๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Apa lagi sekarang?," Natha duduk di depannya, menunggu nggak sabaran agar dia bisa cepat pergi. Lebih tepatnya menghilang, kembali ke negara asalnya, hidup damai setelah semua yang terjadi.
Renatha, bidadari yang punya paspor Jerman, Bahasa Indonesia fasih dan berwujud nona cantik. Dia selalu bersikap seolah dia bangsawan yang tinggi derajatnya. Saat duduk pun dia bahkan tetap mengangkat dagunya seakan sedang menatap semut.
Kalau sikapnya begini, tentu cowok manapun nggak akan tahan dengannya. Walaupun bukan urusannya tapi lelaki bernama Kevin itu sudah mengambil keputusan tepat dengan meninggalkannya. Masalahnya, ini sudah melibatkannya sejak malam ia memukul seorang lelaki yang hanya nggak sanggup berurusan dengan Natha. Sebelum itu, dia pernah dimaki tanpa sebab di bandara karena Natha mengira Rory adalah Kevin, - dari belakang boleh disebut mirip, tapi tampangnya sama sekali nggak. Jauuh sekali!
Dan harus ada yang ‘menjinakan’ Natha.
“Kalau aku suruh datang ya datang," balas Rory cuek dan slengek-an. Duduk bersandar pada kursinya. Rory menyalakan rokoknya sambil tetap menatap ke arahnya.
“Kapan kamu mau balikin paspor-ku?," Natha semakin nggak sabar. Dia nggak mau memesan apa-apa untuk sekedar minum.
“Kamu pikir bisa pergi gitu aja?," balasnya, santai, mengepulkan asap di depan wajahnya. “Setelah kamu melibatkan aku dalam masalah pribadi kamu?”
“Aku nggak pernah ingin kamu ikut campur masalahku! Kamu sendiri yang mau!," cetus Natha kasar. “Kenapa sekarang aku harus berurusan sama kamu?!”
“Wajahku masih sakit," kata Rory..
“Oh ya? Bukannya udah biasa, terus apa lagi masalahnya?," Natha makin ketus.
“Masalahnya sekarang aku belum mau balikin," Rory menegaskan.
“Kenapa? Lalu aku harus apa supaya kamu mau balikin?," Natha menantang. Melipat kedua tangannya di dada, ia memalingkan wajahnya dengan sombong, seakan masih punya senjata terakhir menjawab Rory, “Tapi, terserah, jika visa-nya habis, aku cuma tinggal nunggu dideportasi dan masalahnya selesai”
Rory kembali menyeringai, menatapnya nggak percaya; cewek ini lebih keras kepala dari yang dia pikir.
Natha, berdiri dari kursinya. "Aku nggak percaya ini...," gumamnya. Tampak ingin pergi dan berusaha nggak peduli.
“Ini jadi nggak seru lagi. Aku bakal balikin," kata Rory, dan Natha segera berbalik ke arahnya. “Tapi, kembali ke Jerman dengan keadaan seperti itu, aku nggak yakin kamu masih hidup seminggu lagi”
“Maksud kamu apa sih?," raut Natha berubah jadi gusar setelah sesaat ia terlihat sangat lega. “Aku nggak akan bunuh diri, itu konyol!”
Rory berdiri dari kursinya. "Jauh-jauh datang ke sini, tapi malah diperlakukan seperti itu sama orang yang kamu cintai, kamu nggak punya harga diri?," ejeknya.
“Apa hubungannya sama harga diri?," Natha terdengar ketus. “Lagipula itu juga sama sekali nggak ada hubungannya sama kamu”
“Dia brengsek, kamu tahu itu tahu dan harusnya kamu membalas," balas Rory.
Natha tersenyum. "Kamu nggak tahu apa-apa soal aku!”
“Ya udah, good luck deh!” kata Rory, membiarkannya dengan memandanginya saja tanpa beranjak dari kursinya.
Natha masih berdiri, menarik nafas panjang lalu menghembuskannya, sambil mengusap rambutnya dan kembali menatap Rory. "Apa sih yang kamu mau dari aku?!," ia bertanya.
Rory tersenyum sinis, membuang pandang sebelum matanya kembali pada wajah gusar Natha. "Sederhana," katanya santai, menghisap rokok dan menghembuskan asap lewat hidungnya. "Jangan mandangin aku dengan cara kayak gitu lagi," ujung jarinya menunjuk lurus tepat ke wajah Natha.
“Aku nggak ngerti," cetusnya. “Sinting!”
“Pertama, aku belum terima kamu maki aku di bandara, nggak minta maaf, dan juga nggak bilang terima kasih, saat kamu nyaris diinjak-iinjak sama cowok itu," kata Rory. “Dan aku paling nggak suka diperlakukan seperti ini, apalagi sama perempuan”
“Oh ya? Aku pikir kamu menghormati perempuan dari cara kamu membelaku, tapi ternyata aku salah,"
“Nggak, kamu nggak salah soal itu. Aku nggak suka lihat perempuan disakiti. Tapi,… aku pikir kamu pengecualian”
“Apa? Kamu mau apa?," Natha terdengar panik.
Rory bersiap untuk pergi setelah menaruh puntung rokoknya di asbak. Dia melangkah, meninggalkan Natha yang belum bisa ke mana-mana. Rory kembali menyeringai padanya, melewatinya.
Terpaksa Natha, mengikutinya dan entah ke mana. “Tunggu!," serunya.
Rory terus melangkah, membuatnya tampak bodoh, mengikutinya. Lalu tersenyum, dan ini akan segera menjadi seru, ‘mengurung’ seorang bidadari cantik.
Tapi, Natha menghentikan langkahnya, menatap punggung cowok itu menjauh, meninggalkannya di belakang. Lalu berpikir, cara apa yang bisa ia lakukan untuk membebaskan diri dari berandal gila itu. Ia tahu tengah dipermainkan.
“Aku kehabisan uang," jawab Natha, cuek sambil menengadahkan tangannya.
Rory mengerutkan dahinya, nggak percaya. "Kamu? Kehabisan uang?,"
“Aku harus bayar hotel," jelasnya, membuang pandang, nggak mau tahu. "Ini nggak akan terjadi kalau kamu nggak menyita paspor-ku”
“Kalau aku nggak punya?," tantang Rory
“Kamu menahan aku karena suatu alasan yang aku nggak ngerti, dan demi alasan itu kamu harus tanggungjawab," katanya, mendesak. "Uang!”
“Sayangnya aku memang nggak punya," jawab Rory sesantai sikapnya sambil ngeloyor pergi. “Aku ini nggak sama seperti anak mami waktu itu yang pernah kamu pacarin”
“Omong kosong!," Natha mengikuti langkahnya. "Kamu bakal bayar semua yang kamu lakuin hari ini sama aku! Ngikutin cowok gila seperti kamu... ini nggak pernah terjadi dalam hidup aku sebelumnya!”
“Aku udah bilang, aku nggak punya uang," Rory bersikeras sambil tetap berjalan.
“Lalu aku harus gimana?," tanya Natha, menyusul lebih cepat sampai langkah mereka sejalan. “Kamu nggak bisa perlakukan aku seenaknya, aku mau lapor polisi!”
“Kamu tahu aku pernah berurusan sama polisi, urusan yang rumit seperti kemarin aja aku bisa lepas, apa lagi hanya tuduhan yang nggak ada buktinya”
“Nggak ada buktinya? Kamu merampas tasku!,"
“Terus ada yang lihat aku ngelakuinnya?”
Natha cemberut. "Kamu mau apa sih?," tuntutnya tetap membuntuti Rory yang sedang menuju ke parkiran motornya. "Sampai kapan sih aku harus begini?”
“Sampai aku capek," jawabnya, menoleh sebentar setelah menemukan motornya di antara barisan yang tampak rapat dan Natha kesulitan mencari jalan untuk menyusulnya.
Rory baru saja meloncati pagar pembatas.
Apa dia akan pergi? Dininggalkan lagi seperti sampah di pinggir jalan?
“Aku harus check out hotel! Kamu pikir mau sampai kapan tinggal di hotel! Dan aku nggak kenal siapa-siapa di tempat sial ini!," gerutunya sambil mencari jalan lain untuk sampai ke tempat Rory dan motornya. "Kamu nggak akan dapat apa-apa dari semua ini, cepat balikin pasporku dan aku akan menganggap ini nggak pernah terjadi!”
Rory nggak menjawab, dia memundurkan motor besarnya dari barisan lalu menyalakan mesin, sedikit memutar gas sambil memandang ke arah Natha di seberang pagar pembatas yang berusaha menyusul sebelum ia benar-benar pergi.
“Heh, tunggu!," panggil Natha saat Rory akhirnya mengebut, menuju keluar dari area parkir dan usahanya kali ini gagal.
---
Komentar
0 comments