[Hal.11] BEFORE I DIE - Baca Cerbung Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
14 Juli, pukul sebelas malam. Aku kembali berkendara bersama Rangga dengan mobil SUV seharga 500 juta miliknya menuju rumah keluarganya di mana kedua orang tuanya menunggu. Malam ini terasa panjang bagiku.
“Aku pikir kamu nggak serius soal pergi dari apartemen...,” katanya, kurasakan kebingungan pada nada suaranya saat ia sedang menyetir.
“Sekarang kamu udah tau aku serius ‘kan?”
“Apa yang mau kamu buktikan, Mara?” tanya dia, lagi. “Apa kamu pikir semuanya mudah setelah berpisah?”
“Kita nggak pernah tahu karena belum pernah ngejalaninnya. Tapi, kenapa harus tetap sama-sama kalau hubungan kita mulai terasa mengusik kehidupan satu sama lain. Bukannya itu yang ingin kamu bilang?” balasku.
Rangga kembali terlihat kesal. Aku telah mencuri isi pikirannya sejak tadi pagi dan mungkin dia masih geram kenapa aku terus melemparnya dengan kata-kata yang seharusnya menjadi miliknya. Ya, mungkin justru karena mendengarnya dariku lah dia menyadari bahwa betapa menyakitkan kata-katanya sendiri untukku.
“Aku sudah pasrah dengan semua ini...,” kataku.
“Oh ya? Aku pikir kamu akan bertahan.”
“Apa gunanya bertahan kalau aku tahu apa yang akan kamu lakukan?”
“Aku nggak ngerti kenapa kamu terus-terusan menuduh aku begitu!” emosi Rangga kembali terpancing. “Jam delapan aku pulang ke apartemen, tapi kamu belum kembali. Kamu lihat ‘kan aku nggak pergi ke pestanya Farid?!”
“Kamu selalu emosi,” kataku pelan.
“Aku ketularan kamu,” balas dia sinis.
“Sorry...,” ucapku dan mulai memperhatikan sekitarku; terutama cahaya lampu mobil yang berpapasan dengan kami di sepanjang jalan. Aku mengamatinya satu persatu karena penasaran cahaya mana yang akan mengirimku pada kematian sampai aku benar-benar mengabaikan Rangga hingga kami tiba di rumahnya.
***
Aku mungkin merasa tidak nyaman karena datang malam-malam sekali dan setahuku itu bukan waktu yang pas untuk berkunjug; mengenalkan pacar pula. Tapi entah mengapa ayah dan ibunya masih menyambutku dengan ramah. Saat Rangga berkata bahwa mungkin hubungan kami tidak akan disetujui mereka, aku mulai berasumsi barangkali orang tua rangga adalah orang yang perfeksionis dan angkuh. Akan sulit bagi kami untuk bersatu. Begitu mengetahui gadis sepertiku berpacaran dengan putra mereka yang gagah dengan masa depan cerah, mereka akan langsung mengusirku seperti mengusir seorang pelayan.
Tapi, semua itu terbantahkan. Walaupun kuperhatikan Mamanya Rangga seperti ibu-ibu sosialita yang ada di sinetron dan Papanya berwibawa layaknya seorang eksekutif, mereka sama sekali tidak menunjukan bahwa mereka dibesarkan dengan kesombongan. Bahkan ada acara makan malam segala. Mereka juga rela menunggu sampai kami datang.
Pantas saja, Rangga mencoba menelponku mati-matian.
Aku sempat salah tingkah karena pakaianku yang terlalu pendek yang hanya ditutupi oleh jaket denim juga sepatu kets-ku yang sama sekali tidak matching.  Saat menuju meja makan tadi aku berusaha menarik-narik bagian bahwahnya agar menutupi kakiku lebih dalam. Tapi, Rangga yang melihatnya berisyarat bahwa menarik bagian bawah sama dengan memperlihatkan bagian atas. Jadi aku berhenti melakukannya. Untung taplak mejanya cukup panjang dan bisa menyembunyikan bagian pinggang ke bawah.
“Maaf, Ma, Pa, kami telat soalnya tadi siang Mara ada pertandingan,” jelas Rangga pada kedua orang tuanya dengan sopan.
“Pertandingan apa?” tanya Mamanya kedengaran antusias.
“Mara seorang atlet lari,” jawab Rangga. Dia tampak tidak memberikanku kesempatan untuk bicara. Mungkin dia takut aku akan menjawab sembarangan. Kupikir dia mencoba mengendalikan keadaan agar tidak terjadi kesalahan, yang membuat makan malam ini menjadi tidak menyenangkan. Karena dengan begitu, kami benar-benar akan gagal untuk mengambil hati mereka.
“Atlet?” Papanya rangga kelihatan kaget; tapi ada rasa senang pada nada suaranya. Dia fokus menatapku seperti punya pertanyaan yang lain. “Wah, sejak umur berapa kamu jadi atlet?”
“Sejak... umur 17, Om,” jawabku ragu-ragu sambil melirik Rangga yang tampak tegang.
“Berarti kamu punya pola hidup sehat, dong,” Mamanya menimpali dengan penuh perhatian. Sebelum melirik putranya. “Bagus ‘kan kamu punya pacar seorang atlet.”
Papanya tertawa. “Iya,” dia mengangguk-angguk seakan meledek Rangga. “Anak om ini sudah terlanjur terkontaminasi sama rokok dan minuman, dan juga kehidupan malam. Dan yang pasti jarang olahraga. Bangunnya aja siang.”
Rangga sedikit merengut sementara aku tertawa. Apa dengan begitu mereka merasa kalau kami cocok? Entah.
Tapi, satu hal yang kusimpulkan dari pertemuan ini adalah ketakutan Rangga tidak terbukti. Orang tuanya menyukaiku karena aku seorang atlet. Mereka sama sekali tidak menyinggung asal usulku selain dari bertanya di mana orang tuaku tinggal. Selebihnya kami hanya membahas soal kejuaraan yang pernah aku ikuti sekaligus menanyakan seputar olahraga ringan yang bisa dilakukan oleh yang tua-tua seperti mereka. Dari sana aku tahu, Papanya Rangga punya kolesterol yang tinggi dan beresiko terkena stroke.
***
Selangkah keluar dari rumah itu, aku merasa lega. Aku kembali menengok jam di layar smartphone-ku saat melewati pekarangan rumah Rangga yang luasnya hampir satu lapangan futsal untuk sekedar berjalan-jalan.
“Kenapa dari tadi kamu sibuk lihat jam?” dia bertanya; ketahuan tengah melirik tindak tandukku.
Aku menggeleng. “Nggak ada,” jawabku. Terbayang pada malam di pesta di mana aku menunggu sampai terkantuk-kantuk karena mati kebosanan. “Aku cuma merasa kalau malam ini panjang....”
“Kamu bosan?” tanya dia.
Aku menggeleng lagi. “Aku nggak pernah tahu kita akhirnya dinner di rumah kamu bareng ortu kamu,” jelasku. “Padahal sebelum bertanding aku minta hadiah itu sama kamu?”
“Kapan?”
Aku tersentak. Kusadari yang ku katakan barusan (percakapan alot di mobil itu), bukanlah kenyataan yang bisa diingat olehnya. Aku hanya tersenyum dan tidak memberikan jawaban yang pasti. Kami tidak pergi ke pestanya Farid dan akhirnya makan malam dadakan di rumah sebesar istana.
“Kamu benar-benar aneh hari ini,” komentarnya.
“Beneran?” aku meliriknya sambil tetap tersenyum dan dia masih memandangku dengan heran.
“Ayo kita pulang,” ajaknya kemudian sambil mengulurkan tangan.
Heran, Rangga akhirnya melakukan sesuatu yang romantis untukku setelah sekian lama dia ibarat membara seperti api setiap berhadapan denganku. Mungkin selama ini caraku lah yang salah.
Aku senang hari ini; yang mana terjadi dua kali di dalam hidupku, aku memberikan kesan bahwa sepenuhnya aku mengerti apa yang dia inginkan dariku. Sebuah hubungan yang dilandasi dengan pengertian karena itu jugalah yang ingin dia berikan untukku.
Sambil berpegangan tangan kami menuju ke mobil yang parkir di bagian depan halaman yang tepat menghadap ke jalanan komplek yang sepi.
“Kenapa tidak nggak parkir di dalam?” tanyaku, baru sadar kami telah berjalan cukup jauh dari rumahnya.
“Jalan ke dalam lagi di renovasi,” jelas dia.”Katanya mau dipasangi  batu alam.”
Sebelum masuk ke mobil, aku kembali merogoh kantong jaketku untuk melihat handphone-ku. Rangga tidak akan mengerti betapa berdebarnya aku saat ini menunggu sesuatu yang entah kuinginkan atau tidak. KECELAKAAN ITU TERJADI LEWAT DARI JAM 12 MALAM.
Jam digital di layar handphone-ku menunjukan pukul dua belas lewat 37 menit.
“Mara?” tegur Rangga yang sudah membuka pintu mobilnya dan memintaku naik.
Aku menghembuskan nafas sambil kembali memasukan benda itu ke saku jaket. Tapi, benda itu malah jatuh ke badan jalan sehingga aku harus mengambilnya.
Dan aku menyaksikan cahaya itu datang. Melesat kencang ke arahku. Dan jelas aku tak bisa menghindarinya. Hal terakhir yang aku lihat adalah Rangga yang tengah menungguku tapi aku hanya bisa menjulurkan tanganku tanpa bisa diraih olehnya.
Ini takdirku.
Tapi, aku bersyukur untuk satu hari yang terjadi dua kali untuk mengetahui apa yang selama ini tidak kuketahui. Akhirnya aku tahu bahwa Takki memang menyukaiku tapi dia tak pernah berani mengungkapkannya karena aku normal. Aku tahu bahwa Mama-ku berusaha untuk berubah setelah aku dewasa. Dan aku tahu bahwa Rangga benar-benar mencintaiku.
Dan aku diberkahi untuk dua kali tanggal 14 Juli yang membuatku bisa melihat tawa dari orang-orang yang kukasihi sebelum aku mati....
Tamat
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments