๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Aku juga punya adik cewek, untungnya kita beda jauh dan nggak pernah memperebutkan cowok yang sama,," komentar Natha, saat Rory masuk ke dalam dengan wajah lesu. Ia sedang makan roti selainya seperti balita. Dengan mengenakan pakaian kesukaannya. “Kakak beradik yang ditolak oleh orang yang sama, itu kutukan!”
Rory melompat ke sofa empuknya dan berusaha untuk mengambil ketenangan dari suasana hening di rumahnya. Mengabaikan Natha yang makin lama makin jago meledek soal kehidupan pribadinya.
Natha mendengar semuanya dari dalam di saat ia harus sembunyi dari semua orang yang datang. Namun, juga sudah terbiasa dengan suasana saat Rory pulang dalam keadaan lelah, marah ataupun senang, dari menguntit atau dari mana saja dengan motor-nya berbunyi nyaring dan membuatnya terbangun; mengusir kesunyian yang terasa memilukan di sini.
“Aku nggak tahu itu," balas Rory yang menanggapinya dengan malas. Sambil bangkit kembali untuk duduk. "Aku mau keluar, kamu ikut nggak?”
“Naik motor?," Natha mengernyit. "Kayaknya nggak”
Rory menghela nafas, sambil berdiri.
Natha meliriknya sambil menyeka selai berwarna merah yang melekat di bibirnya. "Jangan bilang aku harus nurut sama kamu lagi," ucapnya, menantang.
Dunia ini selalu penuh dengan orang-orang yang menantangnya, pikir Rory tersenyum sendiri, lalu melirik Natha yang menatapnya dengan pandangan melecehkan. "Harusnya, karena kamu tinggal di rumahku," ia menegaskan. "Tapi, apa boleh buat, aku ngabisin energi dua kali lipat hanya untuk bicara sama kamu, belum lagi kalau ujung-ujungnya jadi ribut…sekarang terserah kamu aja. Aku nggak mau capek”
Natha berusaha untuk nggak merengut, dia balas tersenyum. "Oh ya?”
Rory segera berlalu dari hadapan Natha menggenggam kunci motornya. “Bye, Princess…," katanya sebelum menghilang di balik pintu.
---
“Aku baik-baik aja…aku bukan anak kecil lagi…," itu terdengar seperti meyakinkan seseorang. Gadis itu bisa juga berbicara dengan lebih lembut, tapi pada siapa? “Jangan berlebihan…iya iya, aku tahu kok…”
Rory berdiri di pintu kamar menunggunya selesai dan Natha terperanjat melihatnya.
Natha baru saja menghubungi seseorang dengan handphone yang langsung ia sembunyikan begitu melihat Rory.
“Jadi itu adik cewek yang kamu ceritain?," tegur Rory dengan santainya masuk tanpa izin apalagi menguping pembicaraan. "Apa dia antik…dan nggak masuk akal seperti kamu?”
“Jangan mulai," tukas Natha berdiri merapikan pakaiannya dan berjalan melewati Rory menuju dapur. "Aku lagi malas ngeladenin kamu”
“Tapi, kamu harus sering berurusan sama aku. Ingat, Renatha," Rory mengikutinya sampai ke dapur, melihatnya mengambil roti untuk diolesi selai sebagai makan malam. "Serius, mau makan itu tiap hari dari pagi sampai malam?”
“Enak makanan cuma sampai tenggorokan, kamu tahu?," tukasnya, membuka tutup selai strawberi dan menyiapkan pisau untuk mengolesnya di atas roti gandum. “Yang penting nggak mati kelaparan di tempat kayak gini”
“Oke! Oke!," Rory tertawa di sela kata-katanya. "Aku juga nggak mau kita berdebat lagi sekarang”
“Terus?," Natha meliriknya sejenak sebelum menyelesaikan roti isinya.
“Kita keluar gimana?," ajak Rory dengan lebih bersahabat, dan ramah. “Hitung-hitung awal yang baik karena sekarang kita tinggal serumah tanpa ikatan”
“Ada masalah sama ikatan? Lagian apa itu penting?”
“Ini bukan Jerman, atau negara barat lain yang nganggap hal ini biasa," Rory menjelaskan saat Natha melangkah ke ruang depan lalu ke kamarnya. “Kamu nggak sadar kita kelihatan aneh?!”
“Nggak ada istilah ‘kita’, Mr. Stalker," Natha balas mengingatkan sambil meraih gagang pintu bersiap untuk menutupnya. "Ini konsekuensi atas apa yang kamu perbuat ke aku. Emang kamu nggak mikir sampai ke sana waktu kamu menyekap aku di sini?!”
“Apa?!," Rory tertawa, dan pintu tertutup di depan wajahnya. “Aku nggak menghamili kamu! Kenapa aku harus tanggung jawab?! Jangankan tidur sama-sama, dekat sedikit aja aku langsung dilabrak!”
“Aku nggak suka tato!," teriaknya
“Kamu juga alergi tato selain alergi daging?! Oke, itu jenis alergi yang paling aneh yang pernah aku tahu!," Rory ikut berteriak di depan pintu.
“Aku nggak suka rokok! Aku nggak suka minuman!," balas Natha. "Aku nggak suka stalker, karena itu pekerjaan paling bodoh dan aneh yang pernah aku lihat!”
“Lalu apa kamu mau menjadikan aku cowok abnormal yang disfungsional?!”
Nggak ada jawaban dari dalam.
Sialan, gerutu Rory. “Ini malam minggu! Harusnya kita kencan, ciuman, apapun supaya ini nggak kelihatan aneh!," teriak Rory masih di depan pintu. "Ya ampun, aku jadi ikut-ikutan aneh sejak ada cewek aneh yang dulu ingin pulang dan saat sekarang dia punya kesempatan, malah kepikiran buat balas dendam sama orang yang dia nggak tahu persis seperti apa?!”
Pintu terbuka, ia mendongakan kepalanya keluar. "Yang aneh itu kamu, Mr. Stalker!," tandasnya, dan hendak menutup pintunya kembali. “Kamu yang bikin keadaan jadi begini”
Rory menahannya segera, sebelum tertutup kembali. Mulai tarik menarik. Namun, Rory jauh lebih kuat darinya. Natha langsung mundur beberapa langkah, sebelum pintu itu mengenainya. Natha bersikeras nggak ingin ke mana pun. Wajahnya pasti tampak kesal dan matanya tersembunyi di balik rambutnya yang terurai.
“Oke, Miss Broken Heart. Sekarang keluar dari kamar, kita pergi ke tempat yang lebih asyik," ujar Rory yang tersenyum angkuh padanya. Menunjukan siapa yang berkuasa sebenarnya. “Aku yang punya rumah aja nggak betah tinggal di sini seharian, apa lagi ikan mas kayak kamu…”
“Aku bukan ikan mas!," celetuk Natha menepiskan tangan Rory yang menarik tangannya.
“Oke, Putri Duyung.," Rory lebih sabar dari biasanya. “Ayo kita pergi sekarang”
Putri duyung yang naรฏf merengut, berteriak dalam hati, cowok sinting!
“Kenapa serius begitu sih? Aku cuma bercanda.," ujarnya membujuk saat Natha mendahului langkahnya dengan wajah cemberut.
---
Komentar
0 comments