๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Rory mematikan TV yang berisik dan membanting remote-nya ke karpet yang terbentang di depannya. Ia berusaha keras untuk tidur, mungkin dalam keheningan akan sedikit membantu. Ia sudah mematikan semua lampu dan sekarang dirinya, dalam gelap tanpa suara, berusaha memejamkan mata.
Tapi, kejadian lama seperti menghantuinya kembali, terpapar pada kegelapan, menerangkan kembali bagaimana semuanya terjadi dari awal sampai akhir.
Chris menelpon berkali-kali sejak ia mencoba tertidur tapi belum mendapatkan kesempatan itu. Ia mengajak berdebat dalam beberapa SMS dan memberitahu Uki nggak mau bicara ataupun bertemu dengannya lagi.
Rory nggak habis pikir, dalam beberapa hal Chris bisa sangat bodoh. Ia cukup maklum selama ini dia hanya tahu stetoskop dan jarum suntik. Rory nggak menanggapi semua itu dan berusaha menenangkan dirinya sendiri. Pantas Uki menolaknya lagi...
Setiap memikirkan Uki, ia nggak tenang. Setiap mengingat Uki, siksaan kembali datang. Rory masih tersesat dan setiap kali ia berusaha mencari jalan keluar dari labirin itu, ia bertemu jalan buntu. Uki meninggalkan pertanyaan yang nggak pernah bisa terjawab olehnya.
Tapi, dalam keheningan, samar-samar Rory mendengar sesuatu. Ia baru sadar, lagi, ia nggak sendirian di rumah ini. Ia bangkit dari sofa tidurnya, menatap ke pintu kamar satu-satunya di mana Natha seharusnya sudah tidur jam segini. Ia melihat cahaya lampu membias dari celah pintu.
Natha belum tidur. Ia sadar akan hal itu saat memberanikan diri, membuka pintu itu dengan sangat pelan untuk mengintip. Bidadari itu, duduk pinggir tempat tidur, membelakangi pintu sehingga Rory nggak bisa melihat wajahnya.
Namun, punggungnya tampak gemetaran saat ia berulang kali menyeka wajahnya. Pasti menangis lagi, pikirnya. Lalu dengan pelan pula ia merapatkan pintu dan membiarkannya.
Sampai saat ini, ia nggak mengerti dengan cewek itu. Sudah tahu nggak suka di sini, dia masih bertahan untuk menantangnya. Andaikan dia bisa sedikit berterima kasih padanya, semuanya pasti akan lebih mudah. Tapi, jika Rory mengembalikan paspornya begitu saja, kejadiannya akan berbeda. Dia nggak akan terlibat dalam urusan pribadi orang lain, semakin jauh. Karena Rory sudah memikirkan cara untuk membalas Kevin. Sebuah rencana yang pasti akan membuat Natha terkejut. Setelah itu, Rory akan melepaskannya...
---
“Kita mau ke mana lagi sekarang?," Natha nggak pernah berkata dengan cara yang lebih baik padanya. Selalu penuh dengan amukan seolah Rory memintanya melakukan hal yang paling nggak masuk akal, –mengenakan setelan kaos hitam dan celana pendek milik Rory.
Rory mencela gaya berpakaiannya lagi.
“Kita mau naik motor," jawab Rory meletakan setelan itu di atas tempat tidur. "Kamu masih ingat saat kamu hampir jatuh pakai baju cantik itu sambil menahan belanjaan di atas motor?”
Natha memutar matanya, dia belum menyerah untuk nggak mengikuti kemauan Rory sekali lagi terhadapnya. Dia nggak akan membiarkan Rory memaksanya lagi, apalagi soal berpakaian. Belakangan ini dia terlalu takut bila paspor-nya nggak pernah dikembalikan dan sadar passpor adalah password bagi Rory untuk membuka ‘sistem kerja’-nya.
“Aku capek," kata Rory padanya setelah menghela nafas. "Begini aja, setelah ini aku balikin paspornya, gimana?”
Natha nggak langsung percaya, cowok ini licik dan nggak bisa dipercaya. Menginginkan dirinya di sini, tapi malam itu dengan jelas dia tertarik pada cewek yang dia temui di parkiran mall bersama cowok lain. Natha melihatnya kemarin. Sejak malam itu, Rory menjadi pendiam. Apa untungnya bagi Rory menawan dirinya?
”Aku juga capek, sama seperti kamu," Rory berkata dengan lebih tenang. "Aku janji setelah ini paspor-nya aku balikin”
Natha mengernyit. "Kalau kamu ingkar janji?,"
“Aku jadi anak anjing deh," katanya tersenyum dengan lesung pipinya.
Natha membuang pandang, betapa ingin ia tersenyum, karena semua ini akan segera berakhir. Tapi, itu adalah kelemahan yang nggak boleh ia perlihatkan pada cowok yang pasti penuh dengan akal bulus ini.
---
Natha nggak tahu ia berada di mana.
Rory memarkir motor di parkiran khusus motor dan sisanya mereka berjalan kaki melewati komplek perumahan bergaya Mediteranian yang pastinya hanya dihuni oleh orang-orang yang kelebihan uang dalam hidup mereka. Di mana mobil-mobil mewah diparkir di setiap garasi dan Natha nggak terlalu antusias, dengan lingkungan yang asri beserta patung-patung dan air mancur yang menjadi ikon real estate ini.
Akhirnya, mereka tiba di depan sebuah pintu.
“Jangan bilang kamu mau mengurung aku di sini sekarang," Natha mengernyit padanya saat Rory mengeluarkan kunci untuk membuka pintunya.
Lalu keduanya masuk dengan Natha terlebih dahulu, agar ia melihat apartemen ini bukan miliknya, tapi milik orang lain dan entah dari mana Rory dapatkan kuncinya.
Natha terkagum melihat interior-nya yang sederhana dan klasik, ini mengingatkannya pada seseorang.
Kevin! Ini rumahnya Kevin!
“Ini gila!," teriaknya pada Rory yang sudah mengantisipasi akan mendapat reaksi itu dari Natha ketika mengetahui ia telah menemukan cara yang cocok untuk melampiaskan kekesalan. Dan balas dendam.
“Lakukan apa yang mau kamu lakukan sekarang," kata Rory, mempersilahkan Natha untuk merusak apa saja yang dia inginkan.
---
Komentar
0 comments