๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Talisa menaruh smartphone-nya lagi lalu menghela nafas lalu memandang ke layar komputer; ada banyak laporan bulanan yang harus ia periksa. Menjadi seorang manajer di usia muda adalah sebuah prestasi yang membanggakan, tapi tidak bagi Talisa. Ia merasa telah banyak membuang waktu untuk mengurusi kepentingan orang lain lebih dari dirinya sendiri. Semua itu ia lakukan hanya untuk ‘melupakan’ dan menutupi kekurangan di dalam dirinya.
Dulu Talisa bisa dengan mudah mengabaikan gangguan karena menganggap bahwa pekerjaan adalah hidupnya. Talisa membutuhkannya melebihi seorang kekasih. Mungkin karena ia sudah punya firasat jika ia memiliki kekasih lagi ia akan menjadi sangat lalai dan pada dasarnya ia merasa bahwa tidak akan ada yang mau mencintainya dengan tulus.
Bila setahun lalu saat bertemu Arun, Talisa bisa membayangkan masa depan yang jauh berbeda dari apa yang ia cita-citakan sebelumnya –menjadi wanita karir yang sukses, dengan catatan tak akan pernah menikah karena tak bisa jatuh cinta lagi. Dengan Arun, setiap ketidakmungkinan menjadi mungkin. Namun sekarang semuanya telah berubah menjadi MUSTAHIL. Talisa merasa bahwa Arun sudah tidak mencintainya lagi dan tak cukup tegas untuk mengakhiri hubungan mereka.
Talisa kembali bingung. Kepalanya terasa sakit. Ini selalu terjadi setiap kurang tidur oleh sebab terlalu banyak berpikir. Talisa tahu matanya juga bengkak dan polesan eyeliner hitam tidak dapat menyamarkannya. Terlebih ketika mendadak ia sedih hanya karena memikirkan masalah, air mata dengan mudah menghancurkan dandanannya.
Tapi, terlihat punya masalah di depan orang-orang yang tidak menyukainya akan membuatnya kalah tanpa perlawanan bahkan saat ia tidak sedang berperang. Selama ini ia hanya berkeluh kesah dengan sahabatnya Aida –Ayi dan menghindari curhat di media sosial. Bahkan di jaman yang makin canggih ini saja, Talisa malah menjauhi Facebook dan sejenisnya. Dia tidak membutuhkan pengakuan di dunia maya dari orang-orang akan hebatnya sosok seorang perempuan cantik yang foto selfie-nya disukai dan dibubuhi komentar hingga ratusan kali. Lagipula seluruh kehidupannya berada di dunia nyata dan kisah cintanya tidak seindah status-status Facebook orang yang sedang kasmaran.
Melihat kebahagiaan orang-orang di akun media sosial, hanya membuat dirinya iri kepada ‘kehidupan palsu’ orang lain. Apa yang pantas dibanggakan dari kehidupan yang tampak bahagia namun menyembunyikan retak? Tidak ada. Talisa merasa ia harus menghadapi kenyataan –kenyataan pahit tentang cintanya yang selalu gagal.
Komentar
0 comments