[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch. 1 (3/4)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Dengan sangat terpaksa Talisa pergi dengan Ayi dan Kinan, adiknya menemui si orang pintar. Setelah Kinan sedikit bercerita tentang pengalaman ‘diguna-guna’ yang ia alami, ia mengatakan bahwa mantan pacarnya menaruh ‘sesuatu’ dalam minuman pemberiannya sehingga ia tidak bisa berhenti memikirkan orang itu. Dalam kepercayaan mistis orang Minang, mereka menyebut ilmu guna-guna kelas tinggi dengan nama Sijundai. Mereka yang kena dengan Sijundai biasanya jadi gila dan hanya menimpa kaum perempuan. Untung saja, apa yang dialami Kinan tidak separah itu.

Tapi, kali ini, mereka tidak pergi ke orang pintar yang dimaksud. Tapi, ke tukang ramal yang menurut Talisa cara meramalnya tidak masuk akal yaitu menggunakan media kopi. Bagi orang-orang yang percaya, kegiatan ‘mengopi’ ini dipercaya dapat mengatasi masalah seputar jodoh atau mencari benda berharga yang hilang.
Jadi mereka menemui wanita berusia sekitar tiga puluh tahunan yang konon katanya diberi penglihatan super dan ramalannya banyak terjadi –Ibu Camay namanya. Sebelum memulai ritual mengopi, wanita itu mengajak mengobrol.
Penampilannya seperti emak-emak biasa, mengenakan daster lusuh dan kucir rambut seperti baru selesai memasak di dapur. Talisa mulai tidak yakin atau barangkali memang tidak percaya hal-hal semacam ini. Karena percaya kepada sesuatu selain Tuhan adalah dosa besar. Talisa sudah bertekad apapun yang akan ia dengar darinya tidak akan ia percaya.
Wanita itu menatap seakan menyadari bahwa tatapan Talisa padanya adalah penghinaan terhadap profesi sampingannya. Dia sudah menyiapkan peralatan meramal di atas meja.
Pertama-tama dia memasukan bubuk kopi ke dalam sebuah cangkir putih lalu menyeduhnya dengan air mendidih. Lalu dia memberikannya pada Talisa.
“Ayo diaduk. Pelan-pelan saja, searah jarum jam,” katanya.
Talisa sedikit ragu-ragu menerimanya. Apa dia akan menyuruh Talisa meminumnya? Kenapa tidak pakai gula, susu atau campuran apapun?
Setelah mengental, wanita itu mengambilnya dan menyodorkannya pada Talisa yang masih kebingungan.
“Diminum dulu. Tapi nggak perlu dihabiskan,”
Talisa sama sekali tidak suka kopi. Tapi, terpaksa meminumnya juga karena Ayi di sebelahnya mulai menyikut. Rasanya sangat pahit sampai Talisa menjulurkan lidah saking panasnya. Setelah diminum, wanita peramal menambahkan sesendok lagi. Lalu meminta Talisa mengaduknya kembali. “Aduk tiga kali searah jarum jam.”
Apa-apaan ini? Talisa melirik Ayi gusar karena masih merasa bahwa ini bukan ide yang bagus. Tapi, Talisa tetap saja mematuhi si peramal karena merasa tidak enak sudah terlanjur datang ke sini. Lalu dia kembali menyodorkan kopi itu untuk diminum. Lalu Talisa minum seteguk.
Wanita peramal menuangkan cairan kopi ke tatakan sambil memutar cangkir sekitar tiga kali searah jam lagi dan menyisakan ampasnya. Setelah itu dia menaruh cangkir di atas tatakan dan kupingnya menghadap ke arah Talisa. Ya, dia memperlihatkan endapan kopi yang tersisa di dalam cangkir. Lalu mulai membacanya.
“Sepertinya kamu bukan orang yang terbuka,” wanita si peramal berkata. “Sebenarnya jodoh bukan masalah yang perlu diseriusi, tapi karena banyak pikiran kamu jadi gelisah sendiri. Tapi, kamu harus hati-hati, ada sesuatu yang mengintai kamu diam-diam ....”
“Apa?” Talisa bertanya.
“Hanya kamu sendiri yang tahu.”
Meramal macam apa ini?
“Kamu punya masalah yang belum terselesaikan?”
“Banyak!” jawab Talisa sambil tertawa melirik Ayi yang cemberut. Sepertinya dia marah karena Talisa tertawa. “Ya, siapa yang nggak punya masalah?”
“Masalah yang kamu alami bukan masalah biasa,” wanita itu menegaskan dengan menatap Talisa tajam.
Bulu kuduk Talisa merinding. Apa-apaan dia? Talisa mulai siaga. Jangan-jangan dia memang bisa membaca nasib atau bahkan masa lalu seseorang.
“Aura kamu sedang tidak baik,” dia melanjutkan. “Kamu diikuti oleh sesuatu yang membuat aura kamu menjadi hitam.”
“Maksudnya? Siapa?”
Wanita itu mengangkat bahunya. “Dalam waktu dekat kamu akan pergi jauh,” katanya lagi.
Yah, Talisa memang berencana pergi sementara waktu untuk menjauh dari Arun dan memancing reaksinya karena Arun mulai tidak peduli padanya. Tapi, Talisa belum tahu mau ke mana. Lagipula pekerjaannya masih banyak. Talisa belum berani minta cuti pada bosnya.
Ada-ada saja wanita ini.
“Berhati-hatilah,” itu kata-kata terakhir peramal.
“Begini, Bu Camay ...” tiba-tiba Ayi menyela. “Talisa ini dulunya suka sekali gonta ganti pacar, menurut Bu Camay apa dia nggak jadi korban dari salah satu mantan pacarnya yang sakit hati?”
“Bisa berikan saya nama?” tanya Bu Camay itu.
Duh, Ayi mulai lagi!
“Ah, itu nggak ada hubungannya,” Talisa berkata.
“Pacar pertama Talisa namanya Chakka,” kata Ayi, mengabaikan Talisa yang hendak menghentikannya membuka rahasia.
“Ayi, Chakka bukan pacarku,” bantah Talisa, ikut menyela. “Kami nggak pernah pacaran!”
“Chakka?” Bu Camay mengernyit lalu melihat cangkir kopi lagi. “Orang yang sempurna ... dengan intuisi yang kuat dan pendiriannya tidak tergoyahkan oleh apa pun. Tapi, sepertinya dia juga berbahaya.
Talisa terdiam; melongo; tidak percaya pada apa yang dikatakan ibu itu barusan. Lalu ia bingung sendiri. Apa endapan kopi itu baru saja berbisik kepadanya? Konyol!
Tapi, dia orang yang baik,” sambung Bu Camay.
“Kalau Fairuz?” Ayi melanjutkan dan mulai mengabaikan seolah dialah yang minta diramal sekarang.
Aku menghela nafas lelah. Sungguh, Talisa tidak suka nama itu disebut-sebut. “Ayi ...,” Talisa mulai merengek supaya dia berhenti bicara.
Bu Camay kembali ke cangkir kopi. “Orang ini tidak ada,” katanya dan Ayi menoleh pada Talisa dengan heran. Seolah Talisa berbohong tentang kesalahan terbesar dalam hidupnya yaitu Fairuz. Mereka mulai menatap Talisa curiga, entahlah, ia hanya ketakutan setiap mendengar nama itu.
“Dia sudah tidak ada,” jawab Talisa. “Meninggal.”
Ayi tampak terkejut lagi. Talisa memang tidak pernah bilang kalau Fairuz sudah meninggal dunia dengan cara yang tragis, semata-mata karena Talisa tidak ingin mengingat apa yang sudah orang itu lakukan padanya.
“Sudah, nggak ada gunanya dilanjutkan!” putus Talisa sambil berdiri. Menolak untuk diramal lagi, karena ternyata ini hanya membuatnya membicarakan sesuatu yang sudah berlalu.
Talisa tidak mempercayainya. Sama sekali tidak. Setelah keluar dari rumah si peramal, Talisa masih tidak habis pikir dengan apa yang sudah ia lakukan –meramal dan mulai mempercayai ramalan itu hanya karena bisa menebak dengan benar apa yang telah ia lalui? Entah. Talisa jadi kesal pada dirinya.





Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments