๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Natha hanya bisa tertawa saat dalam keadaan nggak sadar. Meski begitu ini seperti kejutan di saat Rory mengira saat mabuk, Natha akan mengamuk lebih gila dari yang ia lakukan di rumah mantan pacarnya.
“Minum! Minum!," seru Natha padanya menyodorkan satu sloki tiket pembebasan dari semua masalah di dunia, yaitu mabuk.
Rory menggeleng. "Nggak, sayang. Kalau aku mabuk, siapa yang mau bawa motor? Kamu mau kita berakhir di neraka karena sama-sama teler?," jelasnya, menepiskan gelas itu dari hadapannya. Rory cuma duduk menikmati dentuman musik keras di bawah cahaya warna-warni yang mulai membuatnya pusing.
Natha seperti gadis kecil yang menemukan mainan baru dan nggak ingin dia lepaskan. Memiliki dunia sendiri seperti anak penderita autis, mana peduli semua mata cowok-cowok lapar menelisiknya dari ujung kaki ke ujung rambut. Natha lebih dari sekedar menarik bagi mereka, juga bagi Rory yang lebih suka melihatnya seperti ini, memakai kaos dan celana pendek.
“Ya Tuhan...," gumamnya membuang pandang dari Natha yang tersenyum riang padanya. Takut tergoda pada pesona vulgar dari gadis cengeng, manja dan kasar itu. Dia kembali ke kerumunan penari amatir gila, memandangi gaya mereka yang ajaib terlihat keren bagi satu sama lain. Mereka akan melakukan ini sampai tengah malam. Tapi, ia dan Natha harus segera pergi saat gadis ini masih ingin satu sloki lagi.
“Kamu stalker!," katanya menunjuk Rory tepat ke wajahnya. "Kamu stalker!”
“Ya, paling nggak itu lebih baik daripada kamu bilang aku gigolo, dan kamu tahu, aku bukan gigolo?," kata Rory cuek, sambil menenangkan lalu menarik pinggangnya untuk segera meninggalkan meja.
Natha memiringkan wajahnya dan menatap Rory, sambil menepikan rambutnya ke belakang telinga, dia pasti nggak sadar bicara apa. Natha tertawa lagi. "Aku nggak pernah ketemu orang gila seperti kamu," katanya bertahan di kursinya dan sepertinya betah menjadi sorotan orang lain, yang berpikir mereka gila, saling tarik menarik.
“Kamu yang gila...," gumam Rory.
Usaha Rory gagal, dia membiarkan Natha menunjuk ke bartender untuk satu sloki lagi. "Aku janji ini yang terakhir," katanya meyakinkan Rory dengan manja, mengedipkan sebelah mata hingga cowok itu nggak berkutik. "Aku nggak pernah mabuk, kalau minum kebanyakan aku bisa mati...”
“Oh ya, bagus kalau kamu sadar...," Rory menggeleng sambil duduk di tempatnya kembali, mengawasi mata siapa saja yang belum ditarik dari tubuh Natha. Dia nggak suka, atau inilah resiko membawa seorang cewek cantik ke tempat maksiat. Seperti sepotong daging segar di tengah gerombolan singa lapar.
“Kamu bilang mau balikin paspor-ku, aku harus menikmati saat-saat terakhir dan hebat ini...," katanya,
“Hebat apanya? Kamu mengobrak-abrik isi rumah orang lain seperti banteng Rodeo, kalau dia sadar, kita bisa jadi buronan kelas teri," tukas Rory, tertawa dengan lesung pipi yang terlihat sangat jelas di mata Natha hanya ketika dia sedang mabuk.
Terbayang saat Natha memecahkan setiap kaca yang ada di rumah itu. Menggunting baju-baju branded milik Kevin. Menjadikan parfum mahal milik Kevin seperti obat nyamuk yang ia semprotkan ke setiap sudut. Menggambar pada setiap dinding dengan spidol. Dan membuang sabun dan shampoo ke dalam closet.
Natha menatapnya dengan sedikit lebih tenang sambil berusaha keras untuk tetap sadar, dan antara tahu atau tidak Rory terpaku padanya saat Natha menyentuh lesung pipinya yang dalam dengan ujung jarinya. "Kamu...cowok aneh...," katanya sebelum tangannya yang lemas lunglai jatuh ke atas meja bersamaan dengan kepalanya yang pasti terasa seberat satu ton.
Rory menggeleng-geleng, tersenyum membuang pandang sekali lagi, lalu melirik Natha yang benar-benar mabuk, sekarang. Nggak lama ia memanggil seorang bartender, meminta satu sloki. Bartender kembali dengan permintaan sederhananya, Rory langsung menenggak sampai habis dan mendengar tawa Natha melihatnya menyerah pada ajakan atau...godaan Natha yang membuatnya merinding barusan.
Natha masih tertawa, melihatnya tampak bodoh, karena sentuhan itu. Rory jelas berusaha mengabaikannya dengan satu sloki dan sloki berikutmya.
“Aku nggak mau kita berakhir di neraka...," Natha mengingatkan tapi tawanya seakan mengatakan ‘terserahlah’.
Tapi bagaimana mereka akan pulang dengan keadaan yang sangat sangat mabuk?
---
Komentar
0 comments