[Hal.1] BEFORE I DIE - Baca Cerbung Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

A Fallen Runner

Aku bisa mendengarnya dari kejauhan walaupun di tempat segaduh tribun di mana ada ribuan penonton yang bersorak –suara Takki, Acha dan Lando yang berseru “Mara! Mara! Mara!”. Cuacanya panas dan terik sekali, tapi tidak menyurutkan semangat mereka untuk datang berpanas-panas ke lintasan untuk melihat pertandinganku. Aku sempat melirik sebentar ke arah mereka, sebelum kembali focus ke depan. Walau hampir tak mungkin, karena aku belum menemukan dia ada di barisan penonton.

Starter berseru, “Bersedia!”. Aku tak lagi mencuri-curi pandang ke tribun karena mungkin dia tidak akan datang. Dia selalu sibuk bahkan di hari yang sangat penting bagiku. Namun, aku harus tetap menang.

“Siap!” Starter berseru lagi.

Lintasan di depanku semakin jelas terlihat ketika kupusatkan perhatianku pada ujungnya yang tampak seperti fortamorgana. Hanya 400 meter, bukan 4 kilometer pikirku, sambil mengusir semua suara-suara di dalam kepalaku. “Yak!” seruan terakhir Starter membubarkan semua pelari dari garis start.

Aku tidak melihat apapun. Seperti sedang melaju di dalam mobil yang sangat kencang. Semua yang kulewati seakan berlalu dalam sekali usapan tangan. Bergeraklah seperti Quicksilver, kalahkan waktu, kalahkan takdir, kalahkan semua hal yang membuatmu takut.

Di dalam kepalaku, aku hanya membayangkan bahwa aku mempunyai masa depan di ujung lintasan. Jika aku menang dan mencetak rekor terbaik lagi, pintu menuju impianku akan semakin terbuka lebar.  Aku sudah lama ingin tahu  apa di baliknya.

Baiklah, kenapa aku memilih olahraga lari? Selain karena lari adalah olahraga yang tidak membutuhkan keahlian atau peralatan khusus dan sudah ada sejak jaman kuno. Mungkin tidak ada yang tahu bahwa sejak kecil aku sudah menjadi seorang pelari berbakat –lari dari kenyataan. Ada banyak alasan mengapa aku suka berlari sampai-sampai menjadi sebuah profesi.

Aku ingat jam dua dini hari, saat aku terlelap dan tiba-tiba terbangun dari tidurku karena mendengar suara kaca pecah. Aku melompat dari tempat tidur dan berlari keluar kamar. Aku sudah menduga bahwa malam itu, ayah dan ibuku kembali bertengkar. Mereka sudah melakukan itu setiap malam sejak dua tahun belakangan dan itu bisa saja terjadi hanya gara-gara urusan sepele. Aku selalu ketakutan saat mendengar ayahku berterrriaaak dan ibu membalasnya lebih keras. Aku berjongkok di ambang pintu dapur, menutup mata dan telingaku. Tapi, itu tak mengusir suara mereka.

Sehingga aku berlari keluar rumah hanya untuk tidak mendengar suara-suara itu lagi. Tapi, seolah tinggal dalam ruang telinga, aku masih mendengar cacian-cacian itu. Aku memejamkan mataku dan berlari lebih cepat. Aku berharap semakin jauh aku berlari, suara-suara itu akan hilang.
Jam dua dini hari, bayangkan, gelapnya malam itu dan aku tidak sadar bahwa aku sudah berlari sejauh 4 km. Aku baru berhenti saat kakiku sangat lelah. Sayangnya, orang tuaku bahkan tidak tahu bahwa aku menghilang berjam-jam dari rumah. Aku kembali sekitar jam tujuh pagi, dapur tempat mereka biasa bertengkar sudah berantakan. Tidak seorangpun terlihat di dalam rumah. Aku masuk ke kamarku untuk kembali tertidur. Hari itu aku harus sekolah, tapi tak ada seorang pun yang peduli.

Tapi, dalam mimpiku, aku seolah berlari lagi dan ada seseorang yang menungguku di ujung jalan dengan sebuah medali. Rasanya, aku telah memenangkan sesuatu. Ya, walaupun hatiku sakit melihat orang tuaku, aku tersenyum dalam tidurku. Begitu, aku terjaga aku sangat kecewa. Aku tidak dapat medali, aku tidak dapat apa-apa. Sejak itu, kurasa aku harus mendapatkan medali itu karena aku bisa berlari dengan cepat. Sejak saat itu juga, aku mulai tidak peduli dengan apa yang akan terjadi ada orangtuaku. Separah apapun pertengkaran mereka, pada akhirnya itu hanya akan berujung kepada perpisahan –itu lebih baik daripada melihat mereka saling menyakiti.

Kemudian aku tidak lagi berlari hanya pada saat melihat mereka bertengkar. Aku tidak lagi berlari hanya untuk menghilangkan suara-suara menyebalkan dalam kepalaku. Aku tidak lagi berlari dari kenyataan. Aku berlari untuk diriku sendiri karena aku mempunyai mimpi. Tiba-tiba aku sudah berada di tujuan dan memelankan kecepatanku.

“Catatan rekor terbaik. Mara Adriana! 49,17 detik!” seru seseorang dari pengeras suara.
Nafasku tersengal bersamaan dengan kembalinya sorak-sorai penonton di sepanjang lintasan. Aku melihat mereka berseru. Garis finish sudah berada di belakangku. Lalu tersenyum melihat semua penonton berdiri mengumpulkan tepuk tangan. Di sinilah aku sekarang, di lintasan yang sebenarnya di mana seseorang akan memberiku medali.

Yah, aku sudah mendapatkan banyak medali sejak SMA. Aku tidak tahu sejak kapan aku begitu terobsesi terhadap medali. Mungkin karena aku selalu merasa tak punya apa-apa dimulai sejak orang tuaku saling berselisih dan menyalahkan. Bayangkan di usia yang masih sangat muda, aku menganggap memiliki mainan yang bagus bukan kebahagiaan yang benar-benar membuatku bahagia. Begitu mulai tumbuh dan mengalami perubahan dalam diri dan cara berpikir, aku menganggap bahwa aku tidak butuh baju-baju bagus atau gadget mahal untuk bahagia seperti teman-teman perempuanku. Maksudku sesuatu yang  bersifat kebendaan yang bisa dilihat tidak membuatku bahagia. Memang medali itu juga sebuah benda, tapi benda itu hanya kudapatkan dengan berusaha keras, bukan dengan merengek pada Mama atau menukarnya dengan yang lain atau bahkan merampasnya dari orang lain. Medali adalah sebuah pencapaian bagi orang yang tidak memiliki apa-apa seperti diriku terlebih setelah kutinggalkan kehidupan lamaku yang tak lebih dari sekedar berurusan dengan seorang ayah pecandu narkoba dan ibu yang mengalami depresi.

Keluargaku berantakan. Harus kuakui, itulah yang membuatku semakin jauh dari mereka. aku tidak punya pilihan lain selain harus pergi. Mereka juga tidak memintaku untuk tinggal walau mereka tahu tidak bisa mengurus diri sendiri. Seperti itulah. Ayah dan ibuku selalu mengutamakan ego di atas segalanya. Bahkan terhadap diriku. Aku tidak tahu, apakah saat ini aku sudah benar-benar meninggalkan mereka di satu rumah lama di mana dalam setiap kesempatan aku selalu berlari untuk menghindar. Aku tidak tahu, apakah aku sudah berlari sangat jauh dari rumah itu, karena terkadang, aku masih bisa mendengar suara-suara mereka bertengkar.

Menyedihkan. Andai mereka bisa melihatku saat ini…

20 Januari 2012, aku memenangkan kejuaraan daerah untuk cabang lari jarak pendek kelas 400 meter. Aku adalah sprinter putri terbaik di klubku dan dijadikan anak emas. Kehidupanku sempurna jika tidak melihat ke belakang di mana orang tuaku tinggal dan menjadi bagian yang tak pernah kuceritakan pada siapapun. Ya, aku punya teman-teman yang selalu mendukungku dan seorang kekasih yang tampan –Rangga Arie Wardhana.

Aku masih mengatur nafas saat tiba-tiba seseorang memberiku sebotol air mineral dingin di pinggir lintasan. “Rangga?” sontak aku terkejut. Aku pikir dia tidak datang lagi karena sibuk bekerja. Ternyata dia hadir di pertandinganku untuk memberiku kejutan seperti ini? Dalam sekejap dahagaku hilang walaupun aku belum meminum sesuatu dan official tim baru saja menuju kemari untuk memberiku minuman. Tapi, karena melihat Rangga mereka pun mundur teratur sambil geleng-geleng kepala.

Gadis yang beruntung.

Dia tertawa lebar. Aku memeluknya tanpa meraih botol mineral itu. Sungguh, kehadirannya berarti lebih dari sebotol minuman walaupun dadaku seperti terbakar oleh rasa haus.

***

Panas semakin menjadi-jadi setelah turun podium karena jam sudah menunjukan pukul satu siang. Kami seakan terpanggang di bawah sinar matahari menunggu matang. Aku menyeka keringatku dengan handuk yang disodorkan oleh anggota official team pada saat ketiga temanku akhirnya sampai setelah melawan kerumunan orang-orang di sepanjang lintasan setelah pertandingan berakhir untuk bisa sampai di sini. Rangga sudah menjauh beberapa meter karena harus mengangkat telpon. Aku ingin tahu siapa yang menelponnya namun aku tak peduli lagi.

Dari kejauhan aku bisa melihat bahwa Lando yang badannya paling besar berjalan paling depan untuk menerobos sedangkan Acha dan Takki berlindung di belakangnya. Aku seperti melihat seekor induk itik tengah membawa anak-anaknya melewati semak-semak menuju kubangan sawah untuk menyosor lumpur. Begitu mereka sampai di hadapanku sudah pasti Acha dan Takki menjerit histeris. “Maraaaa, lo keren banget!” sambil memelukku bahkan di saat aku sedang minum dari botolku dan aku tercekik.

Aku mengangguk-angguk. Menunggu mereka melepas pelukannya lalu menemukan Lando dengan kameranya siap-siap untuk menjepret.

“Mana medalinya?” tanya dia, menodongkan lensa kameranya dan seketika para gadis bersiap untuk berpose dengan wajah girang. Aku memamerkan medali emas yang tergantung di leherku dengan pita merah putih pada jepretan pertama dan seketika teringat pada pacarku yang masih sibuk menelpon.

Aku mengisyaratkan Lando untuk mengikuti langkahku karena aku ingin berfoto dengan Rangga. ya, dia dengan cepat menangkapku dengan lensa kameranya dan menunggu sampai aku dan Rangga siap. Tapi, aku tidak menyangka Rangga terkejut ketika aku menepuk pundaknya. Ia bingung tapi masih berbicara di telpon dengan memelankan suaranya dan berusaha untuk melihat ke kamera dengan senyum terbaiknya walaupun ia belum menyingkirkan handphone-nya dari telinga.

“Bagus nggak?!” seruku menghampiri Lando untuk melihat hasil jepretannya.

Lando mengutak-atik kameranya untuk melihatkan jepretan terakhirnya. Memang, ekspresi Rangga di foto itu tidak terlalu bagus. Ya, dia terlihat kaget di foto pertama. Di foto kedua, dia terlihat bingung. Dan di foto ketiga, senyumnya terkesan dipaksakan. Aku ingin punya yang lebih baik dari itu di hari spesialku. Saat berpikir untuk kembali menghampiri Rangga untuk bisa berfoto lagi, ternyata dia sudah tidak ada. Dia menghilang di antara kerumunan orang-orang.

Dia membuatku sedikit kecewa.

“Jadi lo udah siap untuk pesta nanti malam?!” seru Takki sumringah sambil merangkul bahuku seolah menangkap ekspresi sedihku kehilangan Rangga dalam sekejap. “Kita udah rencana untuk bikin pesta selamatan kalau lo menang!”

Aku senang. Tapi… “Nanti malam?” seketika menjadi murung. Aku kembali menoleh ke belakang, di mana terakhir kalinya aku melihat Rangga. Dia masih belum muncul juga. “Duh, jangan nanti malam dong, guys…,” kataku dengan kecewa, “Gue udah janji sama Rangga mau pergi ke pesta temannya hari ini….”

“Teman Rangga yang mana?” tanya Acha, mengerutkan dahinya seolah semua teman Rangga memang selalu membuat pesta dan aku selalu memastikan untuk bisa hadir mendampingi Rangga entah dia membutuhkannya atau tidak.

Lando dan Takki ikut-ikutan berwajah masam. “Setelah pertandingan lo sendiri? Lo masih harus ke pesta temannya dia?”

“Kalian jangan gitu dong, gue udah janji dari kemarin-kemarin mau nemenin Rangga…,” pintaku, 

“Besok aja ya kita bikin pestanya”

“Nggak bisa!” celetuk Acha. Dia mulai kesal. “Lo tau nggak kita udah siapin pesta ini juga dari jauh hari. Dan ingat, Mar, itu demi lo seorang!”

“Iya, tapi… ini juga penting buat gue…,” aku mulai memohon. “Gue nggak bisa batalin janji sama Rangga….”

Acha tampak menghela nafas. “Kita udah lama tahu kok, lo nggak pernah bisa batalin janji sama Rangga dan sebagai gantinya lo hampir nggak pernah ngumpul bareng kita lagi,” katanya, lalu balik kanan!

“Cha…,” aku ingin menyusulnya.

“Udahlah, Mar. kayaknya kita udah nggak penting lagi buat lo melebihi Rangga,” kata Lando juga ikut balik kanan menyisakan aku dan Takki yang daritadi belum bicara apa-apa. Dia bukan pendiam. Tapi, dia adalah cewek paling cuek dan tomboy yang pernah aku kenal. Dia tidak suka berargumen dengan orang lain. Aku berharap dia akan mendengarkan alasanku dan mengerti. Tapi, melihat Lando dan Acha sudah hampir jauh, dia mulai bergegas menyusul.

“Sorry,” cuma itu yang dia katakan lalu memutar badannya.
Ugh, aku membuat mereka kecewa lagi…

***
“Kamu nggak perlu harus nolak rencana teman-teman kamu Cuma buat pesta nanti malam,” kata Rangga padaku. “Kasihan kan mereka udah siapin acaranya dari kemarin-kemarin, tapi tau-tau kamu malah bilang nggak bisa”
Kami sudah bergerak meninggalkan stadion olahraga menuju rumah. Sejak naik mobil hingga kami terlibat pemicaraan yang sepertinya membuat posisiku rumit, wajah Rangga tidak berubah. Dia terlihat sangat tenang tapi bagiku hampir sama dengan acuh. Dia menyalakan mesin, tanpa bicara apa-apa sambil sesekali melihat ke layar smartphone-nya seperti menunggu telpon dari seseorang atau memastikan bahwa benda itu tidak  berbunyi sampai kami tiba. Padahal aku benar-benar sedang bingung.
“Tapi, Ngga, aku ‘kan udah janji sama kamu…” kataku.
“Pesta itu nggak terlalu penting buat kamu,” tegas Rangga. “Kamu tahu sendiri kalau kamu nggak bakal betah di sana. Kamu nggak minum, nggak ngerokok dan nggak bisa main bilyar. Setiap kamu ikut aku ke sana kamu hampir selalu ketiduran karena capek karena siangnya latihan. Kehidupan malam itu nggak cocok buat kamu dan aku udah bilang berkali-kali”
“Aku… ‘kan cuma ingin sama-sama kamu, karena kamu sibuk kerja dan kita jarang ketemu,”
“Iya, aku ngerti, tapi kita ‘kan punya prioritas masing-masing. Aku kerja dan kamu latihan”
“Terus aku harus gimana? Aku udah bilang nggak bisa datang dan palingan juga pestanya nggak jadi…” jelasku cemberut.
“Kamu pasti capek habis tanding, mendingan kamu istirahat aja di rumah…”
“Aku nggak apa-apa kok… “
Rangga menghela nafas, melirikku sebentar sebelum kembali ke jalan. “Aku nggak suka kamu selalu memaksakan diri kamu sendiri Cuma buat ngikutin aku. Kamu tahu itu berat. Lingkungan kita beda jauh. Ada saatnya kamu bisa masuk dan ada saatnya kamu harus menunggu” kata dia akhirnya dan aku tidak lega sama sekali. Apa dia baru saja mengatakan dia tidak butuh semua yang telah kulakukan untuknya? Apakah waktu dan pengorbananku sudah sia-sia untuknya?
Aku terdiam, menatap ke mana kata-kata menyakitkan itu keluar. Bibirnya yang biasa menciumku dengan lembut di saat aku merasa sedih karena bertengkar teman-temanku hanya karena lebih memilih bersamanya. Ah, aku lupa kapan terakhir kalinya dia mengatakan sesuatu yang melegakan tentang teman-temanku yang merasa diabaikan. ‘Kamu nggak butuh teman yang bisanya cuma merong-rong kamu, dan merasa kalau kamu harus terus bersama mereka’
Aku sudah lupa kapan terakhir kalinya dia memelukku di saat aku sedih. Aku sudah lupa kapan kami duduk berdua sambil menatap seakan di dunia ini hanya kami berdua. Aku sudah kapan terakhir kali kami menyatukan jari sepanjang jalan dengan mesra dan aku bersandar di pundaknya ketika dia menyetir. Aku sudah lupa kapan terakhir kali menghabiskan satu hari bersama dengan penuh suka cita. Aku sudah lupa kapan terakhir kali dia menyuapiku makan saat aku kehilangan selera makan. Aku lupa kapan terakhir kalinya dia membantuku memilihkan baju untuk pergi ke pesta.
“Besok, kamu harus banyak istirahat. Katanya September nanti kamu mau ikut PON,” sambung Rangga sedikit membuatku lega. Dia tidak lupa tentang pertandingan penting bagiku karena ini pertama kalinya aku akan ikut gelaran nasional itu. Tapi, tiba-tiba aku harus menelan ludah lagi. “Lagian… aku nggak mau disalah-salahin teman kamu terus karena mereka pikir aku mengatur atau melarang-larang kamu. Mereka berpikir sejak pacaran sama aku, kamu jadi makin jauh dan lebih mementingkan aku. Aku nggak mau ngelihat mereka pasang tampak jutek terus setiap ngelihat aku di sekitar kamu”
“Kamu kok ngomong gitu, sih?”
Rangga diam. Dia seolah baru saja menyulut sumbu sebuah bom dan sekarang membiarkannya begitu saja sampai meledak. Aku yakin dia tidak benar-benar memikirkan perasaanku ketika dia dengan santai meraih smartphone-nya di dashboard. Sibuk sebentar mengetik pesan lalu menyimpannya di saku celana. Aku tahu, Rangga tidak suka menyimpan handphone di saku karena pernah tidak sengaja terbentur meja saat ia akan berdiri dari kursinya.
Aku mengernyit. “Sejak kapan kamu suka simpan handphone di saku celana?”
Rangga melirikku. “Memangnya kenapa?” balas dia dengan acuh, melihat ke depan lagi dan mengabaikanku dengan menyetel pemutar musik. Dia mengeraskan lagu yang tadi terdengar samar-samar untuk memblokir suaraku.
Aku tidak tahu kenapa suasana menjadi terbalik 180 derajat. Aku tidak tahu apa yang membuatnya hampir diam sepanjang jalan pulang. tapi, kalaupun bicara, belakangan dia mulai tidak bisa menjaga kata-katanya padaku. Atau ketika suasana hatinya sedang baik, Rangga memilih tersenyum simpul. Setiap membalas pesanku dia hanya menjawab tidak lebih dari tiga kata. Seolah tidak ada lagi yang bisa dia katakana alias menyuruhku diam karena dia sedang malas.
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments