๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Ada apa sih?”, Laras menanyainya memecah kebisuan mereka dalam keramaian bandara.
Rory nggak menjawab dan sudah memastikan bahwa dia sama sekali nggak mengenalnya. Matanya nggak bisa lepas dari bidadari penuh amarah itu karena dia memiliki tatapan yang nggak semua orang bisa membacanya. Sedih, putus asa dan kecewa. Semua perasaan yang terburuk dan menyedihkan yang pernah ada di dunia ini, yang ingin ia tumpahkan kalau seandainya ia nggak salah mengenali orang.
Tapi, gadis itu tetap mengangkat kepalanya, tampak mempertahankan harga dirinya. Meskipun salah tingkah, dan bingung, itu sikap yang menjengkelkan untuk seseorang yang baru saja tertangkap basah berbuat salah dalam sekejap tapi mencoba untuk nggak peduli. Gadis itu malah pergi! Begitu saja. Pura-pura nggak melakukan apa-apa!
Rory mengernyit, jengkel. Beberapa saat ia berusaha menerima bahwa nggak seorang pun dari mereka yang menginginkan hal ini terjadi. “Cewek sinting...”, gumamnya sambil menggeleng-geleng. Cakep-cakep sinting...
“Lo yakin nggak ada hubungan apa-apa sama cewek itu?”, Laras menjadi sangat penasaran. Sambil menyikut Rory ia tertawa megejek dan Rory berusaha untuk acuh, meskipun kejadian barusan jelas-jelas sangat mengganggunya.
Rory tertawa kecil, “Apaan sih?”, cetusnya jenaka, “Cewek model begitu, bisa kurus gue...”
Erris ikut tertawa, mengikuti mereka menuju parkiran.
Rory hanya sedang sial.
“Gimana penerbangannya? Lo nggak jetlag kan?”
“Ya enggaklah! Nggak seru-seru amat sih...”, jawab Laras sambil merangkulnya sebentar sambil tersenyum, “Daripada cewek itu balik lagi mending kita cabut aja yuk”
Rory belum bisa melupakan kejadian barusan. Semua orang bisa saja salah mengenali orang. Tapi, sejenak ia menoleh ke belakang tempat cewek itu menghilang di antara orang-orang yang lewat. Ajaibnya Rory bisa dengan mudah menemukannya kembali.
Seorang cewek, bertubuh sedang, mengenakan gaun putih. Ia duduk di salah satu kursi tunggu dengan sebuah koper pink, tampak mencari-cari sesuatu di sekitarnya. Seperti sedang menunggu seseorang yang akan menjemputnya tapi nggak kunjung datang.
Secara keseluruhan, cewek itu cantik. Sisanya, Rory berpikir, dia pasti tipe yang nekat dibalik kelembutan seorang bidadari yang baru terhempas dari surga.
---
“Laras baru datang, mungkin kita bisa ketemu nanti”, Rory tengah bicara di telpon.
Erris meliriknya dan mengernyit, seolah Rory berurusan dengan seorang yang ngotot tanpa peduli siang malam atau sesibuk apapun Rory dengan dirinya.
“Rory punya pacar sekarang?” tanya Laras yang duduk di belakang dengan santai.
“Boro-boro pacar...”, jawab Erris pelan, meledek dan Rory mendengarnya dengan jelas lalu memutar matanya.
Laras tertawa, “Masih gitu-gitu aja sama Uki?”, celetuknya.
Erris diam. Sedikit merengut saat melihat Rory sekilas sebelum perhatiannya kembali ke jalanan.
“Kamu sudah makan siang belum?”, tanya Rory, suaranya mengisi setiap kekosongan di mobil Erris yang melaju dengan kecepatan normal, “Aku masih di perjalanan ke tempatnya Damar… Ya sih, bolos lagi,…oh ya?... mungkin nanti setelah selesai… aku ada kerjaan sedikit…oke, sampai ketemu lagi…”
Erris nggak komentar, di saat Rory nggak menganggap ada orang lain di dekatnya. Mendengar nada suaranya merendah bila bicara sama cewek itu. Dan nggak bisa diingkari, Rory cowok penyayang yang jarang ada, apa lagi sama cewek, anehnya dia nggak tertarik sama siapapun selain Uki, cinta pertamanya. Tapi, ia memiliki dunia sendiri yang nggak banyak diketahui orang. Selain menjadi berandal, pembuat masalah, dan ugal-ugalan, dia juga punya segudang masalah. Masalah yang Rory tahu yang nggak ingin pergi dan terus mengikutinya kemanapun ia pergi. Seakan memeluknya sampai akhir.
Meski berusaha menganggapnya nggak pernah ada. sekalipun tinggal sendirian sekarang. Tempat tinggal yang hanya punya satu kamar dan perabotan seadanya. Belakangan ini setiap pagi pula, Bu Endang datang untuk menagih uang sewa yang sudah menunggak dua bulan. Rory sudah meyakinkannya kalau dia akan melunasinya sebelum menjadi tiga bulan. Uang semester kuliahnya juga yang harus dibayar sebelum ujian. Dia juga punya tagihan listrik, air dan cicilan motor yang baru ia beli sekitar enam bulan lalu, saat semua fasilitasnya di-‘tarik’ dan ayahnya ‘melempar’-nya ke dunianya yang seperti ini.
Masalah yang paling berarti bagi Rory saat ini hanya satu, uang. Sejak ia pergi dari rumah karena diusir ayahnya sebagai pelajaran untuk bisa menghargai apa yang dia punya sebelum semuanya hilang. Rory menganggapnya sebagai tantangan, nggak akan menyerah, nggak akan pulang.
Karena ia mempunyai pekerjaan - yang jarang dilakukan oleh mahasiswa seperti dirinya-. Dia nggak bertarung dan bertaruh, untuk menghasilkan jutaan dalam semalam dengan wajah babak belur. Atau berjudi, walau ia berkali-kali jadi amatir yang beruntung lalu menang banyak. Tapi, dalam semalam juga semuanya habis dengan jalan yang sama seperti saat uang itu masuk ke kantongnya, cepat tanpa permisi. Jadi, Rory berhenti bertaruh untuk hidupnya sejak perjudian yang terakhir berakhir dengan perkelahian dan kantor polisi. Untunglah itu nggak mengakhiri perjalanan untuk meraih gelar SE-nya juga.
Sekarang, ia duduk di klub malam, memeriksa gambar yang ada di SLR-nya –kamera hadiah dari Erris dan Damar setahun lalu saat ultah-nya yang ke 23. Sekarang, ini menjadi benda berharga setelah handphone.
Seorang wanita muda, -usia tiga puluhan mungkin-berambut panjang dan berombak menghampiri.Dia menarik perhatian beberapa pasang mata yang ia lewati demi sampai ke tempat Rory yang sudah menunggu sejak 10 menit lalu. Ia menyapa dengan senyuman dari bibirnya yang merah tua, memperlihatkan gigi putih yang rapi, bahayanya… dia sangat menggoda.
Rory hanya tersenyum seadanya. Tampak buru-buru ingin menyelesaikan pekerjaan ini supaya dia bisa pergi cepat-cepat. Tempat ini membuatnya nggak nyaman, entah kenapa.
Wanita itu mengibaskan rambutnya yang dicat kemerahan, saat duduk berhadapan dengan Rory. Ia mengeluarkan sebuah amplop putih dari tas mahalnya. “Ini hasil kerja kamu”, katanya, sambil menaruh amplop itu di meja setelah memastikan orang-orang nggak sedang memandang ke arah mereka.
Rory mengambilnya dan langsung menyembunyikannya di saku bagian dalam jaket kulitnya. Ia mengamati wajah wanita itu berubah sedih kemudian setelah ia dengan se-percaya diri mungkin melenggok dengan dengan anggun. Ia segera pergi sebelum ada yang menatap mereka curiga.
Tapi, sekarang dia merindukan suara riang Uki.
---
Komentar
0 comments