๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Dua orang gadis tampak sibuk di depan mesin fotokopi saat Talisa masuk untuk menggandakan selembar surat. Mereka saling bertanya dan kedengarannya tidak mengerti dengan cara menggunakan mesin itu. Dari setelan mereka–rok hitam dan kemeja putih-sepertinya mereka anak magang. Pasti belum mengerti apa-apa.
Salah seorang dari mereka membawa setumpuk map berisi kertas yang tampaknya harus di fotokopi.
“Ada masalah?” Talisa bertanya sambil menghampiri mereka.
Keduanya menoleh dan terkejut. “Bu Lisa?” gadis berambut panjang dan tampak penakut itu terlihat khawatir. Sepertinya ia belum terbiasa.
“Kami mau fotokopi berkas.Tapi, sepertinya mesinnya rusak,” kata seorang gadis berambut pendek yang kelihatannya lebih berani.
Talisa mengamati mesin itu sejenak sebelum mengutak-atik beberapa tombol dan memperhatikan tray penampung kertas hasil fotokopi. Ternyata memang tidak ada kertas yang keluar walau ia sudah menaruh selembar surat di atas scanner-nya. Roller di dalam mesin terdengar berputar tapi tidak meneruskan kertas hasil fotokopi keluar dari sana.
Mereka benar. Ada yang salah dengan mesin fotokopinya.
Lalu Talisa mulai berpikir. Teringat bahwa masalah paling umum pada mesin fotokopi adalah komponen yang rusak atau konslet. Biasanya mesin harus dikirim ke Service Centre untuk diperbaiki. Tapi, menurut Talisa yang sudah lama berurusan dengan mesin fotokopi ini adalah karena kelalaian pengguna sebelumnya. Mesinnya masih bisa menyala. Hanya lampu tanda eror yang terus berkedip-kedip.
Talisa menaruh suratnya di meja sebelum ia menarik sebuah tray besar paling bawah untuk memeriksanya. Lalu menutupnya lagi setelah memastikan bahwa tidak ada masalah di sana. Ia beralih ke bagian belakang untuk membuka penutup mesin. Dengan cepat Talisa meraih sesuatu dari dalam sana dan menemukan sumber masalahnya –kertas yang tersangkut pada roller.
“Hal-hal seperti ini pasti selalu diabaikan,” gumam Talisa.
Kedua gadis itu tersenyum senang saat melihat Talisa berhasil membuat mesin itu bekerja lagi. Walaupun tangannya harus terkena serbuk hitam yang menempel pada kertas yang baru ia cabut dari roller. Ia tampak santai membuang benda itu ke tempat sampah. Lalu ia pun langsung membuat salinan dari surat miliknya.
“Kalian anak magang?” tanya Talisa pada mereka.
Salah seorangg menggeleng dengan ragu sedangkan yang satu lagi menjawab dengan tenang, “Kami anak baru.”
Talisa tersenyum. “Sebaiknya kalian fotokopi di luar saja. Itu banyak sekali,” ujar dia. “Kalian bisa minta tolong office boy. Nanti biayanya reimburse ke bagian administrasi.”
“Iya, terima kasih, Bu Lisa,” ucap gadis kurus berambut panjang.
Kemudian Talisa pergi setelah mengambil Salinan suratnya. Melihat gadis itu, ia teringat pada saat pertama kali ia masuk ke sini. Sama seperti anak baru itu, ia pun juga pernah menjalani proses penyesuaian yang sulit di tempat kerja. Mengenakan rok hitam dan kemeja putih serta sepatu tumit yang membuat pegal karena harus dipakai seharian dan disuruh memfotokopi berkas yang banyak. Semua itu, Talisa telah mengalaminya dan ia bertahan sampai detik ini.
Tiba-tiba Talisa kembali ke ruang fotokopi. Seingatnya ia belum mengambil surat yang asli karena masih berada di dalam scanner. Tapi, kedua gadis itu kedengarannya malah bergosip.
“Bu Talisa itu baik ya,” kata gadis berambut panjang kepada temannya. “Ramah dan kalau ketemu selalu menyapa atau senyum. Kepala bagian saja nggak sampai segitunya juga ...”
“Iya, dia baik dan cantik. Aku juga nggak menyangka dia bisa memperbaiki mesin fotokopi,” balas temannya. “Tapi, kenapa ya dia belum menikah? Padahal banyak yang suka dan punya pacar juga.”
Komentar
0 comments