Azid…,” dia memanggilku. “Kamu bisa berhenti teriak-teriak?” tanyanya, tampak memohon dan seketika aku diam.



Komentar
0 comments