[Hal. 2] LAST NIGHT ONCE MORE

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Ke tempat karaoke memang asyik, apalagi bagi yang suka dangdutan kayak Carra atau yang suaranya bagus kayak Sonia. Tapi, buat Tita itu tetap bukan dunianya karena sampai saat ini masih menjadi penonton setia.

Aku masih pikir-pikir sampai jam 4 tapi mulai bersiap-siap kalau seandainya rasa bosanku ini sudah muak. Aku mulai memperbaiki dandanan dan merapikan setelan kantoran yang biasa aku pakai setiap hari. Lalu menelpon Carra. Tapi, si Mami Rempong itu nggak mengangkat telponnya.

Jangan-jangan ditinggal nih!, aku sedikit kecewa harus mondar-mandir nggak jelas di kantor karena kerjaan nyaris nggak ada. Padahal sudah begitu inginnya pergi. Capek, aku mulai menyusun rencana untuk pulang ke rumah di menit-menit terakhir sesaat sebelum Carra bilang sudah on the way.

Jreng jreng! Sepuluh menit kemudian si cewek berambut panjang lurus itu mangkal di depan kantor menunggu aku selesai bersiap-siap. Kami langsung ngebut ke tempat acara kumpul-kumpul walaupun aku tahu aku nggak akan betah karena aku kurang bisa menyesuaikan diri dengan orang baru.

Aku juga mulai nggak biasa berada di bawah kerlap-kerlip lampu disco dan suara speaker yang keras juga suara amburadul dari penyanyi dangdut amatiran -teman Sonia yang gayanya mirip artis. Awalnya aku diam saja setelah dikenalkan sama tiga orang cowok yang ada di sana. Yang jelas ketika salaman mereka menyebutkan nama yang tentu saja langsung menghilang oleh kencangnya musik yang memenuhi ruangan yang cukup luas ini.

Aku duduk manis. Sedikit berbasa basi saat ditawari untuk pesan makanan atau minuman. Ternyata cowok-cowok kantoran itu lumayan baik juga. Aku tersenyum semanis yang aku bisa tapi mereka terlalu acuh dan lebih menikmati suara nggak karuan dari cewek teman Sonia. Nggak lama seorang pelayan laki-laki datang ke ruangan kami, menanyakan pesanan aku dan Carra. Lalu kami menunggu hingga pada satu lagu dangdut semua yang ada di ruangan itu berdiri. Dimulai dari Sonia yang pakaiannya super seksi dan menggoda, ia menggoyangkan pinggul dengan gemulai hingga aku yang sesama perempuan saja jadi iri. Ya, aku masih tertawa duduk di sofa. Sendirian, karena bicara satu sama lain pun percuma. Segala macam suara tertelan oleh alunan musik yang seakan mampu memecahkan gendang telingaku. Jadi hanya tawa dari setiap kepala yang menunjukan bahwa mereka nggak perlu kata-kata untuk mengungkapkan bahwa mereka nggak perlu ngobrol hanya untuk saling mengenal.

Lampu utama di matikan menyisakan lampu warna-warni yang menari-nari di dinding. Carra mengajakku berdiri dan menyanyi tapi aku nggak cukup berani untuk show off. Lagipula, aku nggak bisa menari seperti Sonia atau Carra atau cewek yang aku nggak tahu namanya. Tapi cowok-cowok kantoran yang masih mengenakan seragam kerja mereka itu membuat gerakan santai yang asyik. Lucu dan konyol. Inilah dunia yang ingin aku tinggalkan tapi terkadang kurindukan. Tarian dan nyanyian yang jadi satu dengan asap rokok dan minuman. Mereka bebas. Menunjukan sisi lain dari diri mereka yang nggak bisa ditunjukan di dunia kerja. Tarian yang mirip cacing kepanasan dan suara cempreng ala kadarnya. Mereka semua sudah cukup tua untuk melakukan hal-hal seperti itu.

Ah, aku hanya merisaukan hal yang nggak penting sejak aku duduk di sini.

Suara hening setelah satu lagu selesai. Sonia tampak mencari-cari lagu dengan remote di depan LCD.

"Awas ya, kalau ada yang duduk gue pajak!", katanya lantang. "Di sini nggak ada cerita duduk manis dan melotot!"

Aku tertawa. Terpaksa aku berdiri dan pada saat music house meledak ke setiap sudut ruangan, semua kaki menghentak, jeritan seru terdengar di sela-selanya. Aku membuat gerakan seadanya karena aku penari yang payah.

Cowok di sebelahku menikmatinya sejelek apapun gerakan tangan dan kakinya. Aku tertawa padanya dan dia juga tertawa padaku. Dan semua dimulai dari sana. Ketika aku duduk sebab high heel 11 cm yang mengalas kakiku membuatku pegal lebih cepat. Lagu house kedua dimulai dan suasana mulai heboh. Teman cewek Sonia mulai bergoyang di atas podiumnya -speaker besar yang berada di dekat LCD. Kami di bawah mulai seperti orang gila yang berkeringat dan kepanasan, mengira AC ruangan rusak. Padahal, kami hanya terlalu gila.

Aku tertawa dari sofa pada cowok lucu yang membuat gerakan aneh mirip anak autis yang mengamuk.

Sonia kembali bersorak lewat microphone, "Udah gue bilang nggak ada yang boleh duduk sampai lagu house yang terakhir!"

Alamak...Sonia mau bikin kaki gue gempor apa?, aku menggerutu sambil tertawa sampai ada tangan yang menarikku untuk berdiri dan menyatu dengan kelompok itu di tengah-tengah ruangan. Aku merasa aneh. Aku pikir aku akan duduk diam memperhatikan kebebasan mereka sementara aku menyandera kebebasanku sendiri demi gelar 'gadis baik-baik' yang melekat erat padaku.

Tapi, dalam dua jam saja, aku mulai meragukan bahwa aku masih pantas untuk gelar itu. Aku pernah melakukan kesalahan besar dan sampai detik ini aku belum pernah memaafkan diriku sendiri. Aku membiarkan diriku terbawa dengan memperhatikan cowok itu sesering yang aku bisa dan mencari celah di mana ia akan melihatku lalu mengajakku lagi. Karena terpikir olehku mungkin saja aku akan menemukan orang yang cocok untuk bisa jatuh cinta lagi.

Sepuluh menit terakhir, aku duduk di sofa. Setiap orang mendapatkan pasangannya masing-masing kecuali Carra yang duduk di ujung yang sebenarnya nggak enak badan dan seorang cowok tinggi yang lebih sering melihat ke layar smartphone-nya.

Cowok pasangan menari-ku duduk di sampingku, tepat di dekatku karena sepertinya dia sudah terbiasa. Maksudku bukan sudah terbiasa denganku, melainkan terbiasa mendekati cewek mana pun yang dia temui di tempat karaoke. Dan asal tahu saja, mereka memang sering mengadakan acara kumpul seperti ini dan mengundang cewek-cewek yang suka hura-hura.

Carra misalnya, pada perkumpulan sebelumnya ia bertemu่ฝ dengan cowok yang langsung menyukainya dan bisa sedikit ia manfaatkan. Tapi, setelah itu ia kembali pada pacarnya seolah nggak pernah melakukan sesuatu.

Aku sedikit menggerutu, belum merelakan bahwa cowok ini mungkin akan beranggapan aku nyaris nggak berbeda dengan Sonia atau Carra yang 'bermain' gelap-gelapan. Tapi, aku duduk di sini, menari sampai berkeringat bersamanya dan selama itu aku membiarkan dia memegang tanganku, merangkul pinggangku, dan berbicara sangat dekat ke telingaku. Orang-orang sudah bisa menyelipkan sebuah tanda 'sama dengan' antara aku danSonia.

Tapi, apa mau di kata, cinta itu bisa datang begitu saja tanpa disadari.

Lagu slow terakhir dinyanyikan oleh Sonia dan 'pacar'-nya - seorang cowok tinggi besar yang datang belakangan dan tampak serasi dengannya. Mereka menyanyikan When You Tell Me that You Love Me versi Diana Ross dan Westlife sambil tetap berpelukan setelah sebelumnya mereka memberiku tanda bahwa inilah dunia malam di mana siapapun bisa bermesraan -mendekati hubungan intim yang sebenarnya- di depan orang lain. Aku pun terkejut bahwa Sonia memang seperti itu.

Tapi, apapun tentangnya bukan urusanku.

Karena aku sendiri, baru menemukan diriku masih terperangkap dengan rasa penasaran terhadap cowok di sebelahku. Aku hanya tahu dia bekerja di mana dari kemeja yang berlogo perusahaan swasta yang ia kenakan. Kami tidak bicara apa-apa, hanya tertawa satu sama lain. Hingga dia berbisik padaku meminta nomor telpon. Dengan cepat ia memberikan smartphone padaku agar aku mengetikan nomor telponku di sana dan dia mengembalikannya lagi agar aku mengetik namaku dan dia menyimpannya. Tanpa bicara dia memanggil nomorku dan begitu nomornya sudah muncul.di layar smartphone-ku, aku menyentuh kotak simpan dan memberikannya pada cowok itu agar ia mengetikan namanya.

Dari sanalah aku tahu namanya Davi, nama yang ia sebutkan ketika kami berkenalan namun suaranya menghilang dalam kerasnya musik.

"Tadi ke sini sama siapa?", dia berkata di telingaku.

"Berdua sama Carra", jawabku balas berkata di telinganya.

"Oh, terus pulangnya sama siapa?", tanya dia lagi dengan.cara yang sama.

"Mungkin juga sama Carra...', jawabku sedikit bingung dan kuharap dia akan menawarkan untuk mengantarku pulang.

"Lo mau gue antar pulang nggak?", dia bertanya dan aku hampir saja melompat kesenangan.

"Boleh", aku memberikan jawaban cepat yang tanpa ragu-ragu.
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

1 comments: