[Hal.5] BEFORE I DIE - Baca Cerbung Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
“Mara?”

Aku melihat Rangga masuk. Rambut dan wajahnya amat kusut seperti kemeja putih yang dia kenakan. Dia tampak terkejut melihatku meringkuk di sudut antara meja nakas dan tempat tidur; mungkin karena gaun merah di tubuhku yang belum kulepaskan.

Rangga menengok jam tangannya.

Aku tahu apa yang dia cemaskan saat ini. Pagi sudah menunjukan jam tujuh tapi aku bahkan belum mandi.

“Bukannya kamu ada pertandingan? Kenapa kamu masih di sini?” dia bertanya dan mungkin mengira bahwa aku merajuk; karena ia ketiduran sehingga aku belum berangkat ke klub karena tidak diantar.  

Dia pasti heran kenapa aku malah memakai gaun merah pembeliannya itu.
Aku sadar, pikiran Rangga sudah mulai picik terhadapku; dan mimpi itu benar-benar mempengaruhiku.  

Dia akan mencampakanku. Hari ini. Dan aku sangat takut.

Aku pikir dengan mengubah satu hal, rangkaian kejadian kemarin tidak akan terjadi sekarang. Aku telah memutus rantai itu saat menjawab telepon dari Acha. Aku mengatakan padanya bahwa Rangga mungkin pulang ke rumah keluarganya sehingga Acha berasumsi bahwa aku dan Rangga bertengkar. Lalu Acha membangunkan Lando dan Takki sebelum mereka terlibat percakapan di grup. Di sana mereka berencana akan mengantarku. Tapi, aku mengatakan mereka tidak perlu melakukannya.
Kejadiannya sekarang telah berbeda di mana aku tidak membangunkan Rangga untuk mengantarku ke klub seperti seharunya. Aku membiarkannya tetap tidur; tapi sepertinya aku lebih takut untuk pergi ke  pertandingan. Aku sudah tahu aku akan menang. Tapi, bukan itu yang kuinginkan saat ini. Rangkaian kejadian itu akan terjadi!

“Mara, kamu kenapa?” Rangga bertanya padaku

Tapi aku bergeming di tempatku. Menyembunyikan separuh wajahku di antara lututku. Tanganku masih gemetaran.

“Kamu sakit?” dia bertanya; tedengar begitu perhatian. Tapi, apa gunanya kalau aku aku tahu dia akan mencampakanku?

“Mara?” tegurnya lagi. “Ayo bilang, kamu kenapa?”

Aku masih tidak menjawab. Bahkan aku tidak mau menatap wajahnya.

 “Semalam kamu dari mana?” dia bertanya padaku. Kecurigaannya itu terdengar mengarah kepada gaunku.

Aku mengangkat kepalaku dan mendapati tatapan herannya.

“Aku ke pesta, sama kamu,” jawabku, pelan.

“Pesta apa?” dia bertanya.

“Pesta teman-teman kamu...,” jawabku.

Kedua alisnya terangkat. Dia terkejut lagi. “Aku bahkan belum bilang ke kamu soal pesta.” balas dia. “Lagian itu nanti malam. Bukan sekarang.”

Aku pun menyadari bahwa dalam gambaran itu Rangga memberitahuku soal pesta itu dalam perjalanan  saat dia mengantarku menuju klub.

“Ngga, kalau aku menang kamu mau kasih hadiah apa?”

“Kamu mau apa?”

“Kita dinner ya malam ini. Kamu ‘kan sibuk kerja. Sibuk sama teman-teman juga”

“Ya, kamu tahu aku sering capek dan butuh refreshing”

“Jadi sama aku nggak refreshing gitu?”

“Jangan mulai. Aku nggak mau kita berantem. Trus kalau kamu kalah kamu nyalahin aku karena udah bikin kamu galau”

“Ih, Rangga kamu jahat amat! Terus gimana nih?”

“Apa?”

“Ya dinner, dong, Sayang....”

“Ini aku baru mau bilang kalau Farid dan yang lain mau ngajakin party”

“Terus dinner-nya di sana?”

“Dinner di tempat bilyar?”

“Asalkan ada kamu, nggak masalah di mana aja. Asal jangan di kuburan.”

“Aku pikir kali ini kamu nggak usah ikut. Habis tanding pasti capek”

“Nggak kok. Atlet mana pernah capek. Hayooo..”.

“Kamu yakin?”

“Why not?”

“Karena kamu nggak suka Farid”

“Ya jelas dong. Aku sukanya sama kamu”

“Aku nggak bercanda, Mar.”

“Aku juga nggak bercanda mau ikut. Eh, tapi kamu bakal datang ‘kan? Nanti?”

“Aku usahain. Soalnya ada rapat jam sepuluh nanti. Aku takut janji soalnya kalau nggak bisa kamu ngambek”

“Ih, kamu omongannya pahit terus! Kalau kamu pahit terus nanti aku pacaran sama Takki”

“Terserah kamu.”

Aku tertegun. Tak ada lagi kata-kata dari Rangga. Hatiku mendongkol akan sikapnya yang dingin seolah dia tidak peduli padaku. Begitu turun dari mobil, aku menyatakan kekesalanku. “Aku tahu kamu sibuk. Tapi aku nggak pantas diperlakukan kayak gini. Kalau kamu nggak datang, nanti siang aku bakal keluar dari apartemen.” Lalu membanting pintu mobil.

Mungkin karena ancaman itulah akhirnya Rangga datang. Aku bisa merasakan ketidakiklasannya saat 
berfoto. Dia sibuk mengangkat telepon dan mengambil jarak saat ketiga sahabatku membuatku sibuk.

***
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments