๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Reaksi Acha ketika melihatku tidak berbeda. Dia bahkan menjerit sambil panggil-panggil Mamanya segala. Sampai-sampai Mama-nya muncul kasak-kusuk karena mendengar anaknya histeris. Setelah kumpul kami pun pergi ke tempat pesta yang sudah mereka siapkan; sebuah tempat karaoke di mana kami bisa bernyanyi sepuasnya.
Di antara kami, hanya Acha yang suaranya paling bagus. Mirip-mirip Rossa. Lagu favoritnya Acha adalah lagu band Geisha. Sedangkan suara Lando adalah teriakan yang tanpa melodi. Suka sekali menyanyikan lagu Aerosmith yang menjadi soundtrack-nya Armageddon walaupun dia tidak mengucapkannya dengan benar.
Takki tidak pernah bernyanyi karena bukan hobinya. Sedangkan aku, lagu 22 Taylor Swift adalah lagu kesukaanku yang selalu kunyanyikan setiap kami berkaraoke. Ketiga teman-temanku asyik bergoyang dan membuat gerakan-gerakan aneh.
Aku bersyukur pernah memiliki mereka sebagai sahabatku.
I don’t know about you but I’m feeling 22
Everything will be alright if you keep me next to you
You don’t know about me but I’m feeling 22
Everything will be allright if we keep dancing like we’re 22
Setelah menyanyi hampir tiga jam lamanya, satu persatu mulai tumbang dengan gejala yang sama; tenggorokan kering dan kehabisan energi. Semua jenis makanan yang sudah dipesan hanya menyisakan piring-piring kosong. Takki tiduran di sofa seolah tidak peduli di mana berada selagi Acha menyanyikan lagu selow milik Raisa.
Aku merasakan getaran pada ponselku dan kulihat Rangga mencoba menghubungiku. Tapi, aku memilih untuk mengabaikannya. Aku yakin dia akan memaksa menjemputku kalau dia tahu aku pergi bersama teman-temanku ke tempat karaoke di saat aku harus bertanding; lebih-lebih kami bertengkar pagi ini. Mungkin karena menjelang sore aku tidak kunjung kembali dan itu mematahkan dugaannya bahwa kali aku tak sekedar mengancam. Aku benar-benar pergi.
Terkadang aku bingung padanya. Untuk apa dia mencoba menghubungiku lagi kalau dia tengah memikirkan untuk menjaga jarak? Apa keputusanku di luar dugaannya sehingga dia merasa ada yang salah? Entah.
Selama 2 tahun ini aku lebih banyak menghabiskan waktu mengikuti dirinya ketimbang menghabiskan hampir 4 jam untuk membuang-buang suara di tempat karaoke. Rangga yang sama sekali tidak berjiwa seni tidak akan mengerti bahwa menyanyi bukanlah tentang suara yang bagus saja. Banyak orang yang suaranya berantakan hobi menyanyi. Mereka melakukannya untuk melepaskan segala perasaan.
“Mar, ini lagu favorit lo nih!” kata Acha sambil menyodoriku mikrofon.
Aku menatap ke layar di mana lagu Taylor Swift yang lain baru saja mulai. Judulnya Mine.
Kenapa lagu ini menjadi favorit bagiku?
Liriknya hampir seperti cerita hidupku. Perceraian orang tua yang membuat seorang gadis sulit mempercayai orang lain sampai dia bertemu seorang laki-laki yang mengubah segalanya. Dia beranggapan bahwa laki-laki itu adalah hal terbaik yang pernah dia miliki.
Brace myself for the goodbye
Cause it’s all I ever known...
Tiba-tiba aku berhenti bernyanyi.
Aku teringat saat pertama kali bertemu Rangga. Di sebuah cafe di mana dia yang datang kepadaku.
***
Aku dan teman-temanku sedang merayakan ulang tahun; ulang tahunnya Lando yang ke 24. Acha memanggilkan seorang pengamen yang kebetulan dia lihat lewat di depan cafe untuk bernyanyi. Dan mereka menyanyikan lagu tahun 90 an milik ME setelah acara potong kue selesai.
Oh inikah cinta?
Terasa bahagia saat jumpa...
Karena suara pengamennya bagus, entah mengapa aku tergerak untuk menari; aku bisa sedikit breakdance dan kebetulan memakai sebuah topi. Nyanyian pengamen dan tarianku mengundang perhatian pengunjung cafe lain; termasuk Rangga yang sebenarnya tengah membicarakan soal pekerjaan dengan teman sekantornya.
Aku ingat, aku mengenakan celana pendek hitam dengan kaos abu-abu longgar serta lipstik merah yang membuat mereka menjulukiku Taylor Swift; menari-nari dengan topi bundarku. Saat topi itu terlepas dari tanganku dan berguling tepat mengenai sepatunya, saat itulah dia mendapatkan tatapanku. Rangga membawakan topi itu dan bahkan menaruhnya kembali di kepalaku.
Kami bertemu lagi di lain kesempatan karena mempunyai tempat tongkrongan yang sama. Namun, bagiku tidak mudah menjalin hubungan dengan orang lain yang tidak terlalu kukenal. Perceraian orang tuaku mengajarkanku dengan baik bahwa terkadang orang yang kita kenali sekalipun bisa berubah menjadi orang asing. Cinta hanyalah ilusi. Tapi, Rangga mengubah pemikiranku dengan mengatakan bahwa dia berjanji kami tidak akan melakukan kesalahan seperti orang tuaku.
Tapi, pada akhirnya pertengkaran demi pertengkaran tetap saja membuatku berlari keluar rumah dengan sedih. Kupikir itulah alasan kenapa setiap bertengkar dengan Rangga, aku pergi dan berpikir untuk mengucapkan selamat tinggal. Hanya itulah yang kutahu dari orang tuaku. Hanya saja cinta mampu melemahkan perasaan seseorang. Setelah emosiku reda, aku kembali. Mungkin itu yang membuat Rangga tidak terlalu peduli kalau aku merajuk; aku akan selalu kembali padanya.
“Mar?” tegur Acha yang heran melihatku berhenti di tengah-tengah lagu. “Mara?”
Rangga tidak menepati janjinya; itulah yang kutahu. Aku sudah pergi terlalu jauh hanya karena ingin melarikan diri dari kenyataan.
***
Bukankah aku sudah pernah bercerita bahwa lari adalah satu-satunya kemampuan yang kupunya sehingga dalam mimpi pun aku selalu berlari. Sudah sering kali aku bermimpi bahwa aku selalu berlari keluar dari rumah hanya demi tidak mendengar keributan antara ayah dan ibuku yang saling berdebat. Mimpi itu menjadi kenyataan saat aku memutuskan meninggalkan rumah karena muak pada mereka dan tak pernah pulang.
Dan entah kenapa, hari ini aku begitu menyesal telah melakukannya. Pantas saja aku selalu merasa bahwa aku tak punya tempat untuk pulang. Apabila Rangga benar-benar membuangku, ke mana lagi aku bisa pergi? Karena tak ada yang pantas disebut rumah selain orang tua; betapa pun buruknya.
Aku bukannya tidak punya pilihan. Aku hanya telah membuang pilihan itu.
Aku, Mara, seorang pelari. Aku selalu berlari seperti Forrest Gump. Tapi, Forrest Gump tidak berlari dengan gaun merah pendek yang hanya ditutup jaket denim dan sepatu kets. Aku berlari karena tidak ingin terjebak macet terlalu lama di jalanan Jakarta yang bisa saja berjam-jam terlebih pada jam sibuk.
Sudah kubilang, aku hanya punya hari ini. Dan waktuku tidak banyak. Katakanlah aku ini Cinderella yang hanya punya waktu sebelum tengah malam tapi dia tidak perlu meninggalkan sebelah sepatunya untuk memberi jejak pada sang pangeran.
Tidak kusangka, kali ini aku berlari ke rumah setelah biasanya aku selalu lari darinya.
Aku mengabaikan preman-preman yang menggangguku sepanjang jalan hanya karena memakai baju yang pendek. Sampai tiba-tiba ada yang berani menarik lengan jaketku.
“Mau ke mana, dek?” tegurnya dan ia pria dengan tubuh cungkring dan gigi-gigi yang sedikit maju.
Sontak aku langsung menepiskan tangannya. “Lepasin gue!” teriakku saat tubuku hampir kehilangan keseimbanganku. Tubuhku sedikit goyah saat melawannya dengan sekuat tenagaku dan tiba-tiba saja aku sudah berada di badan jalan demi melepaskan diri darinya.
Seperti de javu, aku melihat sebuah cahaya melesat kepadaku. Aku pikir itu akan terjadi lagi dan aku hanya memejamkan mata. Aku sudah tahu ini akan terjadi lagi.
***
Komentar
0 comments