๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Beatriz langsung kelihatan malas. “Sudah basi, Sid,” katanya lalu tertawa. “Aku pikir nggak lama setelah di telepon, kamu langsung terbang. Tapi, ternyata kami harus menunggu sebulan. Dan herannya Mum bisa tenang selama itu.”
“He’s married now, Triz...,” kata Reggina meliriknya sejenak sebelum menatapku. “That’s why....”
Aku tertawa. “Mum tahu aku sudah menikah dari enam tahun yang lalu. Why is so serious?” balasku.
“We got that,” sahut Reggina, dia mulai menatapku serius ala Scarlett Johanson. “Karena itu kita membuat keputusan.”
“Keputusan apa?” tanyaku mulai penasaran.
“Aku mengambil alih perusahaan,” jawab Reggina dengan jelas.
“Apa?” aku sangat terkejut. Kenapa mereka tidak mengatakannya dari awal? “Kalian memutuskan begitu saja?”
Beatriz mengangguk dengan cepat sementara aku membutuhkan jeda untuk mencerna kata-katanya lebih du. “The problem is... kalau kamu ada di dalam diskusi, kamu pasti bilang nggak apa-apa, demi janji sama Daddy,” potongnya, ikut-ikutan menatapku serius. “Sementara kami tahu, kamu merasa kalau kamu nggak mampu menggantikan Daddy.”
“Apa maksud kalian?”
Beatriz menghela nafas sementara Reggina diam.
“Kenapa aku sama sekali nggak diberi tahu apa-apa?!” protesku.
“You’re not belong here, Sidney,” Reggina mempertegas.
Aku berdiri dari kursiku dan merasa sangat marah. Seperti baru saja di usir dan mereka baru mengatakannya sekarang?
“What’s this all about?!” tanyaku tidak sabaran.
“Yang mau Reggina bilang adalah kami tahu kalau kamu sebenarnya nggak menginginkan ini,” jelas Beatriz lagi. “Kamu harusnya jadi psikolog, bukannya pengusaha. Itu dua hal yang bertolak belakang.”
Aku diam, menyimaknya baik-baik karena kemudian aku merasa bahwa mereka merasakan apa yang kurasakan selama ini.
“Coba pikir, mana ada bos yang mengizinkan karyawannya manggil dengan nama? Kalau dipikir-pikir kamu kebanyakan empati sama karyawan dan di satu sisi itu nggak bagus untuk seorang pemimpin. Kamu sering nggak menempatkan diri sebagai seorang pemimpin di saat itu harus,” lanjut Beatriz. “Itu yang bikin kamu sulit untuk membuat keputusan. Karena ini bukan dunia kamu, that’s it.”
“Lagipula sekarang Gigi kembali ke Indonesia. Kalian hanya berdua dan kami nggak ingin rumah tangga kalian jadi berantakan hanya karena berpisah jauh,” Reggina tersenyum padaku. “Kamu masih bisa jadi psikolog kalau kamu mau.”
“We’ll take care of things here,” ujar Beatriz kemudian. “Just get home to where you belong, Sidney....”
Di bawah sadarkuku, aku selalu dirantai oleh sesuatu yang berat hingga tidak mampu berjalan. Mimpi itu mungkin mengasosiasikan keadaanku di dunia nyata selama ini. Namun, setelah hari aku bicara dengan kedua adikku, aku merasa saat itu mereka melepaskan satu persatu rantai yang mengikat kaki dan tanganku. Mereka menggantikanku untuk menarik beban berat itu.
Aku sudah tidak sabar ingin memberi tahu Gigi bahwa aku sudah bisa pulang ke sisinya. Namun sebelum itu aku harus menyelesaikan pekerjaanku yang masih tersisa sebelum menandatangani beberapa surat penting yang mengukuhkan bahwa Reggina adalah penggantiku. Kupikir aku akan memberinya kejutan dengan pulang tanpa kabar, ya itu ide yang bagus.
Apa aku perlu menaruh bunga mawar di kamar sebagai bagian dari kejutannya? Aku semakin tidak sabar. Walau itu artinya, kemungkinan besar aku akan menghabiskan sisa hidupku di Jakarta. Betapa aku tidak menyukai Jakarta, karena terkadang jujur saja... kenangan itu masih menghantuiku. Aku hanya tidak pernah mengakui bahwa dia masih sering hadir dalam mimpiku.



Komentar
0 comments