[Hal.10] BEFORE I DIE - Baca Cerbung Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
“Mau cari mati ya?!!” seruan itu terdengar dari cahaya yang tiba-tiba menyingsing dariku. Itu adalah pengendara mobil sedan yang nyaris menabrakku tadi. Ternyata dia masih sempat menghindar sebelum aku benar-benar menjadi korbannya.
Aku memandang ke sekitarku dengan bingung. Pria yang menggangguku tadi tampak ngeri melihatku masih berdiri di badan jalan karena beberapa orang yang kebetulan juga berada di sana mulai memusatkan perhatian padaku. AKU BELUM MATI.
Tanpa sibuk memikirkan kenapa aku selamat, aku kembali berlari karena jam di handphone-ku sudah menunjukan pukul sembilan malam. Rumahku masih sekitar 15 km lagi. Aku berhenti ketika lelah tapi tidak bisa berlama-lama karena takut kehabisan waktu.
Saat akhirnya aku berhasil menginjakan kakiku di teras rumah, lututku yang sedikit terluka karena sempat terjatuh merasakan puncaknya hingga aku tak sanggup berdiri untuk meraih gagang pintu. Aku terseok saat mencoba berdiri kembali.
Pintunya tidak dikunci. Seperti biasa. Mungkin Mama lupa karena dia sering ketiduran karena kebanyakan minum. Tapi, saat aku memberanikan diri untuk masuk tanpa mengucapkan salam, aku menemukannya di meja makan. Menyiapkan makanan untuk  seorang lelaki asing.
Suara langkah kakiku yang terseok menyadarkan Mama akan kehadiranku.
“Mara?” dia tampak terkejut dengan segera menghampiriku sementara aku terpana.
Ibuku sudah jauh berubah dari terakhir kali aku meninggalkannya. Seingatku Mama bertubuh kurus dengan rambut acak-acakan. Di tubuhnya melekat bau alkohol yang begitu pekat. Dia selalu bicara ngawur dan marah-marah tidak jelas. Karena Mama tidak mau beres-beres, rumah selalu berantakan dan cenderung kumuh. Hal itulah yang membuatku sangat malu terhadapnya sampai-sampai aku rela tidak menerima raport yang seharusnya dijemput wali murid ke sekolah. Aku malu orang-orang melihat bahwa ibuku seorang wanita pemabuk yang sangat depresi karena perceraiannya.
Tapi itu mungkin, empat atau lima tahun yang lalu.
Ibuku yang sekarang jauh lebih berisi dan bersih. Ia mengenakan baju sweater lengan panjang dan rok yang menutupi sebagian kakinya. Yang jelas saat ia menghampiri aku tidak mencium bau alkohol. Rambutnya tertata rapi dengan dikucir ke belakang. Aku terus memandanginya seakan tak percaya bahwa wanita yang melihatku dengan tatapan haru benar-benar adalah ibu yang pernah kutinggalkan.
Mama merentangkan tangannya untuk memelukku.
Aku pernah tahu rasanya dipeluk oleh seorang ibu dan itu seperti... merasa aman di saat dunia tengah mengejar dengan segala deritanya. Dipeluk oleh seorang ibu adalah sesuatu yang sangat kurindukan sampai aku ingin menangis di bahunya.
***
Mama menikah lagi dengan seorang pekerja pabrik dengan dua orang anak perempuan; Kayla dan Shinta yang sudah tertidur di kamar mereka, tidak lama setelah ayahku meninggal dunia karena sakit TBC sekitar tiga tahun yang lalu.
Aku senang; Mama kembali memiliki alasan untuk melanjutkan hidupnya sebagai seorang manusia; sebagai seorang ibu. Mama sudah menganggap Kayla dan Shinta seperti anaknya sendiri karena rindu padaku.
“Mama tahu kamu pasti pulang,” katanya, tak hentinya membelai helaian rambutku saat aku menjatuhkan kepalaku di atas pahanya. “Mama selalu mendoakan kamu, Mara....”
“Ya, mungkin karena doa Mama aku bisa jadi atlet yang hebat,” kataku, mengenang kembali perjalanan karir atletku yang benar-benar dimulai dari nol.
Tiba-tiba saja handphone-ku berbunyi.
Rangga.
Aku sudah mengabaikannya sejak tadi karena sibuk berlari. Aku pikir dengan 36 panggilan tak terjawab sudah menegaskan bahwa dia benar-benar ngotot. Jika aku mengangkat teleponnya, apa yang harus aku katakan?
“Halo?” sapaku dengan hati-hati.
“Demi Tuhan, Mara! Kamu ada di mana?!” dia segera menodongku dengan pertanyaan.
“Ada apa?” tanyaku, mencoba untuk tetap tenang.
“Ada apa? Setelah aku mencari kamu ke mana-mana seperti orang gila kamu malah nanya ada apa?” semburnya.
Aku diam. Cara bicaranya padaku masih tidak berubah sampai rasanya aku ingin segera menutup telpon. Aku masih lelah dan ingin istirahat sebentar. Aku tidak berencana ke mana-mana lagi malam ini. Barangkali itu bisa menghindarkanku dari kejadian buruk; kecelakaan itu.
“Aku nyariin teman kamu satu per satu untuk tahu kamu ada di mana!” Rangga kedengaran geram. “Mereka bilang tadi kalian sempat karaokean sampai tiba-tiba kamu pergi tanpa bilang apa-apa!”
“Aku nggak minta kamu nyariin aku. Dan biasanya juga kamu nggak pernah nyariin aku...,” kataku, membela diri.
“Bukan itu masalahnya! Sekarang bilang kamu ada di mana. Aku bakal jemput kamu ke sana,” kata dia dengan nada yang lebih lunak.
“Nggak udah, Ngga. Aku sudah di rumah,” kataku.
“Rumah?”
“Ya, rumah Mamaku.”
“Apa?”
“Ya aku pulang, Rangga....”
“Tunggu, kenapa tiba-tiba....”
“Aku hanya ingin pulang karena aku harus pulang....”
Untuk sesaat tidak ada jawaban dari seberang sehingga aku harus menunggu.
“Sekarang katakan alamat rumah Mama kamu di mana. Aku kesana malam ini juga. Ada hal penting yang harus aku katakan...” kata dia.
Aku melirik jam di dinding. Jam sepuluh malam.
“Aku baru sampai dan capek, Ngga. Kalau ada sesuatu yang penting bilang aja sekarang,” kataku.
“Oke,” balasnya dengan cepat. “Aku sudah ngomong ke orang tuaku soal kamu dan mereka minta ketemu sekarang.”
***
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments