๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Apa itu cara kamu menghadapi masalah?," tegur Rory, tiba-tiba ia dan motornya sudah ada di samping Natha yang melotot. “Menganggap nggak pernah terjadi apa-apa?”
Rory kembali, sambil cekikikan melihat ekspresi gusar Natha.
Tapi, Natha nggak terlihat lega, candaan Rory sama sekali nggak lucu! Sekarang hanya punya satu pilihan, memaksa cowok ini mengembalikan passpornya.
“Ayo naik," kata Rory padanya,.
“Apa?," semburnya sebal, menolak dengan tegas. Mempertahankan seluruh sisa harga dirinya –yang nggak akan naik motor seorang berandal dan lagipula, gaun putih ini nggak cocok untuk naik motor.
Natha melanjutkan langkahnya, berpura-pura nggak peduli. Ia mantap keluar dari area parkiran dengan caranya sendiri.
Rory dan motornya mengejar lagi, dengan sengaja. "Kamu nggak kenal siapa-siapa selain aku sekarang. Atau kamu mau ketemuan sama mantan pacar kamu lagi? Aku kan udah bilang, kalau kamu ikutin semua mau aku, paspornya pasti aku balikin”
Natha menyipitkan mata, terbayang sudah apa yang sedang dipikirkan cowok ini terhadapnya. “Aku lebih baik mati daripada naik motor kamu, tau?!”
“Banyak cewek yang mau duduk di sini, tau nggak sih?," celetuk Rory lalu tertawa lagi.
“Aku tetap mau lapor polisi! Aku bakal bilang kalau kamu pemeras!”
“Memangnya kamu tahu betul nggak sih siapa orang yang mau kamu laporin? Kamu bahkan nggak tahu aku ini siapa. Aku ragu kamu masih ingat namaku. Lagian apa semudah itu kamu mau nuduh orang memeras?,"
“Kamu merampas pasporku!”
“Kamu nggak punya bukti, aku udah bilang!," Rory tertawa puas, melihat cewek ini bertambah kesal. "Sekarang, terserah deh! Kamu juga nggak punya pilihan lain,," katanya acuh, “Kamu ikut aku atau... terlantar di jalanan yang nggak kamu kenal dan jadi sasaran empuk preman lain?”
Natha menghembuskan nafas lelah sambil memutar matanya, lalu menyapukan rambutnya ke belakang dan bertolak pinggang, memandangi motor Rory yang meragukan.
Rory menggeleng-geleng. "Ya ampun... kamu punya baju yang modelnya begitu berapa banyak sih?," gerutunya mengejek, memandangi Natha dari ujung kaki ke ujung kepala.
Natha yang memakai sepatu flat dan gaun putih tanpa lengan yang panjangnya selutut, dan rambut panjangnya tergerai melewati punggung.
“Atau kamu memang nggak pernah ganti baju?," ejeknya lagi.
Wajah Natha makin cemberut, setelah harus memikirkan cara naik motor ia masih harus mendengar ocehan berandal ini lebih banyak. Ia bertahan, menelan ludah sementara cowok itu kembali memperlihatkan seringainya yang penuh arti, bagai serigala jahat yang akan memangsa si kerudung merah.
“Duduk menyamping itu sama sekali nggak aman," kata Rory mengeluh setelah Natha duduk.
Natha menarik gaunnya ke bawah karena nggak ingin semua mata memelototinya sepanjang jalan.
Rory menggeleng lagi di balik helm-nya sebelum ia memutar gas sehingga Natha terkejut dan berteriak, tanpa sadar mencengkram pinggang berandal itu. “Aku kan udah bilang, itu nggak aman," katanya, sengaja membuat Natha tambah cemberut padanya.
Brengsek!, ucapnya dalam hati dan terpaksa terus mengalungkan tangan kanannya ke tubuh cowok itu .
---
“Ini rumahku," kata Rory, setelah membukakan pintu untuknya dan mempersilahkan Natha masuk lebih dulu. "Kamu masih punya pertanyaan?”
“Ini dibilang rumah?," Natha kembali memperlihatkan ekspresi menjengkelkannya yang terlihat seperti perasaan jijik.
Rumah Rory kecil, hanya ada 3 ruangan yang nggak terlalu besar. Terdiri dari ruang depan, kamar tidur dan dapur. Nggak ada perabotan yang ‘wah’; hanya TV flat kecil dan sebuah sofa berwarna merah di atas karpet coklat yang agak lusuh di ruang depan.
“Ya aku bilang ini rumah, kalau kamu nggak keberatan," kata Rory. "Semuanya terserah kamu. Kalau kamu mau aku tanggung jawab, cuma ini yang bisa aku lakuin. Aku nggak punya uang buat sewa apartemen khusus untuk kamu”
“Aku nggak mau tinggal di tempat kayak gini," Natha memutuskan sambil melangkah keluar, menyeret koper pink-nya. Ia baru membayangkan tinggal bersama orang nggak dikenal yang belum jelas tujuannya apa di tempat semenyedihkan ini.
“Terserah," Rory nggak peduli. “Aku sama sekali nggak kekurangan cewek untuk pacaran, kalau kamu pikir aku bakal macam-macam sama kamu”
“Gimana aku tahu kalau kamu bukan orang cabul?!," cetus Natha, berbalik memandangnya, menantang dengan sisa keberaniannya.
“O...orang cabul? Kamu bilang aku orang cabul?," emosi Rory terpancing juga dan ini akan menimbulkan perdebatan sengit seperti biasanya.
Natha membalas tatapannya. "Iya!," tegasnya, memandang Rory tanpa berkedip dengan marah dan muka yang merah. “Aku hanya mastiin kalau aku aman di tempat ini sampai passporku kembali!”
Rory menahan nafas, mengendalikan emosinya dengan mundur selangkah, mengalihkan tatapannya dari tatapan menusuk mata bulat Natha. "Oke, semuanya terserah," katanya kemudian.
“Maksud kamu terserah apa?," desak Natha.
“Terserah mau tinggal di sini, atau mau pergi ke mana pun, atau lapor polisi segala. Tapi, paspornya nggak akan kembali kalau kamu nekat," katanya, menyudahi.
“Apa...? Jangan seenaknya...”
“Cukup, Renatha!," suara Rory terdengar lebih keras. "Take it, or leave it”
Komentar
0 comments