[Hal.8] BEFORE I DIE - Baca Cerbung Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar


Hal pertama yang kulihat dari Takki saat dia menemukanku di depan pintu kosannya adalah kerutan di dahi yang mengisyaratkan ledekan.

“Lo dari mana pake baju seksi gitu?” dia bertanya saat aku masuk tanpa babibu. “Dan bukannya hari ini....

“Gue ada pertandingan,” potongku, “dan harusnya sekarang gue udah ada di gelanggang.”

Takki masih menatapiku heran. “Terus kenapa lo malah ke sini?” tanya dia, tanpa menghilangkan kerutan di dahinya.

“Buat apa?” balasku sembari duduk di kursi malas Takki. “Gue tahu gue bakal menang.”

“Songong...,” gumamnya sambil kembali ke depan laptopnya. Takki seorang blogger yang khusus menulis tentang hal-hal berbau supranatural. Tak jarang hobinya adlah menonton film horor triler sampai lewat tengah malam.

“Gue juga tahu kalau kalian udah nyiapin pesta buat gue setelah pertandingan,” kataku serius.
Takki langsung menoleh. Kali ini dahinya mengernyit lagi. Takki memang tidak banyak bicara. Dia lebih pendiam dibandingan Acha dan Lando yang mirip burung murai. “Siapa yang bilang?” tanya dia.

“Bukan Lando atau Acha. Gue tahu sendiri,” jawabku mencoba untuk tersenyum.

“Lo bilang gitu gue yakin itu pasti salah satu dari mereka. Emang nggak bisa jaga rahasia,” katanya, kesal sambil meraih handphone-nya. Mungkin mencoba untuk menghubungi salah satu.

“Ki, udahlah. Kalian udah nyiapin pesta kemenangan itu ‘kan buat gue? Sekarang, kenapa kita nggak ke sana aja langsung?” ujarku.

“Lo sinting apa? Ini masih jam sembilan. Lando sama Acha pasti mati berdiri kalau mereka tahu lo bukannya pergi tanding tapi malah di sini,” kata dia dengan cerewetnya. “Lagian apa sih yang bikin lo nggak pergi? Bukannya itu impian lo selama ini?”

Aku hanya menggeleng sambil tersenyum.

Sulit untuk mengatakan bahwa sebenarnya aku sudah pernah meraih impian itu; meski pun hanya aku yang mengetahuinya. Perasaan saat aku menggenggam medali itu sungguh nyata. Tak ada yang bisa menjelaskan gambaran itu dengan logika. Terbangun dengan gaun pesta yang sesungguhnya belum ku pakai, sudah menjelaskan bahwa sebenarnya aku... hanya mengulang satu hari terakhir dalam hidupku untuk melakukan hal yang lebih baik ketimbang fokus terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu kubutuhkan.

Aku ingat telah mengecewakan mereka dengan tidak hadir di pesta kemenangan yang mereka siapkan. Ku pikir, itu adalah alasan kenapa aku kembali terbangun di tanggal yang sama; 14 Juli.
“Lo aneh, Mar...,” kata Takki saat ia mendapati senyumku.

“Bukan gue, Ki. Tapi hari ini,” jawabku.

Sulit untuk menjelaskannya. Saat aku dan Takki mulai berkendara dengan motor menuju rumah Lando, aku tenggelam dalam keramaian menjelang siang di mana setiap ruas jalan selalu dipadati kendaraan. Aku pasti akan sangat merindukan ini; dan entah aku masih akan memiliki kenangan tentang kota ini. Namun yang pasti, boncengan dengan Takki belum pernah terasa menyenangkan seperti ini. Sampai-sampai aku merentangkan tanganku dan menjadi pusat perhatian.

Takki menganggapku aneh; hingga tidak ada lagi kata yang mampu menggambarkan saking anehnya diriku hari ini. Meski dia sedikit curiga pada mataku yang sembab. “Lo putus sama Rangga?” tanya dia.

Aku hanya memberinya senyuman. “Rangga udah nggak penting lagi sekarang,” kataku.

“Lho kok? Tumben...,” Takki terdengar sarkastis.

“Yah, dia nggak punya pesta yang bikin gue bisa teriak-teriak nggak jelas sama mikrofon,” jawabku, sambil mendahului langkah Takki melewati pekarangan rumahnya Lando.

“Kenapa lo baru sadar sekarang? Otak lo baru bener?”

Aku hanya tertawa pelan. “Kalau gue bilang lo pasti nggak percaya,” kataku.

“Percaya apaan?”

“Apa ya namanya untuk perasaan pernah mengalami sesuatu yang belum terjadi?”

“De javu?”

“Bukan. Sesuatu yang lo pikir udah lo lakuin tapi ternyata belum terjadi.”

“Itu sih namanya halusinasi,”

“Bukan!”

“Maksud lo apa sih? Gue nggak ngerti!” Takki menghentikan langkahnya. Sepertinya dia menanggapi omonganku dengan sangat serius.

“Tadi pagi gue bangun tidur dan tiba-tiba udah pakai gaun ini. Lo pikir dari mana gue tahu gue bakal menang pertandingan hari ini dan soal pesta yang kalian siapin?” kataku.

Takki kembali mengerutkan dahi. Dia memandangiku dengan tatapan skeptis seakan ingin mengatakan sesuatu yang akan membuatku bergidik. “Lo skizofrenia?” tanya dia.

Aku cukup terkejut. “Ski... skizo apa?” tanyaku ragu-ragu.

“Skizofrenia. Itu penyakit kejiwaan. Di mana seseorang beranggapan ada suatu kejadian tapi sebenarnya itu cuma di pikiran dia aja,” katanya.

Aku langsung ingin membantahnya. “Bukan itu, Ki... gue...,”

Takki masih memandangiku dengan heran. “Lo nggak mungkin sakit jiwa,” katanya.

“Ya iyalah!” kataku. “Suer! Gue ngerasa udah menjalani hari ini di satu sisi kehidupan yang lain!”

“Bisa aja lo ngelindur pingin banget ke pesta cowok lo sampai nggak sadar lo pake baju itu!” putus dia.

“Gue sama sekali nggak ingat, Ki!”

“Yah, namanya juga ngelindur. Mana lo inget?”

Aku diam saat Takki mulai melanjutkan langkahnya. Kami sudah berada di teras rumahnya Lando.
“Emang apa sih hal terakhir dari hari di satu sisi kehidupan yang lain itu?” tanya Takki lagi sambil memberikan tanda kutip dengan jari-jarinya.

Kecelakaan; di mana kemungkinan aku akan mati.

Tapi, aku tidak mungkin mengatakannya.

“Ah, mungkin gue cuma halusinasi!” kataku segera sambil melompat hendak merangkul punggung Takki.

Takki mengetuk pintu sambil membaca salam sebelum Lando dengan muka bantalnya keluar bersamaan dengan mulut selebar kuda nil saat menguap.

“Iiis, beneran kebo lo ah!” gerutu Takki.

Lando mengacak-acak rambutnya sebelum dia dapat melihat dengan jelas. “Mara?!” dia agak histeris ketika mendapatiku di depan pintu rumahnya di saat aku harusnya sudah memacu kecepatan di lintasan. “Lo nggak tanding?”

“Gue mau ke pesta,” kataku cepat.

“Lo sakit jiwa ya! Ini pagi woy!” katanya melirik Takki yang malah menoleh padaku sambil geleng-geleng kepala. Sekarang ada dua orang yang mengira kalau aku aneh.

***
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments