[Hal. 3] LAST NIGHT ONCE MORE

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Carra melepasku sendirian karena dia punya jadwal acara karaokean lain dengan teman-teman kami yang lain -yang mana aku nggak ingin ikut walaupun aku juga diundang. Lagipula ini masih jam 7, terlalu pagi untuk dunia malam yang nggak pernah tidur. Jadi, mungkin Carra akan kembali.bersenang-senang.

Aku ikut rombongan Sonia dan geng-nya ke parkiram mobil. Setelah Sonia memastikan siapa ่ฝakan pulang dengan siapa, satu-persatu menghilang ke dalam mobil. Begitu juga aku yang sekarang benar-benar terperangkap dengan Davi.

Meski ini bukan pertama kali aku 'menumpang' pulang dengan cowok, kali ini terasa berbeda.

Aku tidak tahu harus mulai bicara dari mana. Tapi, dia bukan tipe cowok pendiam yang akan membuat ini lebih rumit bagiku. Dia masih dirinya yang heboh dan tertawa di ruang karaoke yang baru kami tinggalkan. Entah bagaimana aku memulainya dengan kata-kata konyol yang membuatnya tidak bisa berhenti tertawa. Baru menyadari aku sangat nggak pendiam dan bawel juga menggemaskan sehingga sesekali tangannya meraih kepalaku dan menarikku ke dekatnya -sebelumnya dia sudah sering melakukan itu di tempat karaoke dan orang-orang menertawai kami yang bertingkah sangat akrab.

Aku membicarakan soal pekerjaan, sedikit cerita tentang keluargaku dan betapa aku menyayangi mereka juga hidupku yang nyaris sempurna tanpa masalah pelik. Dan andai saja perasaanku yang baru saja tumbuh pada orang ini dapat terbalas, alangkah baiknya.

Perjalanan pulang ini terlalu seru diakhiri begitu saja. Aku melirik jam tanganku dan masih jam setengah delapan. Sudah kubilang, terlalu awal untuk pulang setelah biasanya Mama nggak akan peduli aku pulang tengah malam -karena dia tahu kesibukan kerja yang nggak bisa ditoleransi kalau Pak Randy ada.

"Emang nggak apa-apa pulangnya telat?", dia bertanya.

"Nggak apa-apa sih. Asalkan pulang, soalnya aku nggak pernah nggak pulang", jawabku tersenyum lebar dan dia meraih puncak kepalaku sambil berkata, "Dasar, bawel...", dan ia mengambil jalan lurus di mana seharusnya kita berbelok karena rumahku lima menit lagi dari sini.

Dan aku nggak peduli ke manapun dia membawaku. Aku nggak punya firasat buruk bahwa bisa saja cowok yang macam begini bisa berbuat macam-macam. Aku mendapatkan chemistry yang utuh dengan orang baru setelah sebelumnya nggak pernah. Kita bermain seperti anak kecil karena aku baru tahu dia orang yang gelian. Setiap aku menusuk pinggangnya dengan ujung jari seketika dia terkejut. Aku pun sama ketika dia membalasku setiap mobil berhenti di lampu merah atau memang sengaja berhenti.

Aku sadar bahwa ini mulai salah ketika jarak sudah hilang. Dia seolah sedang memelukku ketika dia membalas gelitikan yang ia terima dariku.

"Kenapa kita bisa sedekat ini?", aku bertanya dan dia kembali ke jok-nya. Aku menggeleng-geleng, nggak percaya, setelah sekian lama baru ini perasaan nggak jelas yang membuatku gelisah, "Aku nggak pernah dekat-dekat sama orang yang baru dikenal"

Davi tertawa, "Itu karena feeling lo tau kalau gue ini cowok baik-baik", sembur dia dan aku mencibir, "Cowok baik-baik nggak akan datang ke tempat karaokean! Satu lagi, dia juga nggak akan pegang-pegang cewek yang baru dikenal" balasku.

"Pegang apaan?", Davi sewot. "Itu aja lo bilang pegang-pegang. Nggak enak di gue dong, gue boleh dicomot-comot, masa gue nggak boleh nyomot juga sih?"

"Ya itu bedanya laki sama perempuan!", aku terkekeh dari tempatku.

"Oh jadi lo nggak suka dipegang-pegang?", dia kelihatan agak serius, menatapku sejenak sebelum fokus menyetir lagi, "Ya udah, jangan gelitikin gue lagi"

Aku diam sebentar, memberi dia sedikit waktu untuk menyetir dengan benar, sebelum tangan jahilku membuatnya kembali terlonjak. Matanya membelalak.

"Nantangin gue lo?", ancamnya menoleh ke arahku, "Awas lo ya..."

Mobil berhenti. Dia menyergapku, dan aku merasakan sekujur tubuhku geli tapi masih bisa tertawa walaupun dia kuat sekali dan aku sesak.

"Minta ampun nggak?", ancam dia dan aku meringkuk menahan geli dalam kedua lengannya.

"Nggak mau!", tantangku berusaha melawan dan dia semakin mencengkram pinggangku.

"Iih bandel ya?!", dia sewot lagi dan belum berhenti mengirimkan sentuhan yang rasanya aneh. "Nggak mau bilang ampun, nggak seru..."

Aku nggak bisa bertahan lagi. Bukan karena geli, tapi karena aku cewek normal. Cowok ini pasti nggak kelihatan seperti menggelitik aku tapi memeluk. Memeluk. Aku terdiam, mengatur nafas, tiba-tiba merasa tegang, "Terlalu dekat...", kataku dan dia masih terdiam, menatap ke wajahku. Rasa geli sudah nggak terasa dan aku tahu bahwa ini bukan lagi permainan konyol ala anak kecil.

Chemistry itu menuntun kami ke sini.

Tapi, Davi menarik diri,."Sebaiknya jangan, ntar lo salah paham", katanya, "Bahaya kalau sampai salah paham"

Aku terdiam memperbaiki posisi duduk, menyandarkan punggungku sepenuhnya ke jok dan menoleh ke samping. "Salah paham apa?", aku menenangkan diriku agar nggak kelihatan konyol bahwa sebenarnya aku berdebar.

"Lo juga pasti nggak mau. Kalau suka sama suka sih boleh tapi kalau lo nggak mau gue juga nggak akan maksa", kata dia.

"Maksudnya?", aku bertanya dengan suara datar, menyembunyikan perasaan ganjil ini.

Davi memandang lurus ke depan. Dia tampak berpikir.

"Kenapa lo takut suka sama gue?", pertanyaan itu terlontar begitu saja, setidaknya agar ia kembali tertawa akan konyolnya apa yang aku katakan barusan.

"Ge er banget lo!", celetuknya mencibir dan tertawa sinis. Menolak dahiku dengan ujung jari

"Ya iyalah, gue kan banyak yang naksir...", aku membalas cibirannya lalu mendesah lelah, "Gue merasa aneh, gue baru kenal sama lo kurang dari 3 jam yang lalu"

"Terus kenapa?", balasnya.

"Kalau lo sampai suka sama gue, gue yang repot", kataku mengibas-ngibaskan tanganku sambil menggeleng-geleng penuh ejekan.

"Kok lo yang repot sih?", senyumnya kembali sinis, "Payah lo baru gitu aja udah pakai perasaan"

"Ya iyalah! Gue pasti mikir dong mau dekat-dekat sama orang"

"Aah, kebanyakan mikir sih lo! Jadi ketahuan lo tuh trauma sama cowok"

Aku mengernyit, "Bagus lo tahu!", cetusku agak kesal, "Ya iyalah gue mikir, gue kan punya otak! Dan lagian juga gue bukan cewek rusak, asal lo tahu ya?"

"Rusak gimana?", dia malah tertawa, "Aaah, malah serius! Nggak asik ah! Gue nggak suka ngomongin hal-hal yang kayak gitu, selama suka sama suka nggak ada masalah. Gue kan udah bilang, kalau lo nggak mau ya gue juga nggak maksa kali..."

Aku meliriknya sambil menghela nafas.

Persis.

Persis seperti Tian. Selain umurnya sama juga cara berpikirnya hampir sama. Aku menggeleng-geleng, "Klise...", gumamku. Rasanya bukan pertama kali aku menghadapi orang yang sama sekali nggak membutuhkan hubungan serius.


Memang masa-masa aku dan Tian sudah habis sama sekali sejak lama. Tapi, kenapa aku ketemu orang yang hanya membuatku teringat bahwa aku tipe cewek begok yang begitu mudahnya memberikan semua cintaku hingga nggak bersisa lagi?.

Kenyataannya yang sekarang, bukan Davi yang menaruh perasaan pada permainan gelitikan ini. Tapi aku. Aku yang kalah telak dalam permainan ini. Dan aku membiarkn dia mengambil perasaanku untuk kemudian membuangnya begitu saja seperti sampah setelah dia nggak berkenan lagi untuk bertemu.

Malam itu aku nggak bisa tidur. Bayangan dirinya masih memelukku erat. Aku memandangi layar smartphone-ku berkali-kali dan dia nggak pernah menelponku. Aku jadi bertanya-tanya untuk apa dia meminta nomor telpon jika tahu dia nggak akan pernah menghubungiku. Aku sadar aku masih saja cewek begok yang sama yang kehilangan semua harga dirinya di depan Tian yang aku kejar setengah mati lalu mencampakanku begitu saja. Dan yang kulakukan sepanjang hari adalah berharap bahwa malam itu terulang kembali. Hanya untuk dapat bertemu sekali lagi.

Aku bahkan menangis, menyesali perasaan kesepian yang kurasakan pada tahun-tahun yang baru kulewati. Menunggu untuk ditemukan seseorang yang akan mencintaiku. Rasanya begitu naif ketika kupandangi orang-orang terdekatku dapat berama orang yang mereka cintai. Berpegangan tangan dan menghadapi masalah bersama. Sedangkan aku terus berpikir, untuk nggak mengingkari bahwa pekerjaan hebatku akan membuatku dapat bertahan hingga Tuhan mengabulkan permohonanku.

Padahal semua hanya ilusi. Aku kembali kesepian. Membayangkan apa yang Davi lakukan dengan menebak-nebak dari cerita-cerita ia dan teman-temannya yang selalu hura-hura dan dengan mudahnya ia mengakui padaku bahwa dia punya banyak teman perempuan hanya untuk bersenang-senang.

Persis seperti Tian. Apa yang bisa aku katakan lagi? Ketika Tian kembali dengan rasa bersalahnya untuk meminta maaf atas semua yang terjadi padaku berkat dirinya, aku nggak menerimanya begitu saja. Terakhir dia menghargai semuanya dengan uang. Dan kesalahanku adalah aku menerima uang itu dan bersedia menghilang selamanya.

Davi bilang cewek itu payah. Sudah tahu hubungan nggak bisa dipertahankan, masih saja keras kepala untuk bertahan. Seperti aku yang menunggu Tian dan menyia-nyiakan 4 tahun umurku. Saat itu aku hanya tersenyum, dia nggak akan mengerti. Dia mungkin nggak memahami cinta. Aku mengerti. Dan andai aku dapat mengatakan padanya saat itu bahwa cinta itu sesuatu yang ganjil. Percayakah?

Cinta akan hancur ketika kita memaksa memilikinya dan alangkah bagusnya jika kita membiarkannya bersemi dengan indah. Ibarat bunga yang cantik akan layu bila dipetik. Seperti itulah cinta. Ia hanya perlu dipupuk dan dijaga.

Mungkin hanya aku sendiri lah yang paham bahwa aku sama sekali nggak menyesal Tian menikahi orang lain yang bukan diriku setelah hari-hari berat yang kujalani dengan hanya merindukannya. Dalam rindu itu ada cinta, cinta yang membahagiakan aku. Cinta yang nggak mengharapkan balasan. Cinta yang nggak memaksa untuk dimiliki.

Cintaku seperti itu. Aku tersenyum memandang ke layar smartphone-ku. Ada baiknya aku bersabar, jika dia hanya untukku, suatu saat dia akan datang sendiri. Telpon ini akan berbunyi. Meski, aku kembali menangis, karena belum bisa melupakan malam itu. Aku menghubungi Carra untuk memberitahu hal yang sangat penting. "Gue jatuh cinta, Ra", kataku dan dia pasti tengah mengerutkan dahinya di seberang sana.
Aku tersenyum sambil menangis di telpon, betapa bahagianya hari ini, setelah aku 'mati' sejak Tian menginggalkanku, menyadari bahwa akhirnya aku jatuh cinta lagi, aku hidup kembali. Kudengar Carra ikut bahagia walaupun dia masih bilang kalau aku begok. Harusnya aku memikirkan cara bagaimana agar Davi menerimaku. Tapi aku menggeleng.

Aku nggak akan memaksanya. Karena aku tahu, dia nggak punya perasaan apa-apa padaku. Davi masih ingin bersenang-senang. Itu yang dia katakan agar aku nggak merasa dilukai olehnya karena perasaanku sendiri. Meski dia terdengar menyepelekannya aku tahu, suatu saat ia akan mencintai dan pasti mengerti. Bahwa demi orang yang dicintai seseorang akan melakukan apa saja. Dan itu bukanlah sebuah kebodohan.
Aku memberinya banyak waktu. Banyak waktu untuk menimbang-nimbang, aku ini gadis yang bagaimana. Apakah aku 'sama dengan' Sonia atau cewek-cewek yang dia bilang terlalu mengatur dan mau tau urusannya. Ataukah aku seseorang yang dapat melihat menembus jiwanya yang haus pada dunia dan menghentikan semua kegilaan pribadinya? Siapa yang akan tahu itu?

Semua hanya soal waktu. Dia akan tahu bahwa aku adalah tempat terakhir untuk berhenti. Dia akan menyadarinya seperti Tian yang ingin kembali, tapi kukatakan padanya bahwa waktu telah menghapus semuanya. Karena cinta ini tulus.
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments