[Hal.2] BEFORE I DIE - Baca Cerbung Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

The Man Who Break Her Heart

Sebelum ke pesta, aku selalu sibuk berbenah. Aku tidak merasakan lelah walaupun tadi siang aku bergumul dengan panasnya matahari dan jarak 400 meter yang menguras tenaga. Tapi, bagiku, menemukan Rangga di garis finish, lebih mujarab dari dopping mana pun. Namun, saat sepertinya itu tidak lagi menjadi momen berkesan karena setelah itu dia duduk di depanku sementara pikirannya sudah terbang ke mana

Rangga duduk di sofa sendirian. Di depan TV yang tidak dinyalakan. Aku heran, biasanya ia akan membuat suara dengan menonton canel olahraga. Menonton sepak bola, tinju atau balap formula, dia akan sibuk mengomentari pertandingannya. Tapi, saat aku keluar untuk memperlihatkan dua macam gaun baru agar dia memilihkannya, Rangga sedang asyik dengan smartphone-nya sampai tidak sadar kalau aku memperhatikan senyum yang terukir di bibirnya –dan anehnya aku belum mendapatkan senyum itu lagi sejak kami pulang.

“Menurut kamu, aku harus pakai yang mana?” tanyaku, mencoba mengalihkan perhatiannya.
Rangga menoleh. Awalnya terkejut. Kuharap bukan karena aku tengah mengganggu keasyikannya. Dan aku terlalu pasrah, hanya mengenakan pakaian dalam di depannya dan menenteng dua gaunku. Dia kehilangan konsentrasinya sejenak lalu mengernyit, memandangi gaunku satu persatu lalu menggeleng. Aku dengan kecewa kembali ke dalam, dan kembali dengan mengenakan gaun merah di atas lutut –gaun yang pernah dia belikan dan aku tidak suka mengenakannya karena terlalu ketat, tapi demi dirinya aku rela memakainya.

Rangga menggeleng-geleng. Aku sedikit tidak terima. Dia yang membelikannya.

Tapi, aku tidak berdaya setiap kali dia lebih memilih layar smartphone-nya. Aku tidak punya pilihan lain selain mendekat, memaksa untuk mengambil tempatku di sisinya kembali. Aku duduk di sofa, di sampingnya untuk bersandar sebentar. Aku tidak tahu kenapa aku begitu rindu untuk bisa sedekat ini. Sejenak Rangga membeku, saat aku memeluknya.

“Kamu udah siap? Kita berangkat sekarang ya?” kata dia sambil menarik dirinya dariku. Dia tahu aku belum merias wajah, tapi sepertinya dia buru-buru dari caranya melirik jam tangannya. Seakan kami sudah terlalu terlambat untuk datang ke pesta. Aku hanya meminta 5 menit dan itu cukup karena aku bukan tipe yang suka berlama-lama di depan cermin.

Aku tahu itu penolakan tapi aku hanya menarik nafas. Dia keluar lebih dulu sementara aku baru memakai sepatu dan terpaksa tertatih sampai sepatuku terpasang sempurna. Begitu sampai di luar dan mengunci pintu, Rangga sudah berada di dalam mobil dan kembali menelpon.

“Iya, iya, gue udah di jalan… sama Mara… yah… ya udah… tunggu gue di situ ya…,” kata dia, tanpa melirikku lalu menyalakan mesin. Berikutnya kami sudah berada di jalanan kota menuju klub bilyar tempat Rangga biasanya berkumpul dengan teman-temannya.

***

Mereka selalu berkumpul. Mereka selalu punya alasan melatarbelakangi pesta-pesta yang menghadirkan minuman dan wanita-wanita cantik. Setahuku, Rangga punya geng sejak kuliah yang anggotanya adalah anak-anak konglomerat. Mereka dijuluki geng UPH –kampus mereka dulu, Universitas Pelita Harapan tapi diplesetkan menjadi Uang Papa Habis. Tapi sepertinya mereka tidak peduli dengan julukan itu. Toh, mereka itu memang kelewat kaya sampai mereka tidak tahu harus menghambur-hamburkan uang ke mana.

Mungkin karena itulah mereka selalu membuat pesta mewah di klub dan tidak tanggung-tanggung, klub ditutup untuk umum supaya tidak ada tamu tak diundang yang masuk. Begitu ekslusif-nya pesta, sampai pelayannya juga pilihan terutma pelayan perempuannya. Harus yang bertubuh tinggi dan cantik.  Puluhan botol minuman mahal dibuka terkadang hanya untuk dibuang. Mereka membuat pesta bebas di lantai dansa bagi yang belum memiliki pasangan.

Rangga dan teman-temannya lebih memilih bermain di meja bilyar. Sementara aku duduk di meja bartender tidak jauh dari mereka. Saat hampir semua orang minum alcohol, aku hanya memesan sekaleng soda. Aku memperhatikan sekitarku dengan hampa sambil berusaha menahan kantuk. Benar kata Rangga, aku pasti kelelahan dan harusnya tidak ikut. Tapi, aku tetap memaksanya agar membawaku.

Bukan apa-apa. Tapi, membayangkan Rangga tanpaku di sini, pasti aka nada banyak gadis yang mendekatinya. Aku tahu, aku harusnya percaya bahwa Rangga tidak akan tergoda. Tapi, lelaki adalah lelaki. Aku tidak ingin siapapun mendapatkan kesempatan untuk merayunya. Aku tahu, aku sangat posesif padanya. Tapi, kami sudah bersama selama dua tahun. Aku tidak ingin semuanya berakhir begitu saja. Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk bisa tetap berjalan beriringan di sampingnya walaupun kenyataannya ada banyak gadis yang serratus kali lipat lebih baik dariku. Begitu sulitnya menyeimbangkan antara impianku, teman-teman dan kekasihku di saat bersamaan. Dan yang pasti, aku telah menggadaikan teman-temanku hanya untuk bisa duduk di sini sambil terkantuk-kantuk dan menguap.

Tidak tahan juga, akhirnya aku memutuskan masuk toilet. Aku harus mencuci muka, paling tidak untuk menghilangkan kekusutan di wajahku. Tapi, sepertinya tidak mungkin. Aku sangat lelah, bagaimana pun aku baru saja bertanding siang ini dan seharusnya aku sudah tidur. Kalau seandainya aku ikut ketiga temanku, pasti jam segini aku sudah berada di atas ranjangku. Tapi, aku melirik jam di handphone-ku sekali lagi. Hampir lewat jam 12 malam, dan pestanya belum juga usai dan belum akan berakhir. Malahan music semakin keras, orang-orang makin ramai, dan tempat makin penuh.

Aku menghela nafas. Aku tidak mengerti dengan apa yang aku lakukan. Belakangan aku tidak bisa tenang karena berusaha mengingkari bahwa aku mulai tidak percaya pada Rangga. Entahlah, melihat sikapnya sejak tadi sepertinya lampu kuning sudah menyala.

***

Hampir 15 belas menit di dalam toilet, tidak membuat rasa kantukku hilang. Aku mengusap wajahku yang lelah dan kudapati seseorang perempuan tengah menghampiri Rangga yang sedang menunggu giliran main. Perempuan bergaun hitam itu tampak sudah menggambarnya dari kejauhan sebelum ia dengan percaya dir melenggak bersama segelas minuman dan tiba-tiba merangkul bahu Rangga.

Aku bisa saja menghampiri untuk menunjukan bahwa aku melihatnya. Aku menyaksikan detik-detik saat wanita berambut pendek sebahu itu tersenyum padanya sambil sesekali menggigit bibir dan ia merekatkan kedua matanya ke wajah Rangga tanpa celah sedikitpun. Aku berhak untuk hadir di antara mereka kalau saja Rangga menjaga jarak darinya dengan mundur beberapa langkah, dan bukannya malah membahas itu semuanya.

Aku tidak tahu kenapa aku tidak terlalu syok. Mungkin karena aku sudah lama mengendusnya –ada orang lain membelenggu Rangga saat ini, meski aku tidak lantas langsung memastikan perempuan yang kulihat ini adalah orangnya. Tidak, selera Rangga tidak serendah itu. Dia tidak akan tertarik pada gadis yang ia temukan di tempat hiburan. Tapi, melihatnya tidak menghindari sentuhan perempuan itu sama sekali, aku tahu siapapun orang yang membuat hatinya mendua tak ada hubungannya dengan ini. 

Rangga tampak menginginkannya juga.

Tak ada sepatah kata pun terucap dari bibirku yang bergetar. Tahu bagaimana rasanya kehilangan kata-kata yang beberapa detik lau memaksa keluar dari mulutku. Aku hanya berdiri di sana memperhatikan –cukup lama, sampai Rangga akhirnya menyadari bahwa aku masih ada.

Tapi, saat dia melepaskan perempuan itu darinya aku sudah berlari keluar.

“Mara!” dia menyusulku.

Aku menerobos kerumunan orang-orang mabuk. Aku baru sadar hari ini kalau mereka terlihat sangat kotor dan menjijikan. Aku berusaha keras utnuk bisa melewati mereka karena mereka mulai seperti zombie yang berjalan terseok-seok dengan bicara tak jelas dan suka menabrak orang. Di pintu keluar aku masih sempat menoleh –sekali. Rangga tampak cemas dan aku bisa melihat bahwa dia kelihatan cukup merasa bersalah. Aku sedang menebak-nebak apa yang mungkin akan dia katakan. Misalnya seperti, ‘semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan’ atau ‘beri aku waktu untuk menjelaskan’, atau mungkin ‘Tolonglah, Mara, aku tidak mengenalnya. Sama sekali’. Tapi, kukatakan saja, aku tak butuh kata-kata klise untuk bisa bertahan di sana sampai pesta sialan itu selesai.

“Mara!” dia masih memanggilku dan bahkan menarik lenganku.

Kesal, aku menepisnya dengan kasar. Aku tidak bicara. Harusnya aku segera pergi karena tempat itu makin membuatku muak sampai rasanya ingin kumaki orang-orang lewat yang memandang ke arahku. Tapi, aku selalu tidak berdaya melawannya bahkan di saat itu harus.

“Kamu jangan salah paham dulu…,” katanya, dan terus terang itu terdengar lebih menyakitkan daripada tiga tipe kalimat tadi. Dia seakan menyalahkanku untuk apa yang aku rasakan daripada mengklarifikasi. Missal, dengan mengatakan bahwa wanita itu yang tahu-tahu muncul di depannya. Oh benarkah? Aku melihatnya tidak menghindar, itu artinya dia senang-senang saja. Dan itulah masalahnya.

Aku hanya menatapnya. Tebak, bagaimana wajahku saat ini? Entah. Tapi, rasanya panas sekali. Bahkan tetesan air mata saja seperti akan melelehkan kulitku. “Kamu mau bilang apa lagi?!” teriakku akhirnya, menepiskan tangan yang entah mengapa masih menahanku untuk tinggal.

Kalau benar dia sudah berselingkuh lalu apa? Aku tidak mengerti mengapa aku masih rela bertahan di sisinya. Dia sudah tidak lagi menatapku seperti dulu. Dia sudah lupa akan banyak hal. Bagaimana kami bertemu dan berjanji, dan bagaimana kami menjalani ini dengan susah payah sampai detik ini, dia melupakannya begitu saja semudah ia melupakan hari ulang tahunku.

“Dengar, Mara…,” dia memulai, dengan ragu-ragu, dengan menatapku lekat-lekat seakan ingin memastikan bahwa dia tidak ketinggalan perubahan raut wajahku. “Aku ngerti kamu marah… tapi kamu harus dengerin dulu…”

“Dengerin apa?! Kamu suka kan dideketin kayak gitu?!” teriakku.

“Bukan gitu. Aku sama sekali nggak…”

“Nggak apa?! Nggak bisa nolak dibelai-belai sama perempuan murahan itu?!” aku masih menyerangnya dengan kata-kataku. “Kamu mau jelasin apa?! Kamu nggak sadar kalau itu bukan aku karena kelewat mabuk?! Atau kamu mau bilang kalau dia yang deketin kamu duluan?!”

“Mara!” hardik dia, tiba-tiba merenggut kedua bahuku. Suaranya keras, bahkan mengalahkan dentuman music. Atau mungkin karena wajahnya terlalu dekat denganku. “kamu tahu sendiri ini tempat apa kan?”

“Iya, terus aku nggak boleh ikut supaya kamu bisa bebas?!”

Rangga terlihat menarik nafas panjang. Ia melepasku. Kenapa justru dia yang terlihat lelah? Dari sini, ia mungkin akan mengendalikan perasaanku dengan terus berbicara sambil menatap, mengunciku dengan tatapan itu agar aku tak bicara selagi ia bicara. Benar saja, aku selalu menunggu sambil berharap seperti ini saat kami bertengkar. Kurasa setiap bicara dengannya aku semakin kehilangan hakku untuk mengungkapkan rasaku sendiri. Ini lebih seperti merelakan diri untuk terus disakiti ketimbang memaafkan.

“Aku butuh jarak…” kata dia.

Apa? Aku ingin Rangga mengulangnya sekali lagi.

“Kamu intervensi terlalu jauh dalam hidup aku sampai aku bahkan nggak bisa nafas, Mara…” kata dia, matanya sayu dan ia terlihat hati-hati mengatakannya. “Aku sudah lama mau ngomong ini tapi belum ketemu saat yang tepat…”

“Apa maksud kamu? Kamu mau putus?”

Rangga menggeleng. “Kamu sadar nggak sih, kalau hubungan ini mulai mengganggu kehidupan kita masing-masing?” tanya dia. “Kamu selalu berusaha untuk tahu dan ikut ke mana pun aku pergi sampai aku nggak punya ruang? Aku tahu kamu sayang, tapi nggak gini juga caranya. Kita belum menikah. Aku masih punya kehidupan lain di luar hubungan kita. Kerjaan, keluarga dan pergaulan. Kamu mencampuri semua itu Cuma buat menunjukan cinta kamu tapi kamu sama sekali nggak sadar kalau kamu malah mengacaukan semuanya….”

Aku terdiam.

“Aku capek, Mar...,” keluhnya. “Aku capek tiap aku hilang, kamu menghubungi semua orang untuk memastikan aku ada di mana. Aku bukan anak kecil yang hilang dan harus dicari….”

“Itu karena aku nggak mulai percaya sama kamu, tahu?!”

“Kenapa kamu nggak percaya?” balas dia.

Aku diam. Entah. Aku terlalu takut kehilangan dirinya, tapi tak bisa kukatakan begitu saja.

“Apa gunanya kita berhubungan kalau kita nggak saling percaya?”

Aku diam lagi.

“Plis, Mara, kali ini jangan egois. Kita menjalani hubungan ini berdua dan kita harus adil satu sama lain. Kita nggak boleh memaksakan ego sendiri… hubungan kita udah nggak nyaman lagi. Pertama, karena kamu posesif, aku jadi nggak konsentrasi sama apapun yang mau aku lakuin. Kedua, gara-gara kamu posesif juga hidup kamu jadi nggak tenang. Kamu punya cita-cita ‘kan? Tapi, kenapa kadang kamu seolah nggak peduli? Ada hal yang jauh lebih penting yang harus kamu lakuin ketimbang mikirin aku ngelakuin yang aneh-aneh selama kamu nggak ada…”

“itu karena aku cinta sama kamu…”

“Stop, Mara! Itu bukan cinta! Itu pemaksaan….”

Kata terakhirnya membuatku benar-benar terbungkam.

“Satu hal lagi yang bikin aku nggak nyaman adalah karena kamu membuat teman-teman kamu salah paham soal aku… mereka menilai aku yang kurang perasaan, padahal sebenarnya bukan itu. Kamu terlalu maksain semuanya di saat aku nggak bisa berbuat sesuatu. Aku terpaksa harus diam, bahkan di saat mereka terus-terusan nyindir kalau aku cuma mempermainkan kamu. Dua tahun, Mara! Dua tahun! 
Apa ada main-main yang selama dan seserius itu? Jadi tolong… pikirkan semuanya lagi…”

Aku masih menutup mulutku. Selama mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibirnya, aku hanya meneteskan air mata.

“Aku butuh waktu…. Aku butuh tenang!”

Aku menahan nafas beberapa saat, agar tak perlu terisak. Tapi, itu malah kelihatan lebih buruk lagi. “Aku rela ada di sini tanpa peduli, persahabatan aku sama teman-teman aku yang bahkan sudah terjalin jauh sejak kita kenal jadi hancur. Mereka nggak berpikir negative soal kamu! Semua sikap kamu lebih jelas di mata mereka ketimbang di mataku!” kataku, setengah berteriak. “Ya, kamu benar, dua tahun! Dan untuk orang yang seumuran kita, pacaran kita nggak seserius itu, Ngga! Kamu nggak pernah kenalin aku ke ortu kamu! Aku ragu apa kamu pernah cerita soal aku sama mereka! Dan bayangin, dua tahun itu juga aku butuh jawaban. Bukan sekedar jawaban cinta, bukan sekedar jadian! Kita sudah jauh dan bahkan tinggal bersama tapi kamu seakan menahan diri untuk…”

“Cukup, Mara! Aku tahu harusnya aku nggak berdebat dengan kamu karena kamu selalu benar! Tapi, sekarang, aku sedang nggak mau ribut!”

“Terus mau kamu apa?!”

“Aku udah bilang! Aku butuh jarak, oke?!”

“Ya udah! Kenapa kita nggak putus aja sekalian?! Supaya kamu bebas mesra-mesraan atau tidur sama perempuan yang nemuin kamu barusan! Supaya kamu bisa nafas!”

“Oke! Kalau itu mau kamu, ya udah!”

Aku pikir semuanya tidak seserius itu. Kami hanya bertengkar karena saling emosi. Mungkin besok atau paling lama lusa, semuanya akan kembali seperti semula. Kami akan bertemu lagi, saling meminta maaf, begitu bertemu di rumah –yah, itu pun jika aku sempat pulang.

Salah seorang teman Rangga tampak menyeretnya kembali ke arena bilyar saat aku menoleh untuk yang terakhir. Bagaimana sebuah hari yang indah diakhiri oleh malam yang begitu buruk?. Dalam perjalanan pulang –entah ke rumah, atau terlunta di jalan sampai Rangga menelpon dan bertanya aku berada di mana lalu ia menjemput untuk mengakhiri pertengkaran ini, aku tidak dapat memikirkan apa-apa. Aku hanya melangkah, cepat sekali, dengan mengabaikan sekitar sambil menyeka air mataku.

Orang-orang lewat selalu memperhatikanku. Karena aku seorang perempuan bertubuh tinggi dengan rambut panjang. Meskipun sedikit tomboy aku mempunyai banyak gaun –walau tak terlalu suka memakainya. Aku memilikinya karena Rangga.  Mulai meninggalkan jeans dan kaos longgarku, hanya demi terlihat pantas bagi seorang pengusaha muda seperti Rangga. Padahal aku benci sekali dengan jenis pakaian yang kukenakan sekarang. Gaun ketat, tanpa lengan, belah dada seperempat dan warnanya merah pula. Jaket denim tidak menutupi lekuk tubuhku yang menjadi pemandangan segar bagi beberapa preman jalan yang kulewati.

Sungguh menyebalkan saat mereka menyapa ‘hai’ dengan tatapan melecehkan, seakan aku akan berhenti dan menawarkan diri. Aku mempercepat langkahku, hendak menyebrang jalan karena halte bus menuju pulang berada di sana.

Tiba-tiba seseorang menghampiriku. Seorang pria dengan kaos hitam tanpa lengan, dengan rantai menggantung di pinggangnya seolah menahan celana jeans-nya agar tidak melorot, menyapaku. Dengan seringai khasnya memperlihatkan gigi-gigi kuning yang agak maju dari posisi seharusnya. Aku tidak melihat wajahnya karena dia mengenakan topi baseball. Tapi, aku menyingkir dari pedestrian, demi menghindarnya. Jika dia mendekat selangkah lagi, aku akan menanggalkan sepatuku yang runcing tumitnya bisa saja menembus perutnya jika dia mencoba menyentuh. Sumpah, itulah yang benar-benar ingin kulakukan!

“Mau ke mana buru-buru, dek?” tegur dia karena aku tak juga menggubris dan berjalan lebih cepat.

Tiba-tiba dia menarik lenganku dan aku sentak menepiskannya dengan kasar. “Pergi!!” teriakku, mendorongnya agar jauh dariku sementara tubuhku tak cukup kuat bertahan.
Itulah hal terakhir yang kuingat, menyadari bahwa malam itu aku tidak pulang ke rumah. Beberapa saat kemudian aku masih tak tahu apa yang telah terjadi kepadaku.

Aku hanya mendengar suara bip yang panjang di antara suara-suara orang yang panic.

“Dia nggak bernafas, Dokter!”

“Pertahankan! Kita nggak boleh kehilangan dia!”

Tapi, tetap saja semua menjadi kian gelap bagiku. Aku tak pernah bisa pulang ke rumahku lagi. Aku tidak mengingat apapun kecuali seberkas cahaya menyilaukan dan jeritanku sendiri. Hal terakhir yang aku rasakan adalah sakit dan dingin. Dan aku tidak pernah tahu bahwa seperti itulah rasanya mati.

Aku bahkan dapat melihat hari pertama aku dilahirkan ke dunia oleh sepasang orang tua yang kacau. Aku tidak pernah tahu bahwa ternyata hari itu mereka begitu bahagia karena kehadiranku. Entah masalah macam apa yang membuat mereka bak kucing dan anjing yang selalu bermusuhan. Aku meninggalkan mereka saat usiaku 18 tahun dan memilih hidup sendirian. Lalu aku bertemu Lando, Acha, dan Takki yang kemudian menjadi sahabat terbaikku. Aku menyesal aku tidak datang ke pesta yang mereka siapkan untukku.

Aku belum ingin mati.

Setidaknya aku ingin memperbaiki kesalahanku dulu...

Aku tidak ingin mati....
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments