[Hal.3] BEFORE I DIE - Baca Cerbung Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Waking Up in 14th of July

‘Ayam’ itu menjerit seperti sedang disembelih lehernya. Keras dan terdengar kesakitan. Aku tidak percaya bahwa itu adalah suara jam weker yang membangunkanku pada jam empat dini hari. Aku meraih kepala ayam berwarna kuning itu tepat pada jengger merahnya yang bisa ditekan untuk menghentikan jeritannya yang mengerikan. Suara itu mirip mainan anak-anak yang bentuknya seperti ayam kuning tanpa bulu dan dia akan berbunyi keras saat perutnya diremas. Aku memang kesal dengan suaranya tapi si Jenggo selalu bisa membangunkanku khususnya pada hari-hari penting di mana aku harus bangun pagi. Untuk itulah Takki memberikannya sebagai kado ulang tahunku bulan lalu.

Si Jenggo menunjukan pukul empat subuh. Biasanya aku tidak bangun sepagi ini; kecuali ada sesuatu yang membuatku harus melakukannya seperti pertandingan yang sangat penting. Sebelum tidur aku menyetel si Jenggo agar menjerit tepat jam empat karena aku sudah harus berkumpul di klub bersama atlet yang lain dan berangkat ke gelanggang bersama.  

Aku juga tidak pernah menyetel alarm si Jenggo kalau aku tidak perlu harus bangun lebih awal. Biasanya aku selalu bangun jam lima untuk latihan sampai jam delapan. Dan itu rutin; tanpa bantuan si Jenggo.

Hal pertama yang membuatku bingung akan pagi ini adalah kenapa tiba-tiba aku sudah berada di tempat tidurku setelah pertandingan yang aku menangkan dan pesta malam harinya di mana Rangga mencampakanku. Aku mengingat dengan jelas bahwa pesta itu berlangsung sampai lewat tengah malam dan mustahil bagiku untuk bisa bangun sepagi ini lebih-lebih siangnya aku baru saja bertanding.

Sungguh, kecelakaan mobil itu terlalu nyata untuk ukuran sebuah mimpi; mimpi buruk pula. Atau mungkin karena mimpi itu terlalu buruk sehingga aku terjaga? Dan kenapa si Jenggo menjerit kalau pertandingan itu sudah terjadi kemarin? Aku tidak ingat sudah menyetelnya semalam yang mana rasanya itu sudah kulakukan di malam kemarinnya lagi. Itupun kalau pertandingannya juga bagian dari mimpi yang sekarang membuatku tertegun di sisi tempat tidur.

Medali itu, aku menggenggamnya dengan tanganku. Lando mengambil foto-fotoku dengan medali itu, dengan Rangga juga. Mereka sudah menyiapkan pesta untukku tapi aku? Aku malah pergi dengan Rangga. Mereka marah tapi aku tetap ikut dengan pacarku ke pesta. Lalu... aku... aku tertabrak oleh sebuah mobil yang melaju kencang saat aku mendorong seorang preman yang mencoba menggangguku. Hal terakhir yang aku ingat adalah cahaya lampu mobil yang silau lalu gelap.

Biasanya mimpi tidak sejelas ataupun serapi itu. Mimpi lebih sering merupakan skenario kacau dari apa yang kita takuti atau inginkan tanpa kejadian jelas yang bisa dimengerti ataupun dialog yang teratur. Mimpi adalah alam bagi ketidakmungkinan di dunia nyata.

Atau barangkali... mimpi itu adalah refleksi dari apa yang akan terjadi hari ini? Aku tidak benar-benar tahu itu.

Handphoneku terdengar berbunyi. Getaran smartphone-ku segera terdeteksi dibawah bantal. Aku selalu menaruhnya di sana sebagai kebiasaan yang sulit dihilangkan menjelang tidur. Biasanya aku dan teman-temanku akan mengobrol semalam suntuk di grup What’s App yang dibuat Acha supaya di mana pun dan kapan pun kami bisa berkumpul. Dan Takki menjadi satu-satunya yang paling jago begadang.

Nama Acha muncul di layar. Aku tidak langsung mengangkatnya karena aku ingat dalam mimpi itu rasanya Acha juga menelponku jam empat untuk membangunkanku.

“Bangun, Maria Mercedez. Ini udah jam empat!” serunya dari seberang sana. (Maria Mercedez adalah julukan mereka untukku karena sering memanggilku ‘Mar’ dan mereka menyambungnya agar terkesan lucu. Dan menurut mereka kisah cintaku mirip telenovela yang dibintangi Thalia itu karena berpacaran dengan seorang lelaki kaya raya)

Aku terdiam. Di dalam mimpi, Acha juga membangunkanku dengan kalimat itu dan setelah itu dia mengatakan....

“Mana sih yang katanya hari ini ada tanding? Masih tidur ya?” Acha menyuarakan isi pikiranku.
Tak ada suara yang keluar dariku karena aku masih mencoba untuk memahami kesamaan itu.

“Hallo? Mariaaaaa?” suara Acha kembali memanggilku.

“Iya, gue udah bangun...,” balasku mencoba untuk tenang.

Mungkin aku sedang mengalami salah satu keajaiban yang langka di dunia yaitu mimpi yang menjadi kenyataan dengan amat persis.

“Nah gitu dong, Non. By the way, lo diantar sama Rangga atau naik bus sih?” tanya dia; seingatku masih persis seperti yang kualami dalam mimpi.

Mungkin juga persepsiku selama ini tentang mimpi salah. Mimpi bisa jadi pertanda sesuatu yang akan terjadi. Bisa saja.

Aku baru sadar kalau ternyata aku tidur sendirian.

“Hm... Rangga kayaknya pulang ke rumah...,” jawabku ragu-ragu; yang mana seingatku di dalam mimpi Rangga yang pulang larut malam dari kantor, memilih tidur di sofa daripada membangunkanku. Kemudian, aku memintanya mengantarku ke klub. Setelah itu dia pulang untuk tidur sebentar sebelum  berangkat ke kantor. Dan dalam jam kantor dia menyempatkan diri untuk hadir di pertandingan.

“Lo berantem sama Rangga?” tanya Acha; ini berbeda dari yang kurasakan dalam mimpi.

“Nggak sih...,” jawabku bingung sembari memikirkan jawaban yang pas. Rangga bisa dibilang jarang pulang ke rumahnya karena komitmen kami.
Rangga adalah pekerja kantoran yang sibuk dengan posisi yang penting. Di hari biasa dalam seminggu aku hampir tidak pernah bertemu dengannya jadi karena itulah dia menyewa apartemen agar kami bisa tinggal bersama. Lagian sebelumnya aku tinggal dengan Takki; yang tahu sendirilah... tomboy dan penyuka sesama jenis. Rangga khawatir kalau aku ‘ketularan’ Takki.

“Terus kenapa dia nggak pulang? Keasyikan pesta sama temannya?” tanya Acha lagi; kali ini sinis.

“Gue... nggak tahu...,” jawabku semakin bingung; mimpi itu sedikitnya mempengaruhiku karena kata-kata yang diucapkan Rangga benar-benar adalah kenyataan yang tidak kusadari selama ini: teman-temanku yang sinis terhadap Rangga dan Rangga yang kurang suka dengan teman-temanku (terlebih Takki).

“Ya udah deh. Mandi gih! Siap-siap! Lo harus naik bus ke klub ‘kan?” kata Acha sebelum menutup teleponnya.

Aku kembali memandangi tempat tidur yang menunjukan ketiadaan Rangga di saat aku ingin langsung menceritakan mimpi itu padanya. Pertanyaan pertama yang ingin aku lontarkan padanya adalah apa dia akan mencampakanku seperti di dalam mimpi itu?

Entahlah. Pikiranku menjadi kalut. Rasanya seperti mengalami jet lag yang parah saat baru turun dari pesawat.

Aku bangkit dari tempat tidur dan bersiap untuk masuk ke kamar mandi. Tapi, langkahku terhenti di depan cermin panjang yang terpasang di dinding tepat di samping pintu kamar mandi. Aku baru menyadari bahwa aku... mengenakan gaun merah yang sama yang kupakai saat pergi ke pesta teman-teman Rangga!

Ini pasti mimpi!
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments