[Novel Romantis] Saira Ch. 10 (3/3)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Aku mengendarai Cadillac-ku menuju rumah Mum. Sebelum berangkat ke Indonesia, aku ingin tinggal di sana beberapa hari karena aku tahu dia berusaha menahan  diri untuk tidak terlalu mencemaskanku. Ibuku memang sangat paranoid terhadap anak-anaknya, terlebih setelah Daddy meninggal. Ia sangat takut ditinggal sendirian. Tapi, belakangan tampaknya ia mulai berdamai dengan kehidupanku yang sekarang.
Ah ya, aku belum menceritakan banyak tentang keluargaku. Ibuku adalah seorang wanita keturunan Tionghwa Indonesia sedangkan ayahku berasal dari Sidney. Sama seperti Gigi, Mum menghabiskan masa mudanya di Indonesia, tapi tepatnya di Manado. Ia bertemu dengan ayahku saat mendapat beasiswa untuk kuliah jurusan seni di Australia. Ibuku dulunya seorang pemain biola, bakatnya itu menurun ke Beatriz. Sedangkan ayahku dulunya adalah seorang pialang saham sebelum ia membangun perusahaan sendiri, dan bakatnya sudah jelas diturunkan kepada Reggina. Sedangkan aku tidak mendapatkan bakat apa-apa dari orang tuaku, selain dari menjadi pendengar yang baik.
Secara fisik, kedua adikku lebih bule, karena mereka mewarisi rambut kecoklatan dan bola mata kebiruan dari Daddy. Sedangkan aku? Mataku sipit dan maniknya hitam, segelap rambutku. Hanya hidung mancunglah warisan ayah satu-satunya yang menempel di wajahku. Untuk ukuran orang bule aku termasuk yang tidak bertubuh tinggi, hanya sekitar 172 cm.
Aku pernah tinggal di Jakarta dua kali. Pertama, ketika kehidupan kami belum mapan, Dad mengirim kami ke Indonesia. Aku sempat menempuh SMA di sana dari kelas dua sampai pertengahan di kelas tiga di SMA Kartika Jaya. Sembilan tahun kemudian aku kembali ke sana untuk menyelesaikan penelitian tesisku. Ya enam bulan yang tidak terlupakan bagiku.
“Kamu sama sekali belum bilang Magisa?” Mum bertanya. Ia sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk kami selagi Reggina dan Beatriz belum pulang.
“Surprise,” jawabku sambil menghampiri untuk melihat apa yang bisa kubantu untuk makan malam spesial kami.
Mum tersenyum, sementara tangannya sibuk mencincang daging. Dia ingin membuat pie daging dan sup kacang polong. Aku bisa melihat semua bahan sudah disiapkan di atas meja oleh Winnie, pengurus rumah tangga.
“Kamu mau Pavlova?” tanya Mumpadaku.
“Ya, it would be nice. Satu bulan di Jakarta aku sering makan mie cup instan, lontong sayur dan krupuk,” jawabku sambil tertawa.
“Oh ya?” Mumi kut tertawa.
“Gigi sudah bosan dengan menu barat,” jelasku, “Semua itu nggak ada di sini,”
“Tapi, kita kehabisan whipped cream,” kata Mom. “Can you get it from the store?”
Aku mengangguk dan segera mencari kunci mobil. Sudah lama aku tidak disuruh belanja oleh ibuku ke toko yang berada cukup jauh dari rumah. Dalam perjalanan aku menyempatkan diri menghubungi Gigi.
Apa dia sudah selesai dengan maketnya?
“Kamu menelpon di saat yang tepat!” kata Gigi padaku, bahkan di saat aku belum menyapa sama sekali; kedengarannya buru-buru. “Aku mau ketemu klien dan presentasi. Nanti aku telepon lagi. Daag! I miss you!”
Aku tertegun lalu tertawa setelah panggilan itu langsung terputus kurang dari satu menit saja. Aku lupa, hari ini adalah hari ia mempresentasikan design yang dibuatnya ke klien penting yang selalu ia tunggu. Pasti dia berdebar, pikirku sambil membelokan mobil memasuki parkiran sebuah Walmart di pusat kota Sydney. Aku tidak tahu tempat lain yang bisa dituju untuk belanja, jadi melihat supermarket, aku pastikan aku akan berputar-putar untuk mencari whipped cream.
Mummy menyuruhku membeli whipped cream jadi karena takut tidak punya cukup waktu untuk memasak menu yang lain jika dia membuatnya sendiri. Pavlova membutuhkan banyak sekali whipped cream. Tidak sampai lima menit, aku menemukannya di salah satu rak. Aku memasukan lima kaleng whipped cream ke dalam keranjang, kemudian langsung menuju ke kasir yang berada di dekat pintu keluar. Karena ada pelanggan lain, aku harus mengantri.
Sekilas aku memperhatikan kernyitan di dahi penjaga Walmart yang tampak menunggu pelanggan di depanku merogoh saku jaketnya; mungkin mencari uang receh untuk sekaleng minuman yang dia ambil dari rak.
“Hurry up, please...” kata lelaki kulit hitam itu, tapi si dia masih saja merogoh saku-sakunya seakan kehilangan sesuatu; mungkin dompetnya. Tapi, bisa jadi juga dia tidak punya sepersen pun di dalam kantongnya. Karena dia kelihatan seperti berandalan. Berandalan biasanya selalu memaksa penjaga minimart untuk memberinya minuman gratis. Aku khawatir bila tiba-tiba orang ini menodongkan pistol dan meminta kasir membuka kotak uangnya.
Aku melihat punggung yang kurus ditutupi jaket hitam bertudung. Aku tidak bisa memastikan apakah dia laki-laki atau perempuan dari belakang. Tapi, memperhatikan blue jeans robek membalut sepasang kaki yang amat kurus itu, posturnya lebih mirip seperti perempuan. Ya, dia ternyata berambut panjang, dan helaian rambut hitam legam itu terurai keluar dari tudung kepalanya menutupi wajahnya. Aku pastikan dia adalah seorang perempuan.
Perempuan yang panik; ia tidak terdengar bicara sepatah kata pun pada kasirnya. Dan tampaknya dia memang tidak punya uang, apalagi senjata.
Aku berniat memotong antrian dan melewati gadis itu karena tidak ingin menunggu lebih lama dan membayarkan sekaleng minuman yang harganya tidak seberapa. Tapi, tiba-tiba langkahku terhenti karena aku mendengarnya menggumam dengan kesal; tidak jelas apa yang dia katakan.
“Brengsek!” satu kata itu membuatku tertegun dan seketika menoleh ke belakang, tempat gadis kurus itu berdiri dan mengeluh karena ia tak bisa menemukan uang receh di kantongnya sendiri. Aku tidak menyangka bahwa ternyata dia juga orang Indonesia dan aku lebih kaget lagi saat aku sadar bahwa aku juga mengenali wajahnya.
Gadis itu masih meggerutu sendiri selagi antrian di belakang bertambah panjang, sebelum dia melihat ke arahku.
“Saira?” tegurku setelah kupastikan, seraut wajah tirus yang kini menatapku itu adalah dia.
Dia terlihat lebih terkejut lagi. Hal yang kudengar adalah bunyi kaleng minuman yang menghempas lantai dan berguling entah ke mana; Saira menjatuhkannya tanpa dia sadari.
Aku pikir ini mimpi lagi; di mana kadang-kadang aku bisa menemukannya di mana-mana. Tapi, dalam mimpiku aku tidak menemukannya di tempat seperti ini; aku tidak pernah bermimpi bahwa ternyata Saira juga di Australia.
Aku pikir setelahnya aku akan terbangun di kamarku dalam keadaan nafas tersengal di atas tempat tidur begitu dia lenyap tanpa aba-aba. Tapi, dia tidak menghilang lagi, bahkan di saat aku mendekat selangkah untuk memastikan bahwa yang kulihat benar-benar Saira Gayatri.









Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments