[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch. 1 (2/4)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
“Kamu nggak mau ke dukun?” tanya Ayi setelah Talisa bercerita panjang lebar tentang kelakuan Arun, sang pacar, akhir-akhir ini terhadapnya. Talisa hampir menangis saking sedihnya, tapi karena sahabatnya itu menatap dengan skeptis, ia hanya bisa melengos.
Talisa mengernyit, lalu membelalak. “Dukun?” dikiranya itu saran yang paling tidak masuk akal dari orang yang se-logis Ayi.

“Ya, kamu kan bisa cari tahu apa yang bikin nasib kamu selalu apes,” jelas dia. “Bisa jadi sesuatu yang bersifat mistis ...,”
Talisa malah tertawa terbahak-bahak. “Jaman sudah secanggih ini masih percaya dukun?” balasnya. “Kamu nggak punya saran lain? Aku mana pernah percaya sama dukun?”
Ayi mendengus. “Kamu sama apesnya seperti Kinan,” katanya. Kinan adalah adik perempuannya Ayi. “Kemarin Ayi dan ibuku pergi ke Pariaman, ketemu sama orang pintar.”
“Ayi, Ayi, kalau orang pintar harusnya jadi dokter bukan jadi dukun ...,” balas Talisa tertawa dan dia masih menatapnya gusar. “Aku nggak percaya sama omongannya dukun.”
Ayi menghela nafas lagi. “Aku hanya heran dan nggak habis pikir. Perempuan seperti kamu lho, masa masih ada juga yang tega menyakiti?” kata dia kembali menatap seolah Talisa tahu jawabannya tapi selalu berusaha mengingkari.
Talisa hanya angkat bahu sambil kembali melengos.
“Tapi, nggak ada salahnya kamu coba-coba tanya paranormal. Katanya aura negatif di sekitar seseorang bisa mempengaruhi nasib orang itu sendiri.” Ayi masih tampak belum menyerah.
Ya, Talisa terdiam. “Mungkin ini proyeksi dari kejadian di masa lalu,” katanya tiba-tiba menjadi murung. “Kalau orang Hindu bilang ada karma. Mungkin ini kesalahan di masa lalu yang harus dibayar.”
“Kamu?” Ayi kembali mengerutkan dahinya. “Kamu menjahati orang?”
“Ya,” jawabnya sembari memblokir ingatan yang seketika keluar di benaknya tentang seseorang yang dulu pernah dia sakiti. “Bisa jadi.”
“Kamu pernah mencampakan orang? Pernah selingkuh? Atau pernah meninggalkan dengan cara yan menyakitkan?”
“Nggak. Nggak satu pun dari ketiganya ...,” jawabnya mulai melantur. Tapi, Talisa menyadari ia memang pernah melakukan hal yang lebih buruk dari itu dan dia sendiri nggak pernah mau mengingatnya.
Ayi masih menatapnya lekat-lekat seakan tidak percaya. Seolah dia seorang psikolog yang ingin mendalami cerita dari pasiennya, “Masa?”
“Iya, sungguh ...,” jawab Talisa meyakinkan.
“Pasti ada sesuatu, Talisa. Terus kenapa kamu sampai bilang ada kesalahan di masa lalu yang harus dibayar?” desaknya. “Kalau menurut getaran yang aku rasakan dari pengalaman kamu yang apes itu, sepertinya kamu dikutuk.”
Talisa pun terbahak. “Dikutuk?” celetuknya, meski di dalam hatinya ia tidak bisa mengingkarinya. “Ya nggak mungkinlah! Memangnya Malin Kundang apa?”
Ayi diam beberapa saat. “Ya, bisa saja kutukan mantan yang sakit hati,” katanya lalu tertawa.
“Memang sih aku punya hubungan dengan banyak orang dulu, dan semuanya nggak bertahan lama. Mereka pasti mengira kalau aku sinting.”
“Kenapa?”
Cinta pertama Talisa adalah orang yang menurutnya paling sempurna di dunia. Dari segala hal, Talisa pikir dia adalah semua yang ia inginkan. Sayangnya, orang itu tidak pernah menjadi miliknya dan Talisa merasa bahwa ia akan mencari orang seperti dia. Tapi, dia tidak pernah ada di dalam diri siapapun. Satu kali Talisa memilih orang yang salah karena pelarian darinya tapi malah mengirim dirinya ke dalam neraka. Setelah itu, Talisa tidak pernah lagi mempertahankan seseorang untuk berada di sisinya jika menghadapi masalah sehingga orang dengan mudah meninggalkan dirinya.
Di samping itu, sebenarnya Talisa mempunyai ketakutan terpendam di dalam dirinya yang tidak ingin ia ceritakan pada siapa pun. Bahkan alam bawah sadarnya saja menolak hal itu pernah terjadi. Dan mungkin saja, karena hal itulah Talisa selalu merasa gelisah setiap ia meulai sebuah hubungan dengan seseorang.
“Kok diam sih?” tegur Ayi.
Talisa segera sadar dan merasakan bulu romanya merinding entah karena apa. “Ah, nggak kok,” jawabnya.
Handphone Ayi tiba-tiba berbunyi. “Ada SMS,” kata dia buru-buru membacanya. Hanya butuh waktu kurang dari satu menit sampai ia memberitahu Talisa bahwa suaminya datang untuk menjemputnya. Lalu dia meninggalkan gadis itu sendiri ...





Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments