๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Apa sih ini?," Natha kembali menggerutu, setelah memuntahkan makanan yang baru ia cecap sedikit dengan perasaan nggak yakin. "Nggak enak!”
“Itu cuma nasi goreng," jawab Rory santai. "Aku nggak tahu apa yang kamu suka”
“Harusnya kamu tanya dulu! Aku mana bisa makan makanan seperti ini!," tuntut Natha, meninggalkan makanannya dengan beringsut ke sudut ruangan, merajuk seperti anak kecil yang manja.
Rory tetap cuek. "Nggak ada istilah ‘harusnya’ aku begini atau begitu," kata Rory. "Aku kan bukan pacar kamu”
Natha merengut lagi, menatap dengan wajah cemberut. "Kamu....memang nyebelin!," teriaknya karena nggak ada lagi yang bisa dikatakan untuk mengungkapkan betapa buruknya tabiat cowok ini.
---
“Apa lagi?," cetus Rory, yang jadi nggak bisa menghabiskan nasinya, kehilangan selera. Ia berdiri dan melangkah ke dapur untuk minum dan menghilangkan rasa makanan yang masih tersisa di mulutnya. “Memangnya kamu mau makan apa?”
Natha nggak menjawabnya.
Rory kembali ke ruang depan dan sudah menemukan gadis itu gelisah memandangi kedua tangannya. "Ada apa sih?’, ia bertanya sambil menghampiri untuk melihat lebih dekat apa lagi yang dia permasalahkan kali ini.
“Itu nasi apa sih?," gerutunya cemas, memandangi kedua lengannya yang memerah.
“Nasi goreng," jawabnya berusaha tenang, saat bengkak mulai terlihat di kedua siku Natha.
“Nasi goreng apa?," desaknya, memandang Rory tegang, seolah tubuhnya akan segera melepuh hanya gara-gara salah makan.
“Ya nasi goreng," jawab Rory, apa lagi yang dia tahu selain nasi itu digoreng dengan sedikit cabe dan bumbuan yang entah apa namanya. Rory nggak melihat bagaimana tukang masak membuatnya, ia hanya menunggu dan bungkusan styrofoam itu sudah ada di dalam kantong plastik dan membawanya pulang.
“Itu pasti ada dagingnya!," Natha semakin histeris.
“Kamu nggak bisa makan daging?," tanya Rory.
“Aku nggak bisa makan daging!," serunya tambah cemas dan geli pada tangannya yang membengkak.
Dia seperti ikan mas, kalau nggak ada yang memberinya makan atau mengganti airnya, pasti mati.
---
“Kamu mau ke mana?," tanya Natha berpura-pura nggak mau tahu tapi dia penasaran saat melihat Rory keluar bersama kantong plastik besar berisi pakaian kotor yang baru ia bereskan dari kamar.
“Laundry," jawabnya sambil menyeret kantong berwarna biru itu keluar.
“Kamu ke laundry setelah biarin aku nyuci dari pagi buta?”
Rory menghela nafas. "Kamu nggak bilang," jawabnya seraya melangkah keluar rumah.
Natha berlari keluar dari kamar, melihatnya menaikan kantong itu ke atas motor, mengaturnya dengan baik supaya nggak terjatuh saat dia membawanya.
Rory juga nggak mengatakan apapun saat dia hendak meluncur bersama motornya ke binatu. Dia selalu bersikap penuh tanda tanya. Seringainya kadang menakutkan, tapi di depannya, Natha nggak merasa ada bahaya yang mengancam. Rory terlalu cuek. Dia datang, lalu tiduran di sofa untuk nonton TV. Dia juga selalu mengetuk pintu saat masuk ke kamar untuk menumpang mandi, dan dia juga nggak pernah mengunci pintu rumah saat keluar. Membiarkan Natha melakukan sesukanya tapi memang nggak ada yang bisa dia lakukan selain melamun dan mempertanyakan kenapa dia mau saja di sini sementara dia bisa kabur, mencari tempat tinggal lain dan menemukan cara yang lebih mudah mendapatkan paspornya.
Natha memandang layar handphone-nya, berniat untuk menghubungi seseorang yang sudah pasti akan membantu. Tapi, dia urung. Natha menaruh kembali benda itu di lantai, lalu ia berbaring di sisi foto-foto kenangannya yang paling manis.
Dia nggak menyangka keputusan yang dia pikir tepat, meninggalkan Munich, mencari Kevin ke negara asalnya karena berpikir Kevin berat mengakhirinya. Tapi, yang dia temukan nggaklah segampang itu. Sekarang, dia berada di tempat asing. Terjebak dan nggak tahu harus bagaimana. Pulang ke Jerman, atau tinggal di sini, bersama cowok gigolo ini, sama saja.
---
Komentar
0 comments