๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Rory membuka pintu yang lagi-lagi nggak dikunci.
Suasana rumah selalu hening, sekalipun sudah ada orang lain selain dirinya saat ini. TV dimatikan, pintu kamar terbuka sedikit, dan ini nggak biasanya. Dia jarang berada di rumah, tapi sejak ada Natha, dia jadi ingin pulang, hanya untuk sekedar melihatnya tapi Rory mendapatkan lebih karena mereka bertengkar setiap bertemu.
Rory menaruh belanjaannya di atas sofa. Apa yang sedang dilakukan Natha sekarang? Atau jangan-jangan dia sudah kabur. Ia mendorong pintu dan menemukan bidadari itu berbaring di lantai sambil memandangi sebuah foto. Rory kembali menangkap basah dia menangis lagi.
Natha kelabakan, foto-foto miliknya tercecer di lantai yang belum sempat ia kumpulkan.
“Sory!," ucap Rory segera berbalik, menutup pintu rapat-rapat. Lalu mendesah sambil menyandar ke pintu. Dia menangis…
----
Rory menggeleng. "Itu banyak kerutannya," katanya berpendapat, memandangi gaun putih yang dipakai Natha pagi ini.
Natha bersikeras tetap memakainya, hari ini dia nggak berniat ke mana-mana seperti biasa. Ke mana ia bisa pergi? Di Jerman biasanya ia memang lebih suka tinggal di rumah, nggak seperti cewek lain yang sibuk ke salon dan membeli kebutuhan trend. Natha terlihat sangat alami dengan gaun putih-nya yang seringkali membuat Rory merinding menemukannya dalam gelap. Mengira rumah menyedihkan ini ada penghuninya.
Rory hanya lupa, sekarang ia harus berbagi tempat. Berbagi dapur dan kamar mandi. Tapi, rumah ini menjadi sedikit lebih rapi karena Natha tampaknya ingin merasa nyaman dengan suasana yang menurutnya nggak layak.
“Pakai ini," Rory menyodorkan pakaian miliknya, kaos T-shirt berwarna hitam dan celana pendek yang dia pikir muat karena ukurannya agak kecil.
Rory sudah tahu dia akan memberi tatapan skeptis itu lagi, atau berkata ‘lebih baik mati daripada memakai pakaian milik seorang berandal’.
Kali ini, Natha menggeleng. Duduk di sofa nggak menatap ke arahnya sama sekali.
“Ini bersih," katanya meyakinkan. "Cuma sementara”
“Nggak!," teriaknya sambil berdiri masuk ke kamar, membanting pintu dan menguncinya dari dalam.
Rory nggak akan memaksa, itu bukan gayanya. Ia hanya bermaksud baik, membawa semua gaun putih membosankan itu ke laundry untuk disetrika. Natha hanya mencuci bajunya dengan air tanpa sabun, dan dia terlalu nekat nggak meminta bantuan orang lain.
---
“Aku nggak suka ungu!," teriaknya lalu kembali memanting pintu tepat di depan wajah Rory yang nyaris nggak bisa menahan emosi.
Bagaimana mungkin dia masih bersikap buruk padanya setelah Rory melakukan apa yang menurutnya dibutuhkan? Rory nggak pernah membelikan baju untuk seorang cewek. Hari ini di toko, dia seperti orang bodoh mencari baju ganti untuk Natha dan dia bersyukur saat ada seorang penjaga toko yang memberi saran bagus.
“Baju-baju ngebosenin itu harus dibawa ke laundry! Itu tetap jorok walaupun kamu mencucinya dari pagi buta! Aku cuma bilang pakai sementara bukan selamanya!," teriak Rory dari balik pintu. “Apa kamu nggak tahu caranya menghargai orang?!”
“Pergi!," usirnya, kembali merajuk.
“Oke! Aku bisa pergi! Pulang ke rumahku dan itu urusan gampang!," balas Rory. "Lalu kamu mau apa kalau nggak ada yang ngurusin kamu!”
“Balikin pasporku, semuanya selesai!," teriaknya dengan jelas dan pasti berdiri di balik pintu.
“Nggak semudah itu!," kata Rory, dengan yakin dan sekarang pintu terbuka. “Seseorang harus ngajarin kamu arti terima kasih!”
Natha menatapnya tajam, penuh kebencian dan kemarahan. "Kamu mau apa sih?!," tanyanya lelah berteriak di saat Rory membalas tatapan itu dengan santai.
Rory menyodorkan gaun ungu yang baru dia beli hanya untuknya. "Pakai," katanya, pelan dan tajam “Aku udah bilang semuanya jadi gampang kalau kamu dengarin aku, Princess”
Natha kesal sekali saat mengambil gaun itu dengan terpaksa, kembali membanting pintu, di depan wajah Rory!
Harus ada yang membuatnya berhenti melakukan kebiasaan itu.
---
“Aku nggak mau naik motor kamu lagi," Natha menggerutu memandangi Rory dan motornya yang sudah siap mengebut. Dia sudah mengenakan gaun pembelian itu, dan modelnya agak sedikit panjang supaya dia nggak mennjadi tontonan menyenangkan sepanjang jalan.
“Ini nggak mau, itu nggak mau, harusnya kamu tinggal di gunung supaya nggak perlu menyesuaikan diri sama orang lain," kata Rory, mulai lelah dengan sikapnya.
“Mau kemana?," Natha terdengar ketus untuk kesekian kali.
Rory tersenyum. "Jalan-jalan," jawabnya. "Apa kamu nggak bosan dua hari nggak ke mana-mana”
“Lebih baik tinggal di rumah daripada ikut kamu, dan aku sama sekali nggak tahu apa yang kamu pikirin!," cetusnya.
Rory kembali menarik nafas panjang, menyabarkan hati yang akan memanas lagi. “Kalau kamu tahu apa yang aku pikirin, sedetik pun kamu nggak akan bisa nafas," katanya, menyodorkan helm yang belum sukarela diterima Natha. “Bukannya kamu mau paspor kamu kembali?
Paspor, adalah kata kunci yang tepat untuk membuat Natha yang malas bergerak. Rory tahu ini sedikit jahat, tapi demi kebaikannya juga.
“Pegangan!," katanya sambil menarik tangan kanan Natha yang menegang untuk memeluknya. "Aku bisa dapat masalah lebih banyak kalau kamu jatuh”
“Oh ya? Aku nunggu masalahnya datang," tandas Natha.
“Oke, silakan jatuh dari motor, aku cuma berakhir di kantor polisi, sedangkan kamu...aku nggak tahu," balas Rory, mengingatkan tapi ini ancaman halus untuk ke sekian kali. Kantor polisi adalah temannya, yang diartikan Natha sebagai kriminal kelas berat yang seringkali beruntung karena koneksi keluarga.
Motor melaju dengan kecepatan penuh, dengan sengaja. Dia nggak pernah menikmati hubungan seaneh ini sebelumnya. Dia juga nggak pernah mendapatkan apa yang paling dia suka dengan mudah. Selalu ada tantangan untuk itu.
---
Komentar
0 comments