๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Last Night Once More
Nggak ada yang kurang dalam hidupku. Aku punya kerjaan yang hebat, keluarga yang utuh, dan teman-teman yang menyenangkan. Semua itu sudah lengkap, bila kehadiran seorang pacar nggak dihitung.
Bukannya nggak pernah merasakan perasaan menggebu-gebu semacam itu. Tapi rasanya mungkin sudah telat untuk bertingkah ala cabe-cabean untuk menarik perhatian cowok. Sumpah, itu bukan gaya seorang Tita yang selalu menjaga harga dirinya di atas segalanya. Sayangnya, itu cuma salah satu alasan dari sekian banyak alasan bahwa sebenarnya aku terlalu takut patah hati. Jadi mengisolasi diri dari cowok-cowok PHP yang makin lama makin banyak spesiesnya cukup masuk akal. Dan satu alasan klasik lain yang membuat aku -Tita nggak pernah punya pacar adalah terlalu sibuk kerja.
Awalnya kerjaan ini selalu asyik. Aku suka suasana dan orang-orangnya, terlebih aku hiper-humoris dan nggak pernah bisa diam. Well, lumayan cocok untuk aku yang lebih suka bicara nggak penting daripada bicara serius.
Tapi belakangan dunia kerja yang kejam itu mulai menampakan wujud aslinya melalui seorang pria yang aku panggil Pak Randy yang galaknya minta ampun. Dia nggak bisa seperti pria-pria keren romantis yang ada di drama Korea yang jatuh hati sama bawahannya. Dan aku bahkan nggak berani membayangkan sebuah affair dengannya. Meski tipe Pak Randy tipe yang jarang ada. Elegan, angkuh, kaya, dan perfeksionis. Bagian mengecewakannya bukan karena dia nggak berminat dengan karyawannya sendiri dan menyatakannya dengan terang-terangan padaku, tapi aku cukup shock bahwa tipe pria sempurna yang aku idam-idamkan sampai mati itu, berwujud nyata seorang bos yang ditakdirkan untuk menyiksa batinku. Maksudku nggak secara langsung, tapi dia punya seorang perpanjangan tangan yang kekuasaannya melebihi seorang bos yang disiplin.
Tahu siapa dia? Yap, seantero kantor ini sudah tahu siapa orang beruntung yang dipercayai oleh Pak Randy. Yaitu manusia lohan sejenis 'Karto' yang selalu duduk di belakang setir mobil sedan Eropa milik bos. Tapi, ini bukan soal kelakuan Karto dengan sifat 'bossy'- nya. Juga bukan soal Pak Randy -yang wangi parfum mahalnya bisa tercium dari jarak 5 meter. Tapi, ini soal aku, hanya aku.
Aku menarik nafas, menghembuskannya lagi dan isi kepalaku yang mati bosan tumpah ruah di atas meja. Komputer masih menayangkan tulisan-tulisan yang tampak lebih rumit dari kode-kode yang ada di opening film The Matrix. Padahal aku hanya nggak mau menyentuhnya sampai tahun baru yang masih seminggu lagi dan saat itulah Pak Randy dengan semua agenda pentingnya menghabiskan semua waktu yang aku punya.
Aku mulai mengeluhkan keadaan yang dulu aku sukai, tempat ini dan orang-orangnya. Parahnya, aku tetap nggak bisa menghindari candaan garing dengan teman sekantor yang membuatku makin bosan. Hari ini, aku kembali menumpahkan isi kepalaku di atas meja, menghela nafas dan mengkhayal.
Aku mengangkat telpon yang bisa berbunyi beberapa kali sehari. Dengan sedikit malas, aku mengucapkan kalimat klise yang sopan itu lagi. "Selamat siang. Dengan Tita ada yang bisa dibantu?"
"Tit", suara Carra terdengar merayu seperti biasa.
"Ya?", aku harap dia punya gosip terbaru tentang bos mudanya yang keren. "Apa?"
"Sibuk nggak?", dia bertanya penuh maksud. Aku bisa membaca kalimat yang akan dia katakan seolah kata-katanya sudah lebih dulu berlompatan dari speaker telpon. Kalau bukan minta dijemput, dia pasti cuma mau aku menemaninya menunggu sang pacar yang berkantor di sebelah kantorku.
"Ada apa tuh?", tanyaku sarkastis. Aku nggak mau melakukan hal-hal merepotkan yang biasa ia minta untuk aku lakukan. Tapi, hingga detik ini hanya Carra sahabat baikku satu-satunya.
"Aku diajakin Sonia pergi karaokean di tempat biasa. Mau ikut nggak?", Carra terdengar seperti bidadari manis dengan tanduk setan di kepalanya.
"Jam berapa?"
"Ntar jam 3. Bisa ikut nggak?"
"Gila lo! Mana bisa gue?! Gue kan pulang jam 5..."
"Gue mau ke sana jam 4. Tapi kalau lo mau kita bisa ke sana jam 5. Mereka bakal di sana sampai jam 7, gimana?"
"Ya udah deh...gue ikut... Tapi yang ikut siapa-siapa aja sih?"
"Cowok-cowok yang waktu lo nggak bisa datang itu juga kok...teman-teman mainnya Sonia"
"Oke, gue ikut...", kataku masih pikir-pikir padalah aku tahu kalau menolak Carra bakal bersumpah serapah.
"Bener ya? Awas lo mangkir lagi", ancamnya dan aku memang nggak punya pilihan lain.
๐ Pages
- ...

Komentar
0 comments