๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Rangga tidak akan mengerti. Rangga tidak akan tahu bagaimana rasanya telah melihat sesuatu yang pasti akan terjadi. Bicara dengannya hanya akan memperburuk keadaan; hingga bahkan melebihi pertengkaran sesaat sebelum aku tertabrak mobil. Dia sudah sering memperlakukanku seperti ini tapi sebelumnya aku tidak pernah jera. Aku bahkan mengabaikan sindiran Takki bahwa kalau sudah diperlakukan seperti itu harusnya aku pindah dari apartemen ini. Tapi, ke mana aku bisa pergi? Dan bagiku tidak ada tempat yang pantas di sebut rumah selain di sisinya. Aku tidak tahu bagaimana membuat dia mengerti bahwa aku sangat takut hubungan ini berakhir.
“Kamu mau tahu alasan kenapa aku belum ngenalin kamu ke orang tuaku?” tanya dia tiba-tiba.
Aku hanya diam saja dan menatapnya tanpa berkedip. Menanti barisan kata yang keluar dari bibirnya.
Yang jelas ini tidak ada di dalam mimpiku; aku tidak pernah tahu alasan persis mengapa Rangga cenderung mulai menjaga jarak. Tapi ituberhasil membuatku syok.
“Mereka nggak akan setuju soal hubungan kita, Mara...,” dia menjawab pertanyaannya sendiri. “Mengertilah posisiku sangat rumit...”
Itu menjawab semua pertanyaan yang nggak pernah ingin Rangga jawab. Sedikit tapi bisa diterima. Di sinilah aku benar-benar menyadari bahwa hari ini, atau besok atau lusa atau bahkan setelah itu, semuanya tetap akan berakhir. Aku melihat tatapan pesimis Rangga padaku. Kurasakan ketidaktegaannya berterus terang namun visi itu sekarang terkesan mempermudah jalannya untuk mengakui sesuatu yang tidak boleh kuketahui.
Aku sudah melihat akhir dari kisah cinta ini.
“Aku bakal pergi...,” kataku dengan putus asa. Aku nggak ingin mengulangi percakapan itu karena ak tahu hasilnya akan sama. Akulah yang pergi. “Nggak akan ada lagi pertengkaran. Kamu bisa bernafas sekarang. Aku nggak akan menelpon orang lain lagi untuk mencari-cari kamu. Aku nggak akan membuat kamu berada di posisi yang sulit lagi....”
“Mara, bukan itu maksudnya...,” Rangga tiba-tiba menghampiriku. “Aku hanya butuh lebih banyak waktu sampai menemukan saat yang tepat untuk bicara.”
“Waktu?” aku hanya menatapnya dengan senyum getir. “Gimana kalau aku nggak punya banyak waktu?”
Rangga diam.
“Gimana kalau... ternyata... aku... aku hanya punya hari ini?”
“Aku nggak pernah suka kamu mengancam akan pergi dan ninggalin aku. Itu kekanakan....”
Aku tertunduk dan terisak. “Maaf,...,” kataku. “Aku menyebabkan banyak masalah dalam hidup kamu....”
“Aku heran kamu kenapa sih pagi ini? Kamu aneh, Mar!” kata dia.
“Aku bilang kalau, Rangga,” tegasku; mengambil jarak darinya. “Dan itu bukan ancaman.”
“Apa kamu serius mau pergi?” tanyanya, tertawa sinis. Dia kedengaran meragukan ucapanku.
Aku baru saja menyadari bahwa... gambaran yang kukira mimpi itu adalah kenyataan. “Aku selalu mengancam bakal pergi karena ingin tahu, kamu menahanku atau nggak. Karena kupikir kalau kamu melarangku tandanya kamu nggak ingin berpisah. Tapi, ujung-ujungnya ancaman itu malah jadi senjata makan tuan. Aku menyerah karena itu malah menunjukan kalau sebenarnya kamu... memang nggak peduli... Entah karena muak sama sikapku atau kamu tahu aku akan selalu kembali....”
“Cukup, Mara! Cukup!”
Aku menarik nafas lagi sambil menyeka air mataku. “Tapi... aku punya visi kemungkinan aku hanya punya hari ini...,” sambungku, mulai bisa mengabaikan sikap Rangga yang mulai tidak bersahabat. “Dan aku nggak mau menghabiskannya di sini, bertengkar dengan kamu dan pergi dalam keadaan menangis. Kita sudah memiliki pertengkaran seperti itu sebelumnya dan anehnya hanya aku yang tahu soal itu....”
“Kamu bilang apa? Aku nggak ngerti!”
Aku menggeleng sambil tersenyum. “Aku juga nggak ngerti, Ngga,” kataku. Aku punya firasat bahwa aku memang nggak bisa menghindari perpisahan itu. “Hari ini aneh....”
Rangga masih memandangiku heran. Aku hanya berusaha untuk tersenyum dan tertawa walaupun air mataku menetes.
Hari ini aku akan mati.
Aku tahu itu.
“Kamu mau ke mana?” tanya Rangga.
“Pergi,” jawabku sebelum membuka pintu.
“Kamu serius?”
Aku mengangguk. Dia tidak tahu betapa sulitnya bagiku menahan tangis. “Selamat tinggal. Semoga beruntung,” ucapku dan melewati pintu itu dan menyimpan wajahnya baik-baik di benakku. Tapi, Rangga menarik tanganku, dia menghentikanku. Rangga meraih tanganku dan menyeretku kembali ke dekat tempat tidur. Tampaknya dia tidak puas dengan sikapku; pasti mengira bahwa itu seperti ancaman kosong yang biasa kubuat saat merajuk.
“Jangan bermain-main, Mara!” dia terdengar mengancam. “Cobalah untuk tenang! Kamu sedang mabuk!”
“Aku nggak mabuk!” teriakku. “Aku nggak mabuk, Rangga! Aku tahu apa yang aku katakan!”
“Kamu akan pergi dengan pakaian seperti itu?!” teriaknya benar-benar naik pitam tanpa melepaskan lenganku dari genggamannya yang kuat.
“Lepasin aku!” jeritku berusaha menepiskan genggamannya karena itu terlalu sakit. Aku berhasil melepaskan diriku dari cengkramannya tapi tidak dari kemarahannya. Aku memilih menghindar dan mulai mencari jaket di lemari untuk dikenakan.
Dia benar aku tidak mungkin keluar dengan gaun merah ketat yang membuat orang pasti mengira bahwa aku adalah pelacur yang baru selesai melayani tamunya.
“Kamu nggak ingat kamu yang beliin aku baju ini untuk bisa ke pesta kamu yang mahal?” tanyaku sebelum meraih gagang pintu. “Karena kamu menyukainya?”
Rangga diam. Dia masih menyorotiku dengan mata penuh amarah saat aku keluar kamar dan mengenakan sepatu kets-ku sampai aku keluar dari apartemen dengan berlari.
Komentar
0 comments