๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Saira hanya memandangi kaleng soda itu tanpa menyentuhnya sama sekali. Bukankah minuman itu yang dia inginkan di Walmart? Dia masih menatapku dengan wajah muram dan merengut. Sejak aku mengajaknya untuk singgah di restoran terdekat dan duduk untuk sekedar bicara; dia belum mengucapkan sesuatu.
“Ngapain kamu di Australia?” tanyaku menatapnya, memperhatiiikaaannn raut wajahnya. “Sejak kapan?”
“Sejak enam tahun yang lalu. Memangnya kenapa?” balas dia, agak ketus tanpa merubah raut wajah masam itu. Dia tampak tak ingin berlama-lama denganku karena dia sendiri tampak gelisah; sambil menggoyang-goyangkan lututnya, menatap ke sana ke mari kecuali ke arahku dan dia beberapa kali menengadah seperti sedang menanggul air mata dengan cekungan yang dalam pada kedua matanya. Agaknya dia benar-benar terpaksa menghadapiku.
“Enam tahun?” balasku, tertawa satu kali. Aku belum mau mempercayainya. “Bagaimana mungkin orang yang tinggal enam tahun di Australia masih nggak bisa Bahasa Inggris?”
Saira tampak terkejut.
“Aku lihat saat tadi pelayan bertanya kamu sama sekali nggak menjawab, kamu kelihatan ragu,” kataku.
“Aku ngerti Bahasa Inggris, tapi cuma nggak bisa ngomongnya, puas?” celetuknya benar-benar gusar sekarang dan aku tertawa.
“Sama saja. Jadi…. enam tahun?” aku mengulangnya sekali lagi. “Apa yang kamu lakukan selama enam tahun di Australia?”
“Apa peduli kamu?” dia masih menjawabku ketus. Sementara aku mulai berpikiran macam-macam.
“Sudah ketemu ladang bunga mataharinya?” tanyaku kemudian, berusaha untuk tetap ramah. Bagaimana pun enam tahun jugalah kami tidak bertemu. Aku mencarinya ke sana ke mari, tapi tak pernah bisa menemukan keberadaannya.
Tiba-tiba dia berdiri; benar-benar kelihatan marah. Sepertinya dari semua pertanyaanku yang tidak dia sukai, inilah yang membuatnya habis kesabaran. Sehingga aku ikut berdiri, untuk menahannya. “Oke,” ujarku. “Maaf! Aku sama sekali nggak berniat menginterogasi, oke?”
Saira tampak menghela nafas sebelum duduk lagi. Dia berusaha menenangkan diri. Sepertinya dia mudah sekali terpancing emosi. Beberapa menit kemudian dalam diam pelayan datang membawakan makanan pesanan kami.
Aku melirik jam tanganku, hampir jam setengah tujuh. Lima kaleng whipped cream dalam keranjang masih ada di tanganku. Mum sebentar lagi pasti menelpon karena dia membutuhkan bahan ini untuk bisa segera memanggang Pavlova-nya di oven.
Saira mulai tidak mempedulikanku karena dia harus makan. Melihat caranya makannya yang lahap, dia pasti sangat lapar. Apa yang kulihat darinya semakin membuatku penasaran. Apakah yang dia lakukan di Australia? Kenapa penampilannya begitu lusuh dan kotor? Dengan siapa dia tinggal? Aku ingin menanyakan itu segera, tapi aku tidak mau hujan pertanyaan malah membuatnya menghindar. Bukankah Saira selalu tertutup? Susah payah menahannya pergi, aku tidak bisa membiarkannya masih menyisakan banyak misteri, walau kenyataannya segala sesuatu tentang Saira di dalam hidupku adalah misteri.
Dia selalu datang dan pergi sesuka hatinya; meninggalkan banyak pertanyaan yang tak bisa terjawab.
“Aku mau pulang ke Indonesia,” kata dia tiba-tiba. “Aku ingin segera pergi dari sini….”
Aku mendengarkannya dengan seksama, sebelum memikirkan satu pertanyaan dengan hati-hati. Mungkin aku harus memahami polanya lebih dulu sebelum melemparkan banyak pertanyaan. “Lalu?” tanyaku, berusaha mengikuti alur pembicaraan Saira selanjutnya.
“Aku menunggu seseorang menjemput, tapi dia belum datang….,” jawab dia.
“Siapa? Pacar kamu?” balasku, dan Saira sedikit tercengang, sebelum tertunduk sejenak. Dan ia mengalihkan ekspresi sedihnya dengan meminum soda dari gelasnya. Tiba-tiba dia tertawa pelan.
“Pacar?” balas dia, mulai terkekeh seperti penghinaan terhadapku. “Aku nggak ingat kapan terakhir kali aku masih selera sama laki-laki….”
“Oh, jadi sekarang kamu seorang lesbian?” balasku.
Saira tertawa makin keras. “Kamu pikir begitu, Azid?” balas dia.
Sudah lama sekali aku tidak mendengar dia memanggilku dengan nama itu. Ternyata dia belum lupa walaupun mungkin orientasi seksualnya mungkin sudah berubah.
“Aku nggak percaya siapa-siapa,” dia menegaskan padaku.
“Aku minta maaf soal itu,” kataku, rasanya dia pernah bicara tentang kepercayaan terhadap seseorang dulu.
“Soal apa?” balas dia, cepat. “Soal cewek di apartemen?”
Aku mengalihkan pandanganku sejenak, karena kejadian itu masih saja membuatku sesak setiap mengingatnya. Entah mengapa Saira bisa tertawa seakan itu lucu. Dia seolah menikmati kebingunganku. Atau mungkin saja dia sudah tidak peduli.
“Itu sudah lama,” dia mengingatkan. “Semuanya sudah berubah. Apa lagi sekarang?”


Komentar
0 comments