๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Bagaimana mungkin aku terbangun dengan gaun pesta di mana sesungguhnya aku tidak pergi ke pesta? Untuk apa aku memakainya sebelum tidur kalau benar hari yang kuingat sebagai mimpi itu memang hanyalah mimpi? Apa aku melindur? Apa aku dirasuki sesuatu semalam?
Lagipula kalau sebenarnya itu bukan mimpi kenapa hari ini masih berada di tanggal 14 Juli; hari pertandinganku? Dan kalau benar aku memang ke pesta... berarti Rangga bisa menjelaskan padaku. Tapi, Rangga tidak ada. Ke mana dia?
Aku pun keluar dari kamarku hanya untuk membuktikan bahwa firasatku salah walaupun aku belum dapat menyimpulkan apa pun dari kebingungan itu. Aku harus memastikan di mana Rangga saat ini.
Apakah dia memang pulang ke rumahnya seperti yang kuduga atau... seperti yang ada di dalam mimpi di mana Rangga tidur di sofa karena pulang kemalaman dari kantor?
Aku benci dengan apa yang kulihat di ruang tengah saat ini.
Masih dengan setelan kantor, Rangga tampak pulas tidur di atas sofa. Sungguh, pemandangan itu sama persis dengan apa yang kulihat di dalam mimpi.
Lututku tiba-tiba lemas. Aku memandangi Rangga yang tidur dengan posisi terlentang berselimut jas kerjanya. Kepalanya ditopang oleh sandaran sofa sedangkan kakinya berada di sisi sandaran sofa yang satunya lagi dalam keadaan terlipat.
Bantal-bantal sofa berserakan di lantai. Handphone-nya berada di atas meja bersama kunci mobil.
Semua yang kulihat sangat persis dengan mimpi itu.
Apa... aku akan mengalami semua yang pernah kulihat sebelumnya?
***
Jika benar mimpi itu akan jadi kenyataan, berarti aku akan memenangkan pertandingannya. Aku akan ke pesta itu lalu Rangga akan memutuskan hubungan denganku dan... aku akan... akan mengalami kecelakaan. Aku tidak tahu setelah itu aku akan hidup atau... mati?
Tapi, bagaimana aku masih bisa menganggapnya mimpi sementara aku tidak ingat kapan aku... mengenakan gaun ini?
Perhatianku tiba-tiba teralihkan pada jam weker di atas meja nakas kamarku. Sudah jam lima setelah aku lama termenung mengingat rangkaian kejadian itu dan mulai ketakutan akan hari ini.
Rasanya aku tidak ingin bertanding karena aku tahu aku pasti menang. Rasanya aku ingin pergi ke pesta yang disiapkan teman-temanku ketimbang ikut Rangga karena dengan demikian aku tidak akan melihat Rangga dengan gadis lain. Dengan demikian Rangga tidak akan minta putus. Dengan demikian, aku tidak akan pergi dari pesta itu sambil menangis. Dan dengan demikian... mobil itu tidak akan menabrakku.
Tapi, apakah aku tidak akan terbangun di pagi yang sama lagi dan mengulang hari yang sama di tanggal 14 Juli?
Bunyi pendek yang berasal dari pesan grup What’s App terdengar satu kali. Benda itu kutinggalkan di atas tempat tidur. Aku hanya memandanginya saat bunyi itu terdengar dua kali, tiga kali, empat kali dan semakin lama tidak berhenti. Artinya ada percakapan yang saling bersahautan di grup.
Setahuku, mereka sangat jarang bercuap-cuap di grup jam segini. Aku membayangkan Lando yang hobi tidur dan Takki yang selalu begadang menonton film horor seperti kelelawar hingga aku menyadari bahwa hal ini tidak ada di dalam mimpi itu.
Aku segera meraih handphone-ku. Barisan kalimat yang muncul satu per satu terus bersahutan; sekali lagi, aku belum pernah melihat ini. Aku menggulir percakapan itu ke atas untuk melihat siapa yang pertama kali membuka percakapan di grup.
Acha : Bangun woi!
Acha : Woi Bangun!
Lando : Yang harus bangun pagi itu Mara!
Acha : Akhirnya kebo nongol
Acha : Gue udah bangunin Mara. Kayaknya udah otewe ke klub deh.
Lando : Duh baiknya anak Mama
Lando : Palingan dibangunin sama ayamnya Mas Boy.
Lando : Eits tapi kalau Maria udah otewe dia pasti bakal manggil gue kebo duluan dong
Lando : Bikin Mas Rangga sensi karena keasyikan chating! Hahahaha
Acha : Maria nggak naik Mercedez sekarang
Lando : Naik apaan dong?
Lando : Ojek?
Acha : Nggak ada ojek, bechek, bechek, Land. Hahahha
Lando : Rangga kok gitu? Cinta disuruh naik ojek?
Acha : Dibaca sama Mara, disumpahin nggak dapet kebo lo. Hahaha
Acha : Eits, sorry. Cewe maksud gue, Bo
Acha : Cewe kebo. hahahah
Lando : Dasar Acha Acha sumpit mie ayamnya Mas Parno lo.
Lando : Masih mending gue kebo daripada lo lurus gak ada seninya
Acha : Gue cungkring masih seksi tauk!
Acha : Daripada elu
Acha : Anunya harus dijepit pake pinset biar nongol!
Lando : Ye, si anjrit, gue sumpahin lo kawin ama gue. Hahahaha
Lando : Biar tiap malam lo yang megangin tuh pinset
Acha : Ogah
Takki : Bicik!
Lando : Pagi, Mas Boy....
Takki : Gue lagi berak! Kalian bicik!
Acha : Ih, jorok!
Acha : Ngebuang aja pake mantengin hape
Lando : Eh, Maria Mercedes mana? Kujum dia!
Takki : Kebanyakan mikirin Rangga dia mah
Acha : Ih, Mas Boy cemburu ama Om Rangga
Lando : Om Rangga ganteng sih
Lando : Gantengan dari Nicholas Saputra
Lando : Mas Boy mah cantik
Lando : Tinggal dipakein lipstik ama rok
Takki : Kenapa gak pake beha aja sekalian
Acha : Iye bener, biar gue pinjamin dress pink gue juga.
Acha : Mau, Ki? Hahaha
Takki : Males ah.
Takki : Ntar Mas Rangga naksir gue lagi
Lando : Nggak bakal!
Lando : Maria Mercedez kan mirip Taylor Swift. Takki mah lewat!
Acha : Taylor Swift? Hahahah
Lando : Tinggal dipirangin doang rambutnya
Lando : Bibir udah merah. Seksi. Kaki panjang kalau nendang mah bisa bikin orang mental 100 meter.
Acha : Gue no comment dah.
Acha : Di scroll ke atas sama Mara, mampus lo!
Acha : Bisa ditendang Mara, mental 100 meter lo, Land! Hahahah
Acha : Mara lagi badmood
Takki : PMS?
Lando : Elo tuh PMS, Mas Boy
Takki : Emang kenapa gue PMS?
Takki : Lo mau lihat pembalut bekas gue?
Acha : Idih...
Lando : Ogah. Bisa dapat virus gue
Acha : Mara beneran badmood kayaknya
Acha : gue serius nih, jangan ngebahas pembalut, oke?
Jari-jariku masih membeku dan mataku mengamati percakapan itu sebelum aku menutupnya dan
memandangi sekitarku.
Apa yang telah terjadi?
***
Komentar
0 comments