[Hal.6] BEFORE I DIE - Baca Cerbung Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar


“Kamu membuka handphone-ku tanpa izin?” Hal yang kudengar berikutnya dari Rangga adalah tuduhan. Tuduhan aku telah mengutak atik handphone-nya sehingga aku bisa tahu percakapan dia dan teman-temannya soal pesta nanti malam. Aku memang sering melakukan itu dan sadar betapa posesifnya diriku terhadapnya tapi tidak untuk kali ini.

Aku melihat handphone-nya di atas meja tapi aku sama sekali tidak menyentuhnya. Aku benar-benar paham sekarang, laki-laki ini hanya memiliki kepahitan untukku. Di depannya aku hanya bisa menelan ludah. Sangat sulit untuk menceritakan apa yang kualami sejak tadi.

Aku menggeleng satu kali, tanpa beranjak dari sudut itu. “Aku hanya tahu...,” jawabku.
“Kamu nggak tanding hari ini?” tanya dia kemudian.

Aku menggeleng lagi, sekali. “Aku tahu aku bakal menang,” jawabku. “Kamu datang terlambat. Ada rapat di kantor jam 10 pagi.”

Rangga mengerutkan dahinya. Dia mungkin membenarkan soal rapat itu tapi tidak percaya kenapa aku bisa tahu bahwa dia merencanakan untuk datang terlambat di pertandingan. Tapi, sekarang dia datang atau tidak sudah tidak ada gunanya. Toh, aku tidak akan bertanding.

Aku tidak akan ke mana-mana. Aku akan tetap di sini untuk mencegah hal yang lebih buruk lagi terjadi padaku.

“Kamu mabuk?” tanya dia, masih belum puas.

“Kamu tahu aku nggak minum alkohol. Tubuhku aset yang berharga buat karir atlet-ku, Ngga...,” tegasku agar dia berhenti mencurigai soal gaun itu. “Aku nggak akan merusaknya demi alkohol walaupun aku sering nemanin kamu minum-minum.”

“Kamu kenapa sih?!” Rangga mulai tidak sabar.

“Tinggalin aku sendiri...,” kataku pelan.

“Ini masih pagi tapi kamu udah bikin aku kesal, Mar...,” gerutunya sambil menjauh. Sepertinya dia akan membiarkanku dan lebih memilih untuk menghindar daripada ... memelukku. “Aku mau berangkat ke kantor. Kamu beneran nggak mau pergi ke pertandingan? Aku masih punya waktu buat ngantarin kamu ke sana kalau mau.”

Air mataku kembali menetes. Aku menghindari pesta itu karena tahu Rangga akan mencampakanku, tapi saat ini aku merasa bahwa itu akan terjadi pagi ini. Sikap Rangga sudah menegaskan bahwa dia sudah tidak mau tahu tentangku.

“Aku tahu kamu bakal bilang kalau kamu butuh jarak. Aku tahu kamu bakal bilang kamu nggak bisa nafas gara-gara aku. Aku tahu kamu bakal... ngebuang aku...,” kataku, mulai gelisah.

Rangga membalikan badannya. Tidak seperti biasanya saat dia menganggapku bicara melantur dia akan menjawabku dengan sarkastis, Rangga hanya menatapku. Di wajahnya yang tegang seolah ada ketakjuban akan kemampuanku menebak apa yang tengah ia pikirkan.

Berarti... benar itu akan terjadi. Rangga memang sudah berencana untuk mengatakan hal-hal seperti itu padaku.

“Aku nggak tahu setan apa yang merasuki kamu pagi-pagi gini,” katanya, berusaha untuk acuh. Aku tahu dia menghindariku agar aku tidak melihat reaksi seperti itu lebih lama.

Aku pun segera berdiri. “Aku tahu semua yang akan kamu katakan soal aku. Semuanya. Aku tahu!” Tegasku. “Kamu hanya sedang mencari-cari waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya!”

“Kamu ini kenapa sih?! Apa lagi kesalahanku sampai kamu menuduh yang bukan-bukan lagi?!” Emosi Rangga terpancing juga.

“Itu bukan tuduhan! Itulah yang akan terjadi di pesta nanti malam, Rangga!” kataku, memelototinya entah untuk membuatnya mengerti atau malah semakin marah.

Yang jelas reaksi Rangga berikutnya menunjukan bahwa emosinya semakin memburu karena sesuatu yang ia anggap menuduh. Aku sangat yakin bahwa dia benar berencana untuk meninggalkanku tapi dia masih mempertimbangkannya. Jika kami berakhir, kemana aku akan pergi? Dia tidak ingin dikejar rasa bersalah karena telah membawaku ke tempat ini.

“Teman-temanku nggak suka kamu dan sebaliknya! Kamu beranggapan bahwa aku terlalu mendikte kamu sampai kamu nggak bisa bernafas! Kamu bilang kalau kamu punya keluarga yang harus kamu pikirkan! Dan aku membuat kamu kehilangan banyak hal!” kata-kataku keluar seperti untaian peluru dari senapan mesin. Cepat, keras dan tanpa jeda sampai-sampai aku tidak bisa bernafas normal. Air mata telah lebih dulu mengotori wajahku seperti keringat dingin yang terus mengalir dari setiap pori-poriku.

Udara di sekitarku menjadi panas; atau mungkin suhu tubuhku lah yang memanas karena terlalu banyak menguras tenaga untuk ketakutan, menangis dan berteriak.

“Hentikan, Mara!” Rangga berteriak di hadapan wajahku sambil meraih kedua pundakku. “Aku nggak tahu apa yang sudah kamu alami, tapi dengan terus bersikap seperti ini aku juga nggak bakal bisa mengerti!”

“Kamu nggak perlu memahami perkataanku karena sebenarnya itu adalah sesuatu yang bakal kamu lakuin ke aku, Rangga! Jangan bohong! Itulah alasan kenapa kamu merubah sikap kamu! Kamu mulai nggak peduli! Kamu mulai mempermasalahkan teman-temanku! Kamu mulai menunjukan... kalau kamu muak berurusan denganku!” teriakku lagi. “Di pesta kamu bakal ketemu sama cewek lain yang bisa dengan bebas meraba-raba kamu bahkan di saat aku ada! Aku... aku melihatnya sendiri!”

“Kamu sudah gila, Mara!” teriak dia mengguncang tubuhku lewat genggaman tangannya di pundakku satu kali dan melepasku dengan kasar. “Aku benci bertengkar dengan kamu! Karena kamu nggak pernah sedikitpun memberiku kesempatan untuk bicara!”


“Kamu nggak perlu bicara! Aku tahu semuanya! Aku tahu semua keburukan pikiran kamu saat ini! Kamu akan membuangku! Kamu akan meninggalkanku!”

“Cukup!” suara Rangga terdengar menggelegar. “Inilah sebabnya aku nggak tahan dengan kamu, Mara! Kamu terlalu paranoid! Kamu terlalu sibuk dengan pemikiran kamu sendiri dan itu sangat mengganggu kehidupanku! Aku sudah bersabar selama ini karena aku pikir kamu bisa bersikap dewasa! Tapi, aku salah, Mara! Salah besar!”

Dalam sesaat, lututku yang gemetaran menjadi lemas. Dia benar-benar terlihat kesal seakan jika aku terus melemparnya dengan tuduhan itu, dia akan mencekikku. Ketakutanku berganti menjadi kesedihan yang sangat. Aku baru saja menyadari bahwa aku sudah kehilangan kendali atas diriku; dan semua karena mimpi yang sekarang sudah tidak kupercayai lagi sebagai mimpi.

to be continued
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments